Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / tabrakan (part 3)

Share

tabrakan (part 3)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-07 11:52:26

Wandi menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering meski baru minum. Angka biru di atas kepala pria paruh baya itu menyala terang, jauh lebih besar daripada angka hijau yang dilihatnya tadi.

Delapan juta empat ratus lima puluh satu ribu dua ratus tiga puluh. Angka itu berkedip pelan, stabil, seolah memiliki ritme sendiri.

“Warna… warnanya berbeda,” gumam Wandi tanpa sadar, suaranya hampir hilang di antara deru kendaraan.

Pria itu mengernyitkan dahi dalam-dalam, garis-garis di wajahnya semakin kentara. “Angka? Maksudmu apa, Nak?”

Wandi mengangkat tangan yang gemetar, menunjuk ke atas kepala pria itu. “Di atas kepala Bapak. Angka biru. Delapan juta empat ratus lima puluh satu ribu dua ratus tiga puluh.”

Pria paruh baya itu terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Bahunya naik-turun, tangannya menepuk pelan lengan Wandi seperti menenangkan anak kecil. “Wah, Nak. Bapak tidak lihat apa-apa di situ. Mungkin kepalamu kena benturan keras tadi. Istirahat dulu, ya. Nanti ambulans datang, Bapak temani ke rumah sakit.”

Wandi ingin menjelaskan lebih lanjut, tetapi lidahnya terasa berat. Matanya beralih ke trotoar seberang jalan. Lubang got terbuka setengah, tutup besinya miring. Bau amis dan busuk naik perlahan dari dalamnya, bercampur bau asap knalpot. Dari kegelapan lubang itu, sesuatu bergerak.

Seekor tikus besar merangkak keluar. Bulunya abu-abu kotor, basah mengilap oleh air got. Matanya kecil, merah menyala seperti dua titik bara. Tikus itu berhenti sejenak di pinggir trotoar, hidungnya bergerak-gerak mencium udara, ekornya menyapu aspal perlahan, tak peduli dengan keramaian orang dan kendaraan di sekitarnya.

Di atas kepala tikus itu, melayang rendah, terlihat angka merah yang menyala terang. Bukan hijau, bukan biru. Merah seperti lampu rem yang mendadak menyala di malam gelap. Merah seperti darah segar yang masih mengalir dari luka di kepala Wandi. Angkanya berformat berbeda: 00:00:07. Hitungan mundur. Jam, menit, detik.

00:00:06

Wandi merasa napasnya tertahan. Tangan yang memegang botol air mulai gemetar hebat, jari-jarinya memutih saat mencengkeram botol plastik.

00:00:05

“Tikus itu…” bisiknya, suaranya hampir tak keluar.

Pria paruh baya itu menoleh ke arah yang sama. “Tikus? Biasa saja, Nak. Di Jakarta ini banyak. Jangan dipikirkan.”

00:00:04

Tikus itu mulai menyeberang jalan dengan langkah cepat, kaki-kaki kecilnya berlari di aspal panas. Angka merah terus berdenyut.

00:00:03

00:00:02

Wandi ingin berteriak, ingin memperingatkan. Tetapi siapa yang percaya? Siapa yang peduli dengan seekor tikus got di tengah kemacetan Thamrin?

00:00:01

00:00:00

Angka merah itu berhenti di nol. Diam. Tak berkedip lagi.

Pada detik yang sama, truk sampah besar melaju dari arah kanan. Ban belakangnya yang lebar dan berat menggilas tikus itu tanpa ampun. Bunyi kres basah terdengar jelas, menusuk telinga Wandi meski dikelilingi klakson dan suara mesin.

Tubuh mungil itu hancur seketika. Darah dan isi perut memercik kecil ke aspal, bercampur debu dan oli. Truk terus melaju, tak berhenti.

Bangkai tikus tergeletak diam. Angka merah di atasnya sudah lenyap.

Botol air di tangan Wandi terlepas. Air yang tersisa tumpah perlahan ke ubin trotoar, membentuk genangan kecil yang cepat meresap. Mulutnya terbuka, tetapi tak ada suara. Matanya terkunci pada titik kecil itu, bangkai yang tak lagi bergerak, yang tak lagi memiliki angka.

“Tuhan…” bisiknya akhirnya, suaranya serak.

Pria paruh baya itu menatapnya khawatir. “Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali. Seperti habis melihat hantu.”

Wandi perlahan menegakkan tubuh. Lututnya masih lemas, pergelangan tangan kiri berdenyut nyeri, tetapi matanya jernih. Terlalu jernih. “Itu angka, Pak,” katanya pelan, tetapi tegas. “Di atas kepala orang-orang. Ada yang hijau, ada yang biru. Yang hijau biasa, berkurang perlahan. Yang biru lebih besar. Tetapi yang merah… yang merah itu hitungan mundur.”

