เข้าสู่ระบบCamelia menatap lurus ke dalam manik mata Bagaskara, menantang tirani pria yang mendaku sebagai ayahnya itu dengan seulas senyum tipis yang sarat akan bisa. "Ingin aku menikah dengan Morgan? Boleh saja. Asalkan... kau kembalikan seluruh aset dan perusahaan ibuku tanpa kurang sepeser pun!"
Bagaskara bungkam seribu bahasa. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga otot-otot di pipinya menegang kasar, wajahnya memerah menahan kejengkelan yang membubung akibat syarat mutlak tersebut. Melihat tidak ada lagi jawaban berguna yang keluar dari mulut pria itu, Camelia memutar tubuh dengan anggun. Ketukan tumit sepatunya di atas lantai marmer terdengar begitu tegas, berirama mantap menjauhi ruang tengah menuju pintu keluar. Begitu bayangan Camelia menghilang di balik daun pintu, Vivian langsung menghambur ke pelukan Bagaskara. Ia melingkarkan lengannya di bahu sang ayah, memasang gurat wajah yang tampak manis namun menyimpan binar kelicikan di matanya. "Ayah, aku sangat yakin Camelia akan hancur setelah ini," bisik Vivian, menyandarkan kepalanya dengan manja. Bagaskara mengusap rambut putri kesayangannya itu, senyum dingin mengembang di wajah paruh bayanya. "Kamu tenang saja, Sayang. Dia pasti akan hancur, dan hidupnya akan berakhir tragis... persis seperti ibunya dulu." "Iya, Ayah. Morgan sangat membenci Camelia. Aku yakin sekali pria itu akan sukses membalas dendamnya dalam pernikahan ini!" sahut Vivian dengan nada riang, seolah penderitaan kakak tirinya adalah melodi terindah bagi telinganya. "Kau hanya harus bersabar sedikit lagi, Vivian," timpal Bagaskara, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh ambisi. "Setelah Camelia tiada dan tersingkir secara alami, kaulah yang akan menjadi ahli waris tunggal seluruh kekayaan ini, dan kaulah yang akan berdiri di pelaminan bersama Morgan." Vivian mendongak, matanya berbinar-binar. "Aku yakin rencana kita tidak akan pernah gagal, Ayah!" Namun, guratan cemas mendadak melintas di dahi Bagaskara. Ia melonggarkan pelukannya sedikit, menatap wajah putrinya dengan dahi berkerut. "Tapi Vivian... Ayah mendadak takut jika sampai suatu hari nanti Morgan justru jatuh cinta pada Camelia. Bagaimana pun, mereka akan tinggal satu atap." Vivian spontan tertawa renyah, mengibaskan tangannya meremehkan ketakutan sang ayah. "Ayah tidak perlu takut. Sejak SMA dulu, Morgan selalu membenci Camelia sampai ke tulang rusuknya. Pria itu bahkan pernah bersumpah di depan makam ayahnya bahwa dia ingin menghancurkan Camelia berkeping-keping!" Bagaskara mengangguk perlahan, kecemasannya sedikit mereda. "Iya, kau benar. Morgan tidak mungkin jatuh cinta pada wanita dari keluarga yang dia benci." "Ayah lupa?" Vivian menyunggingkan senyum kemenangan, menyipitkan matanya penuh kilat kepuasan. "Ayah Morgan meninggal dalam kecelakaan tragis yang dipicu oleh laporan hukum yang diajukan Camelia. Sudah pasti pria itu memiliki dendam kesumat yang sama besarnya dengan kita. Dia ingin melihat Camelia hancur sehancur-hancurnya!" Bagaskara menepuk bahu putrinya dengan bangga. "Kau memang putriku yang paling pintar." Di dalam hatinya, Vivian bersorak liar. Cepat atau lambat, Morgan akan menjadi milikku sepenuhnya. Pria sekelas dia tidak akan pernah sudi menjatuhkan hatinya pada wanita pembawa sial seperti Camelia. Tanpa mereka sadari, di balik celah pintu kayu yang sedikit terbuka di koridor samping, Camelia berdiri mematung. Telapak tangannya mengepal begitu erat di sisi tubuh, kuku-kukunya hampir menusuk kulit telapak tangannya sendiri untuk meredam gemetar amarah yang menjalar di sekujur tubuh. Ia telah mendengar setiap detail konspirasi menjijikkan itu. Suara tawa tulus yang saling bertukar di antara ayah dan anak tiri itu terasa seperti pasokan oksigen yang mendadak mendingin di parunya. Kalian pikir aku akan tinggal diam setelah tahu kalian menginginkan aku mati? batin Camelia, matanya berkilat sedingin malam. Sebuah senyum sarkas terukir di wajahnya yang pucat. Kita lihat siapa yang akan menyeret siapa ke neraka lebih dulu. Camelia melangkah mundur perlahan tanpa menimbulkan suara, berbalik, dan berjalan cepat meninggalkan rumah terkutuk itu. Begitu sampai di luar gerbang, sebuah sedan hitam meluncur halus dan berhenti tepat di depannya. Pintu kemudi terbuka, menampilkan sesosok pria berjas rapi dengan pembawaan tenang dan sigap. Itu Noah, asisten pribadi sekaligus tangan kanannya yang paling setia. "Camelia, aku sudah menemukan keberadaan mantan sekretaris ibumu dulu," ujar Noah tanpa membuang waktu, membukakan pintu penumpang dengan sikap hormat. Mata Camelia yang semula redup seketika menyala tajam. "Benarkah? Kalau begitu, ayo kita urus dia sekarang juga. Dia memegang