Share

bab 6

Author: Zeaauthor
last update publish date: 2026-07-04 17:05:10

"Nona... tolong jangan bunuh aku!" teriak Erick, suaranya melengking parau memenuhi sudut ruangan. Kedua tangannya merapat di depan dada, memohon ampun dengan air mata yang mulai menggenang di pelupis matanya yang berkerut.

Camelia tidak berhenti. Setiap ketukan sepatunya di atas lantai seakan menjadi hitungan mundur bagi sisa nyawa pria di hadapannya. Ia berdiri tepat di depan Erick, menatap rendah mantan sekretaris ibunya itu dengan sepasang mata yang menyala oleh api kemarahan yang telah dipendam bertahun-tahun.

"Kau dulu adalah orang kepercayaan ibuku, tangan kanannya," suara Camelia mengalun rendah, namun sarat akan tekanan yang menindih atmosfer ruangan. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Erick yang bergerak gelisah. "Pasti kau juga yang ikut merancang skenario kotor untuk menghancurkannya hingga dia depresi dan bunuh diri, bukan?!"

"Bukan! Bukan saya, Nona! Demi Tuhan, bukan saya!" Erick menggelengkan kepalanya dengan cepat, tangannya melambai-lambai di udara seolah mencoba menghalau tuduhan tersebut. "Saya hanya seorang sekretaris yang menjalankan tugas administratif! Saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang konspirasi itu!"

Mendengar penyangkalan yang begitu klise, rahang Camelia mengeras. Sebuah tawa hambar dan sinis lolos dari belahan bibirnya. "Kau bilang kau tidak tahu? Sungguh, Erick... kau pikir aku sebodoh itu? Kau pikir aku kembali ke negeri ini tanpa membawa bukti apa pun?"

Dengan satu gerakan kilat yang teratur, Camelia meraba bagian dalam mantel panjangnya. Klik. Bunyi logam yang saling bergesekan memecah kesunyian saat Camelia menarik sebuah pistol berlaras hitam legam, lalu menodongkannya tepat di depan kening Erick. Jarak di antara moncong senjata itu dengan kulit kening Erick tak lebih dari tiga sentimeter.

"Sekarang, kau beri tahu aku fakta yang sebenarnya, atau kepalamu akan menjadi sasaran empuk peluru ini sebelum kau sempat mengedipkan mata!" ancam Camelia, jarinya sudah bertengger manis di atas pelatuk, siap menekan kapan saja.

Erick menyentak tubuhnya ke belakang hingga punggungnya membentur kaki meja. Keringat dingin bercucuran deras membasahi seluruh wajah dan lehernya. Menyaksikan kilat kegilaan dan keseriusan di mata Camelia, ia tahu wanita di hadapannya tidak sedang menggertak.

"Jangan lakukan itu, Nona! Tolong turunkan senjatanya! Saya akan beri tahu... saya akan beri tahu semuanya!" ratap Erick dengan napas yang terengah-engah.

Dengan bibir yang gemetar, Erick akhirnya menumpahkan seluruh rahasia kelam yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Ia membeberkan dokumen palsu, aliran dana gaib, hingga keterlibatan busuk Bagaskara yang bekerja sama dengan pihak luar untuk memanipulasi laporan keuangan mendiang ibu Camelia.

Mendengar seluruh pengakuan kronologis itu, Camelia perlahan menurunkan senjatanya. Sepasang sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman puas yang sarat akan kemenangan dingin. "Sudah kuduga. Tikus-tikus rumah memang selalu menjadi bagian dari kehancuran."

Sementara itu, di tempat lain, Vivian sedang duduk di dalam mobilnya dengan senyum licik yang tak pernah pudar dari wajahnya. Jari-jarinya yang lentik dengan cat kuku merah menyala mengetuk-ngetuk layar ponsel, sebelum akhirnya menekan tombol panggil ke satu nomor yang sangat ia hafal. Ia harus bergerak cepat untuk mematangkan umpan yang telah ia tebar.

Panggilan itu hanya berdering dua kali sebelum suara berat dan dingin di seberang sana menjawabnya. "Ada apa, Vivian?"

Vivian menarik napas dalam-dalam, memaksakan suaranya agar terdengar bergetar seolah-olah ia sedang menahan tangis yang amat mendalam. "Morgan... sepertinya hubungan kita sampai di sini saja. Sebaiknya kita putus."

Di ujung telepon, Morgan yang baru saja memasuki mobil pribadinya tersentak. Alisnya bertaut rapat, dahinya berkerut dalam mendengar keputusan sepihak yang mendadak itu. "Apa maksudmu, Vivian? Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini?"

"Morgan, aku harap kau dan Camelia bisa menikah dengan bahagia," ucap Vivian, suaranya sengaja dibuat sesenggukan, aktingnya begitu sempurna. "Maafkan aku... aku benar-benar tidak tahu jika selama ini kau dan Camelia sebenarnya saling mencintai di belakangku."

Rahang Morgan mengencang seketika. Ingatannya langsung melayang pada kejadian di kamar hotel 404 tadi pagi, serta bagaimana Camelia menolaknya dengan penuh kebencian. "Apa yang dikatakan Camelia padamu, Vivian?! Apa wanita itu menemuimu?!"

"Camelia tidak bilang apa-apa secara langsung padaku, Morgan," sahut Vivian dengan nada suara yang sengaja dilembutkan untuk memprovokasi. "Dia... dia hanya dengan bangga bilang kepada orang-orang bahwa kau dan dia sudah pernah bercinta di atas ranjang yang sama. Dia memamerkan hubungan intim kalian padaku!"

Brak!

Morgan memukul setir mobilnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi klakson yang memekik. Darah di dalam tubuhnya mendidih mendengar penuturan Vivian. Berani-beraninya wanita itu melanggar batas dan menyebarkan kejadian malam itu untuk merusak hubungannya. Amarah yang membakar dada membuat Morgan langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, memutar arah mobilnya kembali menuju gedung tempat ia melihat Camelia bersama asistennya beberapa menit yang lalu.

Di dalam ruang VIP, Camelia baru saja hendak menyimpan kembali pistolnya ke dalam mantel ketika tiba-tiba pintu ganda ruangan itu ditendang terbuka dari luar dengan sangat keras hingga menghantam dinding.

Brak!

Morgan berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang memerah akibat amarah murni. Tanpa memedulikan keberadaan Noah yang langsung bersiaga atau Erick yang kembali ketakutan, Morgan melangkah lebar memotong jarak. Sebelum ada yang sempat bereaksi, tangan kekar Morgan terjulur mencengkeram pergelangan tangan Camelia dengan sangat kuat, lalu menyentak tubuh wanita itu agar mengikutinya keluar.

"Morgan! Apa-apaan kau! Lepaskan aku!" teriak Camelia, mencoba menahan bobot tubuhnya dan melepaskan diri dari cengkeraman baja tersebut. Namun, tenaga Morgan jauh lebih besar. Pria itu terus menariknya tanpa ampun melintasi koridor.

Noah mencoba mengejar dan mengintervensi. "Tuan Morgan, lepaskan tangan Anda dari Nona Camelia!"

"Diam kau! Jangan ikut campur atau kuhancurkan kau sekarang juga!" bentak Morgan dengan suara menggelegar, melemparkan tatapan mematikan yang membuat Noah tertegun sejenak.

Morgan terus menyeret Camelia hingga mereka tiba di area tangga darurat yang sepi, lalu menghempaskan tubuh wanita itu ke dinding beton dengan kasar namun tetap menjaga agar kepalanya tidak terbentur. Ia mengunci tubuh Camelia dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding di sisi kepala wanita itu.

"Lepaskan aku, Morgan!" Camelia berteriak tepat di depan wajah pria itu, napasnya memburu karena marah dan lelah.

Namun, gertakan itu justru membuat Morgan semakin murka. Ia mencondongkan tubuhnya hingga menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. "Aku akan menghukummu, Camelia! Kau benar-benar wanita bermuka dua!"

"Apa maumu sebenarnya, Tuan Morgan yang terhormat?!" tanya Camelia dengan nada menantang, matanya menatap tajam lurus ke dalam manik mata Morgan tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Kau bertanya apa mauku?" Morgan mendengus kasar, senyum sinis dan berbahaya terukir di wajahnya yang tegang. Ia mencengkeram dagu Camelia, memaksanya untuk terus menatapnya. "Kau lupa dengan janjimu tadi pagi, hah? Kau berjanji untuk tutup mulut dan tidak akan memberi tahu Vivian jika aku telah tidur denganmu! Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau sengaja menghancurkan hubunganku dengan menyombongkan malam sialan itu pada Vivian!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 56

    "Pradipta Nusantara..." bisik Noah dengan suara tertahan.Pria tua di atas kursi roda itu terkekeh pelan—sebuah suara parau yang bergetar dari dada yang rapuh. "Senjata itu tidak diperlukan lagi, Anak Muda. Waktuku di dalam bayangan sudah genap."Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut, jajaran layar monitor masih menampilkan lalu lintas data terenkripsi yang rumit. Di sanalah seluruh transaksi peracunan Valeria, penguncian akun cangkang di Zurich, hingga pengalihan perhatian pihak keamanan terkendali. Pria yang selama lima belas tahun diyakini tewas dalam ledakan helikopter di atas perairan Kepulauan Seribu itu rupanya hidup membusuk di dalam paviliun keluarga Erlangga, bergerak bagaikan hantu yang mengendalikan papan catur dari balik dinding tebal."Tuan Morgan harus mengetahui hal ini sekarang juga," tegas Noah, merogoh perangkat komunikasi di dadanya."Jangan ganggu fajar sucinya," potong Pradipta cepat dengan nada penuh otoritas pimpinan masa lalu. Tatapannya m

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 55

    "Ulangi ucapanmu, David," pangkas Morgan dengan nada bariton yang begitu rendah, dingin, dan mengancam.Udara di ruang kendali bawah tanah Grand Ballroom seketika membeku. David menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyodorkan tablet digital yang menampilkan grafik lokasi pemancar sinyal satelit terenkripsi. Titik merah berkedip presisi di atas peta digital kompleks kediaman utama Erlangga di Menteng."Sinyal perintah peracunan Valeria dikirimkan pukul dua puluh tiga empat belas semalam, Tuan," ujar David cepat dengan suara gemetar. "Sinyal tersebut memanfaatkan pemancar satelit privat yang terhubung ke jaringan komunikasi lama di paviliun belakang rumah Nyonya Helena."Morgan menatap titik merah di layar monitor tanpa berkedip. Pikiran pria tegap itu bekerja secepat kilat, menganalisis setiap kemungkinan. Apakah ada penyusup yang bertahun-tahun bersembunyi di dalam kediaman keluarganya sendiri? Ataukah bayangan masa lalu yang diyakini telah mati lima belas tahun lalu sebenarnya tak per

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 54

    "Bencana sesungguhnya..." gumam Morgan Erlangga dengan suara serak yang amat dingin.Ia mematikan sambungan telepon dari Mabes Polri, lalu meletakkan ponsel terenkripsi itu di atas meja kayu mahoni. Suasana ruang kerja pribadi di lantai dua kediaman Menteng seketika berubah mencekam. Angin malam yang berembus melintasi celah jendela kaca terasa membekukan.Camelia Nusantara melangkah mendekat, matanya menatap Morgan dengan raut penuh kecemasan yang tertahan. "Morgan... apa yang terjadi pada Valeria? Apa pesan yang ditinggalkannya?"Morgan memutar tubuhnya perlahan, menatap Camelia. Pria tegap itu berusaha keras menutupi riak kegelisahan di matanya agar tidak memicu kepanikan pada calon istrinya. Namun, Camelia mengenalnya terlalu baik untuk bisa dibohongi."Valeria diracun di dalam sel isolasinya," pangkas Morgan tenang namun tegas. "Dia saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit Bhayangkara di bawah pengawalan ketat."Camelia menahan napasnya, jemarinya mengepal kencang di tepi gau

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 53

    "Lakukan penguncian total pada seluruh aset *Aegis Capital* sekarang!" perintahkan Morgan Erlangga dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Di dalam ruang kerja pribadi lantai paling atas Gedung Erlangga Holding, layar monitor menampilkan jaringan transaksi perbankan internasional yang terhubung langsung dengan otoritas moneter di Singapura, Zurich, dan Kepulauan Cayman. Berdasarkan bukti telepon satelit dan pengakuan kelompok penyusup yang tertangkap basah di Tanjung Priok beberapa jam lalu, tim hukum internasional Morgan meluncurkan serangan balik finansial tercepat dalam sejarah aliansi mereka.David berdiri di samping meja, menatap barisan angka dan kurva transaksi yang mulai memerah di layar monitor."Otoritas Keuangan Singapura (MAS) telah menerima perintah pembekuan aset tingkat darurat," pangkas David cepat. "Rekening utama senilai empat puluh juta Dolar Singapura milik loyalis Bagaskara yang tersisa telah dikunci sepenuhnya. Mereka tidak lagi memiliki akses dana untuk

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 52

    "Atur sudut penempatan bunga anggrek langka ini dua meter di kiri panggung utama!" suara tegas Nyonya Helena Erlangga memecah riuh kesibukan puluhan perancang busana dan tim manajemen acara di Grand Ballroom Hotel Erlangga Jakarta. Sang matriark mengetukkan tongkatnya ke lantai granit putih, menunjuk ke arah panggung megah yang sedang dihias.Di sisinya, Camelia Nusantara memperhatikan deretan sampel kustom gaun pengantin sutra putih yang dibawakan oleh desainer kenamaan Paris. Rona di wajah Camelia kini jauh lebih segar; tidak ada lagi jejak kelelahan emosional atau bayang-bayang ketakutan yang sempat melingkupinya saat skandal pemalsuan medis Valeria merebak."Sutra bernuansa *champagne* ini akan sangat serasi dengan mahkota pusaka keluarga Nusantara yang kau kenakan nanti, Camelia," ujar Helena dengan suara lembut, matanya menatap Camelia penuh kehangatan yang amat tulus. Keraguan dan sikap dingin sang matriark kini telah meleleh sepenuhnya, berganti menjadi rasa hormat mendalam ba

  • Terjebak Cinta Satu Malam dengan Mantan Kekasih    bab 51

    Camelia Nusantara berdiri di dekat dinding kaca raksasa, memandangi hamparan langit Jakarta yang perlahan berganti warna menjadi jingga keunguan. Ia mengenakan gaun terusan simpel berwarna putih gading dengan potongan anggun yang membingkai postur tubuhnya dengan sempurna. Jemari tangan kanannya perlahan meraba jari manis kiri tempat cincin pertunangan berlian itu kini melingkar kembali.Setiap kali jarinya menyentuh permukaan dingin berlian tersebut, ingatan Camelia melayang pada perjuangan sengit empat puluh delapan jam yang lalu. Ia mengingat bagaimana Morgan bertarung tanpa ragu, bagaimana pria itu menyibak jaring-jaring manipulasi yang begitu rumit, dan bagaimana Morgan mempertaruhkan seluruh reputasi serta kekuasaannya demi memastikan kebenaran berdiri tegak di hadapan dunia.Kegigihan Morgan bukan sekadar pembuktian lepas dari tuduhan, melainkan sebuah pernyataan cinta paling murni yang pernah Camelia terima sepanjang hidupnya. Selama bertahun-tahun, Camelia tumbuh dengan keyak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status