首頁 / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / tabrakan (part 4)

分享

tabrakan (part 4)

作者: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-07 11:54:07

Tiga puluh menit kemudian, Wandi duduk di pinggir Jalan Thamrin dengan satu botol air mineral kosong di sampingnya. Ambulans sudah datang, tetapi Wandi menolak untuk dibawa ke rumah sakit.

Ia hanya meminta dibalut luka-lukanya dan diberikan obat pereda nyeri. Para petugas medis awalnya keberatan, tetapi setelah melihat Wandi bisa berdiri dan berjalan tanpa bantuan, meskipun pincang, mereka akhirnya mengalah.

"Saya yang bertanggung jawab secara pribadi," kata Wandi tegas. "Saya tidak punya BPJS. Kesehatan saya hanya kartu murah dari kantor yang hanya bisa untuk berobat jalan di klinik, bukan rumah sakit besar."

Petugas medis itu hanya menggeleng. "Bapak seharusnya lebih peduli pada kesehatan sendiri."

"Kesehatan nomor dua, Pak. Utang nomor satu."

Pria satpam yang memberi air mineral tadi masih setia menemani. Namanya Pak Haryo, berusia lima puluh enam tahun, dan bekerja di gedung perkantoran tidak jauh dari lokasi kejadian. Ia memilih pulang terlambat daripada meninggalkan Wandi sendirian.

"Nak, kamu yakin tidak usah diantar?" tanya Pak Haryo.

Wandi menggeleng. "Motor saya masih bisa berjalan, Pak. Hanya setang agak miring, lampu depan pecah, spion putus satu. Tetapi mesin masih berbunyi. Sudah saya coba."

"Tetapi kamu sendiri yang bilang tadi, kamu melihat angka-angka aneh. Bukankah itu pertanda kamu perlu istirahat?"

"Bukan, Pak. Itu tanda bahwa saya harus lebih waspada." Wandi menoleh ke Pak Haryo, lalu matanya beralih ke angka di atas kepala pria itu. Angka biru 8.451.229. Satu angka berkurang. Jadi berkurang satu per menit? Karena terakhir Wandi melihat masih 8.451.230, tiga puluh menit yang lalu. Berarti satu menit satu angka. Jadi satuannya adalah menit. Delapan setengah juta menit.

Wandi menghitung cepat dalam hati. Delapan setengah juta menit dibagi 60 sama dengan 141 ribu jam. Dibagi 24 sama dengan 5.896 hari. Dibagi 365 sama dengan 16,1 tahun. Pak Haryo masih mempunyai sekitar 16 tahun lagi. Warna biru mungkin menunjukkan bahwa angkanya di atas rata-rata, atau mungkin menunjukkan sesuatu yang lain.

"Pak, Bapak merokok?" tiba-tiba Wandi bertanya.

"Eh? Tidak. Bapak tidak merokok sejak lima tahun lalu."

"Minum alkohol?"

"Tidak pernah."

"Punya riwayat sakit jantung? Diabetes? Darah tinggi?"

Pak Haryo mengernyit bingung. "Alhamdulillah, sehat. Hanya agak rematik kalau musim hujan. Kenapa bertanya-tanya begitu, Nak?"

Wandi tersenyum tipis. "Tidak, Pak. Hanya penasaran. Angka Bapak biru. Sedangkan yang lain hijau. Tikus yang mati tadi merah. Saya mencoba menebak, mungkin warna itu menunjukkan... risiko? Atau kondisi kesehatan? Atau sisa waktu yang panjang? Warna biru mungkin bagus, hijau biasa, merah bahaya. Tetapi saya belum tahu pasti."

"Kok kamu bisa berpikir begitu? Tidakkah pusing?"

"Justru dengan berpikir, saya jadi lupa kalau kepala saya pusing, Pak." Wandi tertawa kecil, meskipun tawa itu membuat dadanya terasa sakit. "Pokoknya terima kasih banyak, Pak, untuk air dan perhatiannya. Saya mau lanjut mengantar paket dulu."

"Nak, gila kali! Kamu baru kecelakaan, darah masih mengalir dari hidung, mau lanjut kerja?!"

"Tiga paket ini harus sampai sebelum jam dua, Pak. Sekarang sudah jam setengah dua. Saya tidak mau pelanggan mengomplain. Komplain satu saja dipotong lima puluh ribu. Lumayan untuk beli susu anak."

