“Kamu bisa tunggu di sekolah, kafe, atau tempat mana pun yang kamu suka. Nanti aku jemput di sana,” jawab Jarren tanpa ragu sedikit pun. Puspa mengerucutkan bibir, menyandarkan kepalanya di bahu Jarren seraya berpikir sejenak. Hawa hangat dari napas Jarren menyapu lembut permukaan kulit pipinya. “Kalau ... aku menyusul kamu ke firma, pengadilan, atau di mana pun kamu lembur?” usul Puspa, menengadah menatap garis tegas rahang Jarren dari jarak yang begitu dekat. Giliran Jarren yang terdiam. Pria itu menyipitkan mata, menimbang penawaran Puspa dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. “Boleh,” jawab Jarren akhirnya. “Tapi ada syaratnya.” “Syarat apa?” Puspa mengangkat kedua alisnya. “Kamu nunggunya di tempat tersembunyi. Jangan sampai aku bisa lihat kamu,” kekeh Jarren pelan. “Lho, kenapa harus begitu?” Puspa mengernyitkan dahi bingung. “Takut aku salah fokus, Mpus,” bisik Jarren tepat di telinga istrinya, menyunggingkan senyum miring yang teramat jahil. “Nanti buka
Last Updated : 2026-09-24 Read more