Tubuhnya terkulai di lantai batu, di depan gerbang yang masih terbuka, di depan dua ratus prajurit yang masih menunggu perintah, di depan Liu Tianming yang masih berdiri dengan tangan kosong.Liu Tianming menatap tombaknya yang terbaring di lantai, menatap besi yang tidak lagi bergetar, menatap senjata yang tidak lagi hidup, menatap bagian dari dirinya yang selama empat puluh tahun selalu ada, selalu siap, selalu setia.Kemudian dia menatap wanita tua yang tidak bisa lagi berdiri.Tangannya terangkat untuk memerintahkan serangan terakhir. Dua ratus prajurit menunggu, yang meski terkejut, meski bingung, masih taat, masih siap, masih menunggu satu gerakan tangan untuk menerjang, untuk mengakhiri semuanya dalam satu kali serbuan.Namun, matanya tertuju pada sesuatu yang terlihat dari balik jubah Nenek Yue, sesuatu yang berkilau samar di bawah cahaya obor, sesuatu yang kecil, sesuatu yang tua, sesuatu yang meski tidak pernah dimiliki, meski tida
Last Updated : 2026-07-17 Read more