Pak Haryo terdiam. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Anak muda zaman sekarang, ya. Matinya kerja."

"Bukan mati kerja, Pak. Mati berusaha. Agar anak tidak mati kelaparan."

Wandi berdiri dengan susah payah. Kakinya yang kiri terasa kaku, pergelangan tangannya yang kanan terasa bengkak dibalut perban, dan kepala masih berdenyut-denyut. Tetapi ia sudah memutuskan. Ia akan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, baru ia pulang ke rumah dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

"Pak Haryo, mungkin kita bertemu lagi," kata Wandi sambil mengacungkan tangan kirinya, yang satunya lagi masih sakit jika digerakkan.

"Kamu hati-hati di jalan, ya. Istirahat jika pusing," pesan Pak Haryo.

Wandi mengangguk dan berjalan ke motornya. Mesin motor menyala dengan suara yang tidak biasa, sedikit lebih kasar dari biasanya. Tetapi itu tidak masalah. Yang penting bisa berjalan.

Sebelum memacu motor, Wandi menoleh sekali lagi ke kerumunan yang perlahan mulai bubar. Matanya melihat angka-angka di atas kepala mereka semua. Hijau. Hijau semua. Angka-angka yang terus berkurang satu per satu setiap detik. Setiap detik, waktu kehidupan mereka berkurang. Namun, mereka tidak tahu. Mereka sama sekali tidak tahu.

"Hidup itu hanya hitungan mundur," gumam Wandi. "Dan tidak ada yang tahu kapan angkanya sampai nol."

Ia menarik gas. Motor melaju perlahan ke tengah jalan, bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai ramai. Wandi tersenyum getir. Dulu ia khawatir telat mengantar paket. Sekarang, ia khawatir tentang sesuatu yang jauh lebih besar.

Namun, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya, seperti laser yang tak bisa berhenti.

"Apa ini sebenarnya?"

Di atas sana, empat ratus kilometer di atas permukaan Bumi, di dalam pesawat alien berbentuk kristal hitam, Komandan Thar'Xul dan Letnan Vex'Ra masih memantau. Cahaya Komandan Thar'Xul berubah menjadi ungu, tanda kepuasan.

"Subjek W-2771 mulai menunjukkan adaptasi," lapor Vex'Ra. "Dia sudah mengamati korelasi antara warna merah dan kematian. Sistem Angka Kehidupan teraktivasi dengan sempurna."

Komandan Thar'Xul berdenyut perlahan. "Laporkan ke Dewan Tinggi. Eksperimen tahap pertama berhasil. Kita tunggu perkembangan selanjutnya."

"Apakah kita akan terus memantaunya, Komandan?"

"Tentu. Eksperimen ini baru dimulai, Letnan. Pria bernama Wandi itu baru saja menyadari bahwa dia bisa melihat angka kematian. Tetapi dia belum tahu apa arti sebenarnya. Dan dia belum tahu..." Thar'Xul berhenti sejenak. Cahayanya berubah menjadi putih, warna yang misterius. "...bahwa dia juga bisa mengubahnya."

Wandi terus melaju di jalanan Jakarta yang macet, dengan tiga paket di boks belakang, dengan luka di sekujur tubuh, dan dengan sebuah kemampuan baru yang tidak ia minta. Di atas kepala setiap manusia yang ia lewati, angka-angka terus berjalan. Hijau, biru, sesekali merah. Semuanya menuju ke titik yang sama. Nol.

Termasuk milik Wandi sendiri, meskipun ia belum bisa melihatnya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru (part 3)

    Pada detik yang sama, di depan bapak itu, sekitar 50 meter dari tempat Wandi berdiri, sebuah mobil angkot berhenti mendadak karena ada motor lain yang menyalip seenaknya. Bapak itu yang berada di belakang angkot, tidak sempat mengerem. Motornya oleng ke kanan, tepat di jalur yang seharusnya dilewati truk kontainer.Tapi karena Wandi menahan bapak itu selama beberapa menit, posisinya menjadi terlambat sekitar satu menit dari waktu normal. Truk kontainer yang melaju cepat itu sudah lewat. Bapak itu hanya oleng ke kanan, hampir jatuh, tapi tidak tertabrak.Wandi melihat dari kejauhan. Bapak itu berhasil menyeimbangkan motornya, lalu berhenti di pinggir jalan sambil memegang dada. Dia pasti kaget hampir jatuh, tapi dia selamat.Angka di atas kepalanya sekarang hijau.Wandi mengusap keringat di dahinya. "Teknik pura-pura cek mesin berhasil," bisiknya.---Hari kelima. Wandi sedang berjalan kaki di kawasan Thamrin, tepatnya di dekat tempat dia dulu kecelakaan. Rasanya aneh kembali ke tempat

