Begitu Ratri sama Wira sampai balik ke kediaman, malem-malem, masih pegangan tangan tanpa berusaha nutupin, Nyai Sekar yang kebetulan lagi beresin kain di lorong langsung berhenti total, matanya membelalak lebar. Bulan udah tinggi di langit, dan lorong kediaman sepi banget kecuali suara jangkrik dari taman. Ratri sama sekali nggak berusaha ngelepas tangannya dari genggaman Wira, meski biasanya dia bakal buru-buru narik diri kalau ketauan ada orang. "Gusti," Nyai Sekar ngomong pelan, suaranya penuh curiga, "kenapa Gusti senyum-senyum kayak abis menang undian?" "Nggak kenapa-napa," Ratri jawab cepet, tapi senyumnya sama sekali nggak ilang, malah makin lebar. Nyai Sekar natap tangan mereka yang masih bertautan, terus natap muka Ratri yang merah padam, terus natap Wira yang juga keliatan salah tingkah tapi jelas nggak berusaha ngelepas genggamannya. "Oh." Nyai Sekar histeris pelan, tangannya nutup mulut sendiri. "Oh, tidak. Akhirnya." "Nyai, pelan-pelan," Ratri buru-buru bisikin
Last Updated : 2026-07-17 Read more