kunci penting." "Baik." Noah menutup pintu kemudi dengan cepat, menghidupkan mesin, dan membelah jalanan kota menuju sebuah gedung perkantoran eksklusif di pusat bisnis kota, tempat sang mantan sekretaris kini menyewa sebuah ruangan mewah. Satu jam kemudian, Camelia dan Noah melangkah melewati lorong berlantai granit menuju ruang tunggu utama di lantai atas gedung tersebut. Atmosfer di tempat itu terasa begitu formal dan sunyi. Namun, tepat saat Camelia hendak mendorong pintu kaca besar untuk masuk ke dalam ruangan VIP, langkah kakinya mendadak terkunci di lantai. Dari arah dalam, sesosok pria bertubuh tegap berbalut setelan jas buatan penjahit ternama melangkah keluar. Bahunya yang lebar, tatapan matanya yang elang, dan garis rahang tegas yang sangat ia kenal dari kejadian tadi pagi kini berdiri tegak tepat beberapa jengkal di hadapannya. Pria ini lagi... batin Camelia menjerit jengkel. Dadanya mendadak berdesir mengingat kembali bercak-bercak merah yang ia lihat di tubuh pria itu beberapa jam lalu. Morgan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Camelia. Guratan keterkejutan sempat melintas di wajahnya, namun dengan cepat digantikan oleh tatapan dingin dan menusuk. Suasana di koridor itu mendadak drop hingga titik beku. Melihat perubahan atmosfer yang tidak beres dan gelagat intimidasi dari Morgan, Noah dengan insting protektifnya segera mengambil tindakan. Sebelum Morgan sempat membuka suara, Noah melangkah maju, menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan pria itu, lalu dengan lembut namun pasti menarik bahu Camelia ke dalam dekapannya, merangkul wanita itu protektif seolah melindunginya dari bahaya nyata. Mata Morgan seketika turun menatap tangan Noah yang bertengger erat di bahu Camelia, lalu beralih menatap kedekatan tubuh mereka yang tanpa jarak. Sesuatu yang panas memercik di dalam dada Morgan—sebuah rasa tidak suka yang asing dan menghentak secara tiba-tiba, memicu kilat cemburu yang gagal ia sembunyikan dengan sempurna di balik topeng datarnya. Rahangnya mengeras, dan tatapannya berubah menjadi sangat tajam, seolah ingin menguliti tangan Noah saat itu juga. Morgan mendengus sinis, senyum meremehkan kembali terukir di sudut bibirnya saat ia menatap wajah Camelia dari balik bahu Noah. "Dasar murahan," desis Morgan dengan suara rendah yang sarat akan penghinaan, melemparkan pandangan paling muak sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka dengan hentakan kaki yang berat."Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m
"Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per
"Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau
"Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk
"Atur sudut penempatan bunga anggrek langka ini dua meter di kiri panggung utama!" suara tegas Nyonya Helena Erlangga memecah riuh kesibukan puluhan perancang busana dan tim manajemen acara di Grand Ballroom Hotel Erlangga Jakarta. Sang matriark mengetukkan tongkatnya ke lantai granit putih, menunjuk ke arah panggung megah yang sedang dihias.Di sisinya, Camelia Nusantara memperhatikan deretan sampel kustom gaun pengantin sutra putih yang dibawakan oleh desainer kenamaan Paris. Rona di wajah Camelia kini jauh lebih segar; tidak ada lagi jejak kelelahan emosional atau bayang-bayang ketakutan yang sempat melingkupinya saat skandal pemalsuan medis Valeria merebak."Sutra bernuansa *champagne* ini akan sangat serasi dengan mahkota pusaka keluarga Nusantara yang kau kenakan nanti, Camelia," ujar Helena dengan suara lembut, matanya menatap Camelia penuh kehangatan yang amat tulus. Keraguan dan sikap dingin sang matriark kini telah meleleh sepenuhnya, berganti menjadi rasa hormat mendalam ba
Camelia Nusantara berdiri di dekat dinding kaca raksasa, memandangi hamparan langit Jakarta yang perlahan berganti warna menjadi jingga keunguan. Ia mengenakan gaun terusan simpel berwarna putih gading dengan potongan anggun yang membingkai postur tubuhnya dengan sempurna. Jemari tangan kanannya perlahan meraba jari manis kiri tempat cincin pertunangan berlian itu kini melingkar kembali.Setiap kali jarinya menyentuh permukaan dingin berlian tersebut, ingatan Camelia melayang pada perjuangan sengit empat puluh delapan jam yang lalu. Ia mengingat bagaimana Morgan bertarung tanpa ragu, bagaimana pria itu menyibak jaring-jaring manipulasi yang begitu rumit, dan bagaimana Morgan mempertaruhkan seluruh reputasi serta kekuasaannya demi memastikan kebenaran berdiri tegak di hadapan dunia.Kegigihan Morgan bukan sekadar pembuktian lepas dari tuduhan, melainkan sebuah pernyataan cinta paling murni yang pernah Camelia terima sepanjang hidupnya. Selama bertahun-tahun, Camelia tumbuh dengan keyak







