Marco menoleh ke Zea dengan tatapan bertanya, tangannya masih memegang gagang telepon. "Kamu mau kasih tahu nomor kamar kita?" tanyanya pelan, meski suaranya masih sedikit serak. Zea menahan napas sejenak sebelum mengangguk. Ia juga ingin bertemu Feby karena ada banyak yang harus ia jelaskan. Marco mengangguk kecil, lalu kembali bicara ke resepsionis. "Boleh, kasih tahu nomor kamarnya." “Baik, akan saya beri tahu nomor kamar Tuan sesuai permintaan,” ucap resepsionis ramah dan formal. Begitu telepon ditutup, keduanya langsung bergerak cepat. Zea meraih pakaian gantinya dari dalam tas besar dengan jemari yang masih sedikit gemetar, lalu buru-buru merapikan dirinya. Marco pun buru-buru mengenakan kaos dan celana jeans-nya kembali, sesekali melirik ke arah pintu dengan waspada. Zea sempat berhenti sejenak di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang masih memerah dan berantakan. Ia baru sadar, di tengah semua yang baru saja terjadi, ia hampir lupa satu hal paling pentin
آخر تحديث : 2026-08-06 اقرأ المزيد