LOGINDerap langkah puluhan kuda perang bergemuruh hebat dari balik gerbang kayu jati utama Griya Tawang. Debu jalanan membumbung tinggi ke udara fajar yang kian panas dan menghimpit. Hawa tegang menatap maut seketika mencengkeram seluruh area pendopo, membuat puluhan tetua trah Wiratama berdiri menggigil kaku di belakang kami dengan wajah memucat pasi.Arya tidak menunjukkan sedikit pun keraguan di raut wajah tegasnya. Cengkeramannya pada jemariku kian erat, hangat, dan protektif sewaktu kami berdiri sejajar di pucuk anak tangga pualam. Di samping kami, Ki Sasongko beserta puluhan prajurit silsilah telah menghunus tombak rapat-rapat, membentuk pagar betis tegap yang siap tumpah darah demi mempertahankan kehormatan pringgitan.Brak!Pintu gerbang raksasa itu terdorong paksa dari luar hingga engsel besinya menjerit nyaring. Sepuluh prajurit berkuda berseragam hitam dengan pita merah terikat di lengan melangkah masuk membelah pelataran. Di barisan terdepan, dua pria paruh baya bertub
Empat prajurit senior silsilah dengan sigap memikul peti besi berstempel Kerajaan Belanda itu, melangkah tergesa-gesa di belakang Ki Sasongko menyusuri lorong bawah tanah yang makin terasa sempit. Asap obor meliuk-liuk liar, memantulkan bayangan panjang kami pada dinding batu yang berukirkan simbol-simbol perjanjian darah. Setiap desisan napas yang lolos dari bibirku membubung kaku di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Arya tidak melepaskan jemariku sedikit pun. Genggamannya begitu hangat, rapat, dan erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sejari saja, aku akan melayang lenyap ditelan kegelapan Griya Tawang yang tak bertepi."Punggungmu basah oleh keringat dingin, Arya," bisikku parau sewaktu kami menaiki anak tangga batu yang licin menembus pintu rahasia Sayap Timur.Arya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu jati yang bergeser pelan. Pria itu berbalik lambat, menatapku dengan mata hitamnya yang dalam, pekat, dan sarat rasa posesif yang tak pernah padam. Bau c
Peti besi besar berstempel Kerajaan Belanda itu terasa amat dingin di dalam dekapan Arya. Deru napas kami yang memburu bersahut-sahutan di dalam ruang arsip batu yang makin menghimpit. Serpihan kertas silsilah trah kelima yang baru saja dirobek Arya berserakan pasrah di atas lantai pualam berdebu—sebuah simbol pembangkangan mutlak atas garis takdir tumbal yang selama ini mengikat darahku. Arya mengunci pandangannya padaku. Jemari tangannya yang bebas merayap naik, mencengkeram tengkukku dengan kehangatan posesif yang begitu pekat. "Ingat kata-kataku, Sekar," bisik Arya, suara baritonnya amat rendah, parau, dan bergetar hebat oleh tekad murni di dalam dadanya. "Begitu kita melangkah keluar membawa peti ini, kita tidak hanya menantang sisa-sisa pengikut Nyi Danumaya. Kita sedang menabuh genderang perang melawan empat trah bangsawan terkuat dan jaringan kompeni di pesisir." Aku menatap lurus ke dalam iris hitamnya yang membara. Tanpa ragu, kujangkau pergelangan tangannya y
Dada Arya yang tegap dan hangat naik turun beratur cepat di balik dekapan eratnya. Isak tangisku membasahi kemeja tipisnya, menyerap seluruh rasa syok dan kebenaran pahit yang baru saja menampar jiwaku. Namaku—garis keturunanku sendiri—ternyata tersimpul erat dalam ikatan terlarang perjanjian lima trah dan pejabat Belanda itu. Di dalam ruangan batu yang lembap dan berbau debu tua ini, seluruh bayangan masa lalu seolah runtuh, menyisakan kami berdua yang saling mendekap dalam keputusasaan yang membakar.Aku menarik kepalaku perlahan dari dada Arya, mendongak menatap rahang kaku pria itu. Air mataku masih menetes lambat membasahi pipi, namun pandanganku tak lagi dipenuhi keraguan atau ketakutan seperti saat pertama diseret ke rumah ini."Kenapa..." bisikku parau, suaraku memelan di tengah heningnya ruang arsip batu yang mencekam. "Kenapa baru sekarang kamu membeberkan ini padaku, Arya? Kenapa membiarkanku menanggung kebencian pada rumah ini sendirian?"Arya menatapku lekat-lekat. J
Dua jasad serdadu bayaran yang terkapar kaku di lantai lorong batu kami tinggalkan begitu saja di balik bayangan pilar. Bau amis darah murni yang menyengat bercampur asap mesiu merayap naik, menyatu dengan kelembapan dinding bawah tanah yang kian menusuk tulang. Langkah kami terhenti tepat di depan sebuah pintu besi berukir simbol lima trah dan cengkeraman cakar naga—pintu yang mengunci ruang arsip rahasia paling dalam di Griya Tawang."Arya, pintu ini terkunci," bisikku terengah-engah, jemariku yang gemetar menyusuri besi dingin bercat hitam yang mulai berkarat itu. "Bagaimana cara kita membukanya?"Arya tidak langsung menjawab. Pria itu menyarungkan kerambitnya yang bernoda darah, lalu merogoh kantong dalam beskap hitamnya. Sebuah kunci perak berukir kuno bertali sutra merah terangkat di antara jemarinya yang tegap."Kunci ini selalu melekat di dada ibuku," suara bariton Arya mengalun amat rendah, sarat akan kepahitan yang kembali mencuat di bawah remang pendar lilin. "Nyi D
Bau mesiu yang menyengat bercampur minyak tanah tua kian pekat memenuhi udara lorong bawah tanah. Di balik bayangan pilar batu tua tempat kami bersembunyi, derak sepatu lars berat dan gemerincing rantai besi bergerak mendekat secara konstan. Aku merapatkan tubuhku pada pilar, napasku terengah pelan dan kaku saat dadaku menghantam dada tegap Arya yang memanas.Cengkeraman tangan Arya di pinggangku makin posesif, seolah-olah seluruh sisa kekuatannya dikerahkan hanya untuk memastikan raga ini tidak bergeser satu milimeter pun dari jangkauannya. Pria itu mencondongkan kepalanya, menempelkan bibirnya tepat di ceruk telingaku sembari menyalurkan hembusan napas hangatnya yang memburu liar."Jangan bergerak satu inchi pun, Sekar," bisik Arya parau, suara baritonnya amat rendah namun sarat perintah dominan yang tak teroyahkan. "Pria bersepatu lars itu bukan pengawal silsilah Griya Tawang. Itu serdadu bayaran."Aku mendongak, menatap iris hitam Arya yang berkilat tajam di bawah remang pe