Pria itu mengerutkan kening dalam-dalam. “Hitungan mundur?”

Wandi menunjuk bangkai tikus di jalan. “Tikus tadi. Angkanya merah. Mundur dari tujuh detik. Tepat nol, truk lewat. Persis. Tikus itu mati tepat saat angkanya habis.”

Pria paruh baya itu terdiam lama. Matanya berpindah dari Wandi ke bangkai tikus, lalu ke jalan yang kembali ramai seolah tak ada yang terjadi. Ia mengusap dagunya yang kasar. “Nak… kamu yakin ini bukan karena benturan kepala? Atau syok?”

“Saya waras, Pak,” jawab Wandi. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya mantap. “Saya melihat semuanya. Angka di atas kepala Bapak biru. Masih besar. Mungkin artinya Bapak mempunyai banyak waktu. Tetapi saya tidak tahu satuan waktunya. Saya hanya tahu… ini nyata.”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri, bahunya sedikit membungkuk, memandang Wandi dengan campuran heran dan iba. Angka biru di atas kepalanya terus berkedip perlahan: 8.451.228… 8.451.227…

Wandi menunduk menatap tangannya sendiri. Telapak tangan yang penuh lecet, kukunya hitam oleh minyak mesin motor, jari-jari yang masih gemetar. Tak ada angka di atas kepalanya. Ia mencoba mencari di spion motor yang retak.

Hanya wajah berdarah dan mata lelah yang balas menatap. Tidak ada angka. Tidak ada petunjuk berapa lama lagi waktu yang ia miliki.

“Pak,” kata Wandi tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Bapak hati-hati, ya. Bekerja sebagai satpam, kan? Tetap awasi sekitar. Siapa tahu…”

Pria itu terkekeh gugup, tetapi tawanya tak sampai ke matanya. “Iya, Nak. Bapak akan lebih hati-hati. Kamu sendiri juga. Ini… aneh sekali.”

Wandi tak menjawab. Matanya menerawang ke langit kelabu yang masih mendung berat. Ke arah di mana ia tadi melihat kilatan keperakan sebelum kecelakaan. Langit itu diam saja, tetapi terasa berbeda sekarang, seolah ada yang mengawasi dari balik awan. Sesuatu yang besar, yang tak terlihat, yang mungkin sedang mencatat setiap angka yang berubah di bawah sana.

Ia menggenggam tangannya sendiri, merasakan denyut nadi di pergelangan. Detak. Detak. Detak. Tetapi tanpa angka, ia tak tahu apa artinya. Apakah ia mempunyai waktu yang panjang seperti pria biru itu? Atau hitungan mundur merah yang bisa datang kapan saja?

“Apa ini sebenarnya?” gumam Wandi, suaranya hilang ditelan bising kota. “Kenapa saya?”

Untuk pertama kalinya, dunia terasa terlalu luas. Terlalu penuh rahasia. Wandi, kurir biasa dengan motor butut dan keluarga kecil di rumah, kini berdiri di tengahnya, dengan mata yang melihat terlalu banyak dan hati yang dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Di kejauhan, sirene ambulans semakin dekat. Namun, Wandi tahu, luka di tubuhnya bukan satu-satunya yang perlu disembuhkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 2)

    Vex'Ra menggerakkan tentakelnya lagi. Layar holografik menampilkan gambar Tina yang sedang tidur di kamarnya di rumah Wandi. Wajahnya tenang, napasnya teratur."Komandan, kami juga telah mengamati Tina, mantan istri subjek. Dia telah berubah secara signifikan sejak dia tinggal bersama subjek dan keluarganya.""Berubah bagaimana, Letnan?""Tina dulu egois, penuh dengan rasa takut dan ketidakpercayaan. Sekarang, dia mulai belajar untuk percaya pada orang lain. Dia mulai belajar untuk menerima bantuan. Dia mulai belajar untuk menjadi bagian dari sebuah keluarga.""Ini menarik, Letnan. Subjek W-2771 tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri. Dia juga menyelamatkan orang lain.""Ya, Komandan. Subjek memiliki kemampuan untuk mengubah orang di sekitarnya. Dia membuat mereka menjadi lebih baik."Komandan Thar'Xul berdenyut dengan cahaya keemasan, rasa puas. "Ini adalah data yang sangat berharga, Letnan. Catat semua pengamatan tentang Tina.""Siap, Komandan."Vex'Ra menggerakkan tentakelnya la

  • Kurir Pemilik Sistem   Keputusan Baru (part 1)

    Di atas pesawat alien berbentuk kristal hitam yang mengorbit Bumi, suasana di ruang kendali utama terasa tenang tetapi penuh dengan konsentrasi. Lampu-lampu di langit-langit berwarna biru kehijauan menyala redup, menciptakan suasana yang dingin dan steril. Layar holografik raksasa di hadapan Komandan Thar'Xul menampilkan gambar Bumi dari ketinggian, planet biru yang indah dengan bercak-bercak putih awan, hijau daratan, dan kilauan lampu kota di malam hari. Di sudut kanan layar, ada tampilan lain: gambar Wandi yang sedang duduk di teras rumahnya, merenung di bawah langit malam yang gelap.Komandan Thar'Xul duduk di kursi tertinggi, tubuh plasmanya yang besar berdenyut dengan ritme yang teratur, biru keemasan, warna yang dalam bahasa mereka berarti ketenangan dan kewaspadaan. Matanya yang tidak memiliki kelopak, tetap tertuju pada layar holografik, mengamati setiap detail kehidupan Wandi dengan saksama."Letnan Vex'Ra, laporkan perkembangan terbaru dari Subjek W-2771," perintah Komandan

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 3)

    "Pa, Noval kenyang," ucap Noval sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit."Kenyang, Nak? Alhamdulillah.""Pa, supnya enak banget. Noval mau lagi besok.""Besok Papa buatkan lagi. Tapi Noval harus sehat dulu.""Noval sehat, Pa. Demam Noval udah turun."Wandi menempelkan punggung tangannya ke dahi Noval lagi. Benar, demamnya sudah turun. Tidak setinggi tadi pagi. Wandi tersenyum lega."Syukurlah, Nak. Kamu pasti cepat sembuh.""Pa, Noval mau tidur lagi.""Tidurlah, Nak. Papa di sini."Wandi menurunkan Noval perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia menarik selimut tipis ke atas, menutupi tubuh Noval yang masih hangat. Noval memejamkan matanya, napasnya mulai teratur."Pa, Noval sayang Pa," bisik Noval setengah tidur."Papa juga sayang Noval, Nak. Selamanya."Noval tersenyum dalam tidurnya.Wandi masih duduk di tepi kasur, menatap Noval yang tertidur pulas. Tangannya yang besar mengusap rambut Noval sekali lagi, lalu dia berdiri pelan, berjalan keluar kamar, dan menutup p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 2)

    Noval menggeleng lagi, tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya yang sayu menatap Wandi dengan tatapan yang tidak bisa dia sembunyikan."Pa, Noval rindu Mama."Wandi mengerjap. "Rindu Mama? Mama Arini?""Iya, Pa. Noval rindu Mama."Wandi mengusap rambut Noval. "Mama Arini sedang bekerja, Nak. Dia pergi ke Malaysia. Dia hanya pergi dua minggu."Noval menggeleng. "Tapi Pa, Noval takut...""Takut apa, Nak?""Noval takut kalau... kalau ada orang lain yang akan menggantikan Mama."Wandi terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata Noval menusuk hatinya. Dia teringat kejadian semalam. Tina yang mendekatkan wajahnya, hendak menciumnya. Hampir saja. Hampir saja dia membalas. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar."Noval... anak itu bisa merasakan. Dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Dia bisa merasakan bahwa ada yang mengancam keluarganya.""Noval, tidak ada yang akan menggantikan Mama," ucap Wandi dengan suara tegas."Benaran, Pa? Papa janji?""Papa janji, Noval. Papa tidak akan p

  • Kurir Pemilik Sistem   Sebuah Pertanda (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Hari itu seperti biasa, Wandi bangun, mandi, dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tina sudah bangun sejak lebih awal, membantu Wandi menyiapkan meja makan. Noval dan Nila masih di kamar mereka, mungkin masih tidur atau sedang bermain.Tina memakai daster panjang berwarna krem yang sederhana, rambutnya diikat kuncir santai, dan wajahnya segar tanpa makeup. Dia terlihat lebih tenang pagi ini, tidak ada bekas-bekas kejadian semalam di wajahnya. Mungkin dia sudah benar-benar melupakan atau setidaknya berusaha melupakan. Dia sedang menata piring-piring di meja makan deng

  • Kurir Pemilik Sistem   Malam di Ruang Tamu (part 2)

    "Wan, aku...""Tina, ingat, aku sekarang suaminya Arini. Dan statusmu juga... masih istrinya Andre."Tina menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya."Wan... aku... aku minta maaf. Aku... aku hampir khilaf. Aku tidak bermaksud...""Tina, aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita tidak boleh.""Iya, Wan. Kamu benar. Aku... aku minta maaf."Tina menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, menangis pelan.Wandi melihat Tina yang menangis. Dadanya terasa sesak. Dia tidak ingin melihat Tina menangis. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Tina melakukan hal yang salah."Tin," panggil Wandi dengan suara lembut.Tina tidak menjawab. Dia terus menangis."Tin, lihat aku."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Wandi."Tin, aku mengerti. Aku mengerti bahwa kamu masih memiliki perasaan. Aku juga memiliki perasaan yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah punya Arini. Kamu masih punya Andre. Kita harus m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status