Lutut Puspa mendadak lemas. Kertas kecil berukuran persegi di jemarinya bergetar hebat, diiringi irama jantung yang berdegup kencang menghantam rongga dada. Melihat perubahan drastis pada istrinya, Jarren bergegas memangkas jarak. “Ada apa, Mpus?” Pria itu merangkul bahu Puspa, tatapannya sarat khawatir. Puspa mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menguasai pasokan udara di tenggorokannya yang terasa sangat kering. Tanpa sanggup bersuara, Puspa mengulurkan kertas mawar putih itu ke hadapan suaminya. Jarren menerimanya, lalu membaca kata-kata yang tertera di sana. Seketika, alis tegapnya bertaut rapat, rahangnya mengeras tajam. “Pengirimnya sudah pasti Rangga, kan, Mas, kalau begini?” cecar Puspa panik, menggenggam erat pergelangan tangan Jarren. “Maudy sudah ditahan, dan yang tahu soal utang tujuh ratus juta itu cuma kita dan keluargaku. Kak Rangga pasti masih punya akses entah ke Ibu atau Kak Marsya.” Memori ucapan Maudy di koridor apartemen mendadak melesak liar di k
Last Updated : 2026-10-01 Read more