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru (part 2)

    Pada detik yang sama, dari dalam pasar, terdengar suara berisik. "AWAS! AWAS! TIANG GALON!"Sebuah tiang kayu penyangga galon air mineral di sebuah warung kopi ambruk. Galon-galon berisi 19 liter itu berguling-guling, dan satu di antaranya meluncur ke arah ibu-ibu itu, tepat ke arah tempat di mana seharusnya ibu-ibu itu berdiri jika tidak sedang mengajari Wandi memilih kentang.Tapi karena Wandi memindahkan posisinya dengan mengajak bicara, ibu-ibu itu ikut bergeser sekitar setengah meter ke kiri.Galon itu jatuh tepat di tempat di mana ibu-ibu itu berdiri sebelumnya.BRAK!Galon plastik itu pecah di aspal. Air menyembur ke mana-mana. Ibu-ibu itu terlonjak kaget."Ya ampun! Hampir kena saya!" seru ibu-ibu itu sambil memegang dadanya yang berdebar.Wandi menghela napas lega. Angka di atas kepala ibu-ibu itu berubah dari merah menjadi hijau.78.441Wandi tersenyum. "Untung tidak kena, Bu. Ibu selamat.""Iya, Mas. Alhamdulillah. Ini karena Mas tiba-tiba nanya sayur, jadi saya geser." Ibu

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru (part 1)

    Wandi memandangi motor bebek hijau lumut itu dengan rasa haru. Body-nya sudah diperbaiki total di bengkel Pakde Slamet. Setang yang dulu bengkok kini lurus sempurna. Spion kiri kanan baru, dengan kaca bening tanpa goresan. Lampu depan baru yang terang. Jok baru yang empuk. Cat baru berwarna hijau tua mengkilap, dengan stiker "SURAT CEPAT" yang sengaja Wandi pertahankan meskipun dia sudah tidak bekerja sebagai kurir."Kamu sudah berjasa," bisik Wandi sambil mengelap tangki motor dengan kain lembut. "Dulu kamu temani aku ke mana-mana. Hujan panas kamu temani. Macet-macet kamu temani. Kamu tidak pernah mogok di jalan meskipun kondisimu sudah ringkih. Kamu adalah saksi bisu perjuanganku."Wandi teringat saat pertama kali membeli motor ini. Waktu itu uang tabungannya hanya cukup untuk motor bekas tahun 2010 dengan harga 4 juta. Motor itu sudah bolak-balik bengkel, kadang susah dihidupkan, kadang koplingnya keras, kadang rantainya lepas. Tapi motor itu tidak pernah benar-benar mati. Setiap

  • Kurir Pemilik Sistem   25 Miliar Semalam (part 3)

    Wandi dan Arini berdiri di depan gedung. Udara malam Jakarta dingin, sedikit berdebu, tapi Wandi tidak merasakannya. Yang dia rasakan hanyalah getaran di sakunya, ponsel dengan saldo 25 miliar."Mas Wandi, Mas mau ke mana sekarang?" tanya Arini."Pulang, Rin. Aku harus tidur. Ini terlalu banyak untuk diproses dalam satu malam."Arini tersenyum. "Aku antar, Mas.""Gak usah. Naik taksi saja. Kamu juga pasti capek.""Mas, Mas sekarang punya 25 miliar. Mas naik taksi? Masa sih?"Wandi tertawa. "Belum terbiasa, Rin. Nanti juga terbiasa."Arini menggeleng-geleng. "Mas Wandi, Mas ini... unik. Orang kalau dapat uang banyak, langsung beli mobil, beli rumah, pamer di sosmed. Mas malah tenang.""Bukan tenang. Kaget. Tapi kagetku terbungkus rapi."Mereka berdua tertawa. Sebuah taksi lