LOGIN"Bisa Bapak ikut saya ke kantor sebentar?" pinta sang dokter dengan raut wajah datar yang sulit diartikan.Sebelum Pakde Arga sempat memberikan jawaban, brankar yang membawa tubuh Axel didorong keluar oleh tim perawat dari ruang operasi."Kayla... kamu jaga Axel dulu, ya. Biar Pakde yang bicara langsung dengan dokter," pintanya lembut."Iya, Pakde..."Aku, Hani, dan Kak Rayan berlari kecil mengekor di belakang para perawat yang mendorong brankar Axel menuju ruang perawatan VIP.Setelah petugas medis menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan ruangan, aku langsung menarik kursi, duduk di samping tempat tidur Axel, lalu menggenggam erat telapak tangannya."Axel... lo kuat, kan? Cepatlah sadar..." bisikku seraya menempelkan punggung tangannya ke pipiku, sesekali mendaratkan kecupan hangat di sana.Raut wajahnya tampak begitu pucat membiru. Aku merogoh tisu dari atas nakas, menyapu pelan bulir keringat dingin yang mengembun di keningnya."Kay... lo yang sabar, ya. Axel sosok yang tan
"Maaf, saya harus segera masuk ke ruang operasi," pamit sang dokter sebelum bergegas meninggalkan kami.Aku, Pakde Arga, dan Hani berlari kecil mengekor di belakang langkah cepat tim medis menuju koridor ruang operasi. Di atas pintu ganda ruangan itu, lampu penanda menyala merah terang—menandakan tindakan bedah sedang berlangsung. Pakde Arga dan Hani akhirnya duduk di bangku tunggu, mencoba bersikap tenang meski raut panik tak sanggup mereka sembunyikan.Sementara itu, aku tidak sanggup untuk sekadar duduk. Aku terus berjalan mondar-mandir di depan pintu seraya menggaruk tepian kukuku gelisah. Sesekali mataku menatap nanar ke arah lampu merah itu, berharap pintu segera terbuka dan dokter keluar membawa kabar baik."Kayla... duduklah dulu. Operasinya pasti memakan waktu lama," pinta Pakde Arga lembut.Aku hanya menggeleng pelan seraya tetap memutar langkah dengan napas sesak. Bagaimana mungkin aku bisa duduk tenang sementara di dalam sana suamiku sedang berjuang mempertaruhkan mas
Tim medis bergegas berlari masuk ke lapangan dan segera memberikan pertolongan pertama. Suara gemuruh penonton seketika surut; seluruh tribun mendadak hening dan sibuk berbisik-bisik cemas menatap ke arah Axel yang terkapar kesakitan.Bersama dengan itu, mataku membeku tak berkedip menatap lurus ke arah suamiku yang mengerang dengan napas tertahan di atas lantai parket.Kedua tanganku saling meremas erat di dada. Xel... bangunlah. Lo pasti kuat, kan? Ayo bangkit dan tuntaskan pertandingan ini!Namun, hingga beberapa menit berharga berlalu, ia tak kunjung sanggup mengepakkan kakinya untuk berdiri. Tim medis mengangkat tangan, memberi kode meminta tandu darurat, lalu perlahan menggotong tubuh Axel keluar dari area lapangan."Huuu..." Sorakan kekecewaan dan simpati membubung dari tribun pendukung Mayapada begitu Axel ditandu keluar. Posisi kapten itu akhirnya terpaksa digantikan oleh pemain cadangan."Axel!!" Aku bergegas menerobos kerumunan penonton untuk menyusul ke lorong pemain
Di sisa waktu kuarter ke-tiga pada menit ketujuh, papan skor menunjukkan angka 49:51 untuk keunggulan tipis Pelita.Aksi pelanggaran kotor yang terus-menerus dilakukan Gio terhadap Axel memicu gelombang protes keras dari pelatih serta seluruh jajaran pemain Mayapada di pinggir lapangan.Protes sengit kepada wasit itu akhirnya dikabulkan. Axel mendapatkan hadiah dua kali tembakan bebas (free throw).Seluruh pemain di lapangan membeku, memfokuskan pandangan ke arah Axel yang tengah bersiap di garis tembakan. Tatapan Gio menyalang tajam, menyimpan rasa tidak suka atas keputusan wasit. Di tribun, aku menangkupkan kedua tangan di depan wajah seraya tak henti memanjatkan doa.Begitu tembakan pertama dilepaskan...Priitt!Bola meluncur mulus menembus jaring. Gemuruh sorak-sorai penonton Mayapada seketika memecah ketegangan di tribun.Skor berubah menjadi 50:51.Aku dan Hani saling menepuk telapak tangan dengan senyum merekah penuh harapan."Satu kali lagi, Axel... lo pasti bisa..."
"Ayo, Kay, kita masuk!" ajak Hani seraya merangkul dan menggandeng tanganku. "Nanti kita nggak dapat kursi yang strategis."Aku terpaksa melangkah mengikuti Hani meski benakku masih dipenuhi rasa penasaran akan gerak-gerik mencurigakan Miko. Namun, desakan antrean penonton di belakang kami menyisakan sedikit pilihan selain bergegas maju.Aku dan Hani akhirnya berhasil mendapatkan tempat duduk di barisan kedua tribun, memberikan jarak pandang yang sangat jelas ke seluruh sudut lapangan.Begitu para pemain dari kedua tim memasuki arena pertandingan, gemuruh riuh dari para penonton seketika memecah keheningan gedung olahraga."Ma-ya-pa-da!"Prok! Prok! Prok! Prok!"Pe-li-ta!" "Pe-li-ta!"Pendukung kedua tim tampak sama kuatnya. Ini benar-benar pertandingan final yang diprediksi akan berlangsung amat panas. Aku bisa merasakan antusiasme membakar dari para penonton di sekelilingku yang sudah tidak sabar menyaksikan bentrokan dua tim raksasa ini.Priiitt!!Wasit meniup peluit panja
Melihat raut wajah Miko yang tampak begitu serius, jujur aku sempat merasa sedikit ketakutan. Namun, aku memilih berpura-pura bersikap tenang untuk melawannya.Aku tersenyum miring, berusaha bersikap sesantai mungkin meski pijakan kakiku terasa amat lemas. "Kamu nggak ada capeknya ya berbuat ulah terus? Mau kamu sebenarnya apa, sih?"Dari anak tangga bawah, ia menatapku tajam menusuk. "Membuat kamu merasakan... persis seperti apa yang pernah aku rasakan."Bersama dengan itu, kakiku terdorong mundur dan mendadak lemas. Aku meremas sisi celanaku dengan tubuh bergetar hebat. "Ancamanmu... nggak akan pernah berhasil padaku, Miko!" sahutku dengan suara bergetar menahan gejolak, lalu segera berbalik badan dan pergi meninggalkannya.Setelah sampai di depan ruang administrasi, aku terduduk lemas di bangku tunggu memikirkan ucapan Miko.Mungkinkah dia benar-benar serius dengan kata-katanya? Tapi... hal buruk apa yang hendak dia lakukan?Aku cukup syok selama beberapa menit dan tak mampu berger







