ログインPagi itu lebih sepi dari biasanya. Michael Yozefa sudah terbang ke luar negeri sejak tengah malam. Mansion yang biasanya kaku itu jadi terasa agak lega, tapi Moara sendiri tidak benar-benar merasa lega. Para pelayan sudah menyiapkan sarapan di meja makan seperti biasa. Wajah Moara tampak lelah dan tak bisa disembunyikan. Semalaman ia hampir tak tidur. Pikirannya terus berputar antara kalimat Marco yang menusuk dan pesan singkat dari Adrian yang masih nempel di kepalanya. Beberapa kali ia melirik ke arah tangga sambil menunggu. Hingga tak lama kemudian, langkah kaki terdengar menuruni anak tangga. Marco muncul dengan pakaian latihan dan tas olahraga tersampir di bahunya. Bekas luka di wajahnya masih terlihat jelas, tetapi langkahnya tetap tenang dan mantap, seolah ia tak ingin menunjukkan sedikit pun bahwa semua yang terjadi beberapa hari terakhir telah menggoyahkan dirinya. “Marco,” sapa Moara, mencoba membuat suaranya terdengar ringan. “Ayo, sarapan dulu.” “Nggak lapar,” ja
Kening Zea langsung berkerut. “Kenapa … minta maaf?” Feby menghela napas pelan. Tangannya saling menggenggam di atas meja, jarinya meremas satu sama lain. “Aku … yang kasih tahu Dimas kalau kamu tinggal di sini,” ucapnya pelan. Zea terdiam. Ia sudah tahu. Dimas sendiri yang mengakuinya saat itu. “Beberapa hari lalu dia nanya.” Feby melanjutkan pelan. “Aku kira dia cuma mau pastiin kamu baik-baik aja. Aku nggak nyangka dia bakal bawa Marco.” Zea masih diam. Matanya menatap Feby, tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya kelelahan yang semakin dalam. “Aku nggak nyalahin kamu, Feb,” jawab Zea akhirnya, suaranya lirih. “Aku tahu kamu nggak bermaksud gitu.” Feby menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Tapi tetap aja … gara-gara aku, dia bisa nemuin kamu.” Zea tersenyum pahit. “Justru itu yang bikin aku sadar.” Ia menunduk, menatap piring yang masih hampir penuh. “Sekarang aku nggak punya tempat yang benar-benar aman dari dia. Bahkan di sini pun … dia bisa datang kapan saja d
Moara terdiam. Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Marco, terutama tatapan kecewa yang jarang sekali ia lihat dari putranya. Belum lagi bekas kemerahan di pipi Marco yang masih terlihat jelas. Moara mulai menduga bahwa putranya baru saja menemui Zea diam-diam. Namun, mendengar pertanyaan Michael, Moara harus segera mencari alasan yang masuk akal untuk menghindar. Ia belum siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Marco. “Moara?” panggil Michael, kali ini dengan nada menuntut. Moara tersentak dari lamunannya. Ia mengedip beberapa kali, lalu memaksakan senyum tipis. “Marco tadi bilang ... dia lagi nggak enak badan,” ucapnya sedikit bergetar. “Jadi dia minta jamuan makan malam bersama keluarga Yansen diundur dulu.” Michael menatap Moara selama beberapa detik. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam. “Nggak enak badan? Sejak kapan?” Moara terdiam sepersekian detik. “Tadi. Katanya kepalanya pusing.” Michael menghembuskan napas pendek, lalu berbal
Marco terdiam, masih duduk di tepi ranjang. Tangannya sempat terangkat, seolah ingin menyentuh wajah Zea, tapi ia menahannya. “Aku nggak mau ninggalin kamu sendirian seperti ini.”Zea menutup mata. Air mata kembali mengalir ke pelipisnya.“Justru karena itu,” bisiknya. “Kalau kamu benar-benar peduli sama aku … pergi. Biarkan aku sendirian.”Marco terdiam lama. Rahangnya mengeras. Ia menunduk, menatap tangan Zea yang masih sedikit gemetar di atas seprai.Akhirnya pria itu berdiri. Gerakannya pelan, seolah setiap langkah terasa berat. Ia merapikan baju Zea dengan hati-hati, menutupi dada gadis itu kembali, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.“Aku akan pergi,” ucapnya pelan. “Tapi aku nggak akan berhenti mencoba memperbaiki ini.”Zea tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah ke sisi lain, membiarkan air matanya jatuh diam-diam.Marco berdiri beberapa detik lebih lama di tepi ranjang. Lalu ia berbalik, membuka pi
Feby masih berdiri tersengal di dekat pintu. Napasnya belum sepenuhnya stabil setelah didorong Marco tadi. Wajahnya memerah menahan amarah.“Kamu nggak apa-apa, Feb?” Dimas buru-buru menghampiri, memegang bahu Feby dengan cemas.Feby mengangguk cepat, meski rahangnya masih mengeras.“Marco brengsek!” desisnya. Ia langsung berbalik dan hendak berjalan menuju kamar tamu. “Aku harus usir dia sekarang.”Namun baru dua langkah, suara Henny menghentikannya. “Feby, biarkan saja.”Feby menoleh cepat dengan wajah tidak percaya. “Ma? Marco baru aja dorong aku. Zea juga jelas-jelas nggak mau ketemu dia.”“Feby,” ulang Henny, kali ini lebih tegas. Kursi rodanya menghadap ke arah lorong menuju kamar tamu. Tatapannya menerawang, seolah pikirannya sedang kembali pada sesuatu yang jauh di masa lalu. “Biarkan mereka berdua dulu.”Feby terdiam. Ia masih ingin membantah, tetapi raut wajah Henny membuatnya mengurungkan niat. Dimas pun ikut
Marco membeku begitu kalimat Zea barusan menghantamnya keras. Matanya terbelalak. Tapi tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya.Napasnya memburu. Bekas tamparan di pipinya masih terasa panas, tetapi rasa sakit itu seolah tidak seberapa dibandingkan dengan kenyataan bahwa Zea benar-benar tampak membencinya.Zea berbalik dan melangkah masuk dengan langkah yang goyah, seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. “Tinggalkan aku sendiri,” ucapnya lirih, tanpa menoleh sedikit pun. “Aku nggak mau lihat kamu lagi.”Ia melewati Henny yang masih terpaku di kursi rodanya, belum sepenuhnya mencerna apa yang barusan terjadi.“Zea, Nak ...” panggil Henny pelan.Zea berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Henny dengan wajah yang getir, campuran rasa bersalah dan lelah. “Maaf, Tante. Masalahku jadi kebawa-bawa sampai sini,” ia menarik napas. “Aku mau sendirian dulu.”Henny paham betul, Zea sedang berada di titik







