“Jangan bercanda, Jarren,” cetus Puspa tajam. Mata wanita itu menyipit, meneliti setiap senti garis wajah Jarren. Namun tidak ada selapis pun raut jahil, tengil, atau guratan humor yang biasanya bertengger di sana. Rahang Jarren justru mengeras dengan pendar mata yang teramat intens. “Aku nggak bercanda, Mpus,” sahut Jarren. Kernyitan di dahi Puspa semakin dalam. “Terus kenapa kalian sampai berantem karena aku?” Puspa memiringkan kepalanya, menatap Jarren lekat-lekat. Jarren mendengkus pelan, mengalihkan pandangannya sekilas sebelum kembali mengunci manik mata Puspa. “Rangga minta aku buat jauhin kamu, terus aku nggak mau.” Puspa membisu. Tidak ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya, tidak juga ada perubahan pada raut wajahnya yang diliputi kebingungan. “Saat itu kan Rangga lagi gigih banget deketin kamu,” lanjut Jarren, bibirnya mengukir tawa sinis tatkala memori lama itu berputar di kepalanya. “Jadi dia anggap kehadiran aku adalah gangguan buat dia.” Puspa
Last Updated : 2026-09-18 Read more