Empat hari sebelum upacara, Ratri dapet undangan buat minum teh sore bareng Ratu Ibunda Suri di paviliun teratai—undangan yang sama sekali nggak bisa dia tolak tanpa keliatan mencurigakan. "Aku ikut," Wira nawarin, wajahnya serius. "Kalau kau ikut, dia bisa curiga kita udah tau sesuatu," Ratri ngingetin. "Aku harus pergi sendiri, kayak biasa." Wira nggak seneng sama rencana itu, tapi akhirnya ngalah. "Aku bakal nunggu di deket sana. Kalau ada apa-apa, teriak aja." Ratri ngangguk, coba nenangin detak jantungnya sendiri sebelum jalan ke paviliun teratai. Ratu Ibunda Suri udah duduk di kursi biasanya, senyumnya hangat kayak biasa, sama sekali nggak nunjukin tanda-tanda dia tau kalau identitas aslinya udah kebongkar. Bunga teratai di kolam mekar sempurna sore itu, kontras banget sama ketegangan yang Ratri rasain di dalam dadanya. "Duduklah, Nak," katanya, nuang teh ke cangkir Ratri sendiri. "Sudah lama kita nggak ngobrol berdua." "Iya, Ratu Ibunda," Ratri duduk, coba tampil seten
Last Updated : 2026-07-20 Read more