LOGINPada detik yang sama, di depan bapak itu, sekitar 50 meter dari tempat Wandi berdiri, sebuah mobil angkot berhenti mendadak karena ada motor lain yang menyalip seenaknya. Bapak itu yang berada di belakang angkot, tidak sempat mengerem. Motornya oleng ke kanan, tepat di jalur yang seharusnya dilewati truk kontainer.Tapi karena Wandi menahan bapak itu selama beberapa menit, posisinya menjadi terlambat sekitar satu menit dari waktu normal. Truk kontainer yang melaju cepat itu sudah lewat. Bapak itu hanya oleng ke kanan, hampir jatuh, tapi tidak tertabrak.Wandi melihat dari kejauhan. Bapak itu berhasil menyeimbangkan motornya, lalu berhenti di pinggir jalan sambil memegang dada. Dia pasti kaget hampir jatuh, tapi dia selamat.Angka di atas kepalanya sekarang hijau.Wandi mengusap keringat di dahinya. "Teknik pura-pura cek mesin berhasil," bisiknya.---Hari kelima. Wandi sedang berjalan kaki di kawasan Thamrin, tepatnya di dekat tempat dia dulu kecelakaan. Rasanya aneh kembali ke tempat
Pada detik yang sama, dari dalam pasar, terdengar suara berisik. "AWAS! AWAS! TIANG GALON!"Sebuah tiang kayu penyangga galon air mineral di sebuah warung kopi ambruk. Galon-galon berisi 19 liter itu berguling-guling, dan satu di antaranya meluncur ke arah ibu-ibu itu, tepat ke arah tempat di mana seharusnya ibu-ibu itu berdiri jika tidak sedang mengajari Wandi memilih kentang.Tapi karena Wandi memindahkan posisinya dengan mengajak bicara, ibu-ibu itu ikut bergeser sekitar setengah meter ke kiri.Galon itu jatuh tepat di tempat di mana ibu-ibu itu berdiri sebelumnya.BRAK!Galon plastik itu pecah di aspal. Air menyembur ke mana-mana. Ibu-ibu itu terlonjak kaget."Ya ampun! Hampir kena saya!" seru ibu-ibu itu sambil memegang dadanya yang berdebar.Wandi menghela napas lega. Angka di atas kepala ibu-ibu itu berubah dari merah menjadi hijau.78.441Wandi tersenyum. "Untung tidak kena, Bu. Ibu selamat.""Iya, Mas. Alhamdulillah. Ini karena Mas tiba-tiba nanya sayur, jadi saya geser." Ibu
Wandi memandangi motor bebek hijau lumut itu dengan rasa haru. Body-nya sudah diperbaiki total di bengkel Pakde Slamet. Setang yang dulu bengkok kini lurus sempurna. Spion kiri kanan baru, dengan kaca bening tanpa goresan. Lampu depan baru yang terang. Jok baru yang empuk. Cat baru berwarna hijau tua mengkilap, dengan stiker "SURAT CEPAT" yang sengaja Wandi pertahankan meskipun dia sudah tidak bekerja sebagai kurir."Kamu sudah berjasa," bisik Wandi sambil mengelap tangki motor dengan kain lembut. "Dulu kamu temani aku ke mana-mana. Hujan panas kamu temani. Macet-macet kamu temani. Kamu tidak pernah mogok di jalan meskipun kondisimu sudah ringkih. Kamu adalah saksi bisu perjuanganku."Wandi teringat saat pertama kali membeli motor ini. Waktu itu uang tabungannya hanya cukup untuk motor bekas tahun 2010 dengan harga 4 juta. Motor itu sudah bolak-balik bengkel, kadang susah dihidupkan, kadang koplingnya keras, kadang rantainya lepas. Tapi motor itu tidak pernah benar-benar mati. Setiap
Wandi dan Arini berdiri di depan gedung. Udara malam Jakarta dingin, sedikit berdebu, tapi Wandi tidak merasakannya. Yang dia rasakan hanyalah getaran di sakunya, ponsel dengan saldo 25 miliar."Mas Wandi, Mas mau ke mana sekarang?" tanya Arini."Pulang, Rin. Aku harus tidur. Ini terlalu banyak untuk diproses dalam satu malam."Arini tersenyum. "Aku antar, Mas.""Gak usah. Naik taksi saja. Kamu juga pasti capek.""Mas, Mas sekarang punya 25 miliar. Mas naik taksi? Masa sih?"Wandi tertawa. "Belum terbiasa, Rin. Nanti juga terbiasa."Arini menggeleng-geleng. "Mas Wandi, Mas ini... unik. Orang kalau dapat uang banyak, langsung beli mobil, beli rumah, pamer di sosmed. Mas malah tenang.""Bukan tenang. Kaget. Tapi kagetku terbungkus rapi."Mereka berdua tertawa. Sebuah taksi lewat, Wandi menghentikannya."Mas, saya titip pesan," ucap Arini sebelum Wandi naik taksi."Apa?""Jangan lupa... Mas masih punya aku. Kalau Mas butuh teman, untuk berbagi suka dan duka, aku ada."Wandi menatap Arini
Wandi menahan napas. Dua puluh lima miliar. Angka yang bahkan tidak pernah dia bayangkan dalam hidupnya."Transfer sekarang?" tanya Wandi dengan suara serak."Sekarang, kalau Mas setuju.""Setuju. Tanpa nego."Sarah mengerjap. "Mas Wandi tidak mau tawar lebih tinggi?"Wandi tersenyum. "Mbak Sarah, saya orang sederhana. Saya tidak tahu harga pasaran meteorit. Tapi saya percaya Mbak Sarah dan NASA tidak akan menipu saya. Lagipula, 25 miliar sudah lebih dari cukup untuk mengubah hidup saya."Sarah tertawa kecil. "Haha... Mas Wandi, Anda orang yang sangat langka. Di era modern ini, hampir tidak ada orang yang tidak menawar.""Percayalah, saya bisa lihat angka di atas barang ini. Saya tahu harga pasarnya sekitar 12 miliar. Mbak Sarah menawar 25 miliar, itu sudah lebih dari dua kali lipat. Saya malah berhutang budi."Sarah dan Arini saling berpandangan. Mata Sarah membeliak."Mas... Mas bisa lihat harga barang? Itu kemampuan Mas?" tanya Sarah."Iya. Itu sebabnya saya tahu batu ini bukan bat
Wandi keluar dari kontrakan, mengunci pintu, dan berjalan ke ujung gang. Di sana, sebuah mobil sudah menunggu.Bukan sedan mewah milik Arini. Bukan motor Ninja. Tapi sebuah Alphard hitam, mobil mewah yang biasanya dipakai pejabat atau artis. Kaca filmnya sangat gelap, tidak bisa melihat ke dalam.Pintu samping terbuka otomatis. Arini duduk di kursi tengah, tersenyum ke arah Wandi."Naik, Mas. Ini mobil sewaan. Sarah yang bayar."Wandi naik. Jok kulitnya empuk, dingin karena AC yang menyala sejak tadi. Dia duduk di samping Arini, dan pintu menutup dengan sendirinya."Wah, mewah, Rin," ucap Wandi sambil melihat sekeliling. Ada TV kecil di langit-langit, ada kulkas mini berisi minuman dingin, ada lampu ambient berwarna biru lembut."Biasa aja, Mas. Yang penting kita sampai dengan selamat."Sopir, seorang pria berpakaian rapi, mulai menarik mobil. Alphard melaju mulus di jalanan Cipinang yang berlubang. Suspensinya sangat halus, Wandi hampir tidak merasakan getaran."Rin, Sarah datang dar







