"Bisa Bapak ikut saya ke kantor sebentar?" pinta sang dokter dengan raut wajah datar yang sulit diartikan.Sebelum Pakde Arga sempat memberikan jawaban, brankar yang membawa tubuh Axel didorong keluar oleh tim perawat dari ruang operasi."Kayla... kamu jaga Axel dulu, ya. Biar Pakde yang bicara langsung dengan dokter," pintanya lembut."Iya, Pakde..."Aku, Hani, dan Kak Rayan berlari kecil mengekor di belakang para perawat yang mendorong brankar Axel menuju ruang perawatan VIP.Setelah petugas medis menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan ruangan, aku langsung menarik kursi, duduk di samping tempat tidur Axel, lalu menggenggam erat telapak tangannya."Axel... lo kuat, kan? Cepatlah sadar..." bisikku seraya menempelkan punggung tangannya ke pipiku, sesekali mendaratkan kecupan hangat di sana.Raut wajahnya tampak begitu pucat membiru. Aku merogoh tisu dari atas nakas, menyapu pelan bulir keringat dingin yang mengembun di keningnya."Kay... lo yang sabar, ya. Axel sosok yang tan
Last Updated : 2026-09-28 Read more