Dia menatap ke atas, ke arah langit yang tidak terlihat dari mulut celah, ke arah bintang-bintang yang mungkin masih ada di sana, ke arah bulan yang masih tidak mau muncul."Bangun, Nenek," bisiknya lagi. "Aku masih butuh kau. Aku masih ..."Dia tidak bisa melanjutkan, sebab air mata yang sudah lama tidak keluar, yang sudah lama ditahan, yang sudah lama dianggap tidak perlu, akhirnya mengalir. Bukan banyak, bukan deras, hanya setetes, dua tetes, tiga tetes, jatuh ke lantai batu, bercampur dengan darah neneknya, membentuk pola yang tidak bisa dikenali.Di luar, di kegelapan lembah, dua ratus prajurit mundur. Jenderal mereka berdiri dengan tangan kosong, tombaknya mati di lantai batu. Sesosok berjubah hitam di puncak tebing telah menghilang ke dalam malam.Malam kesepuluh pengepungan berakhir, tetapi bukan dengan kemenangan, bukan dengan kekalahan, bukan dengan apa pun yang bisa disebut hasil. Hanya luka. Hanya darah. Hanya sesuatu yang meski
Last Updated : 2026-07-18 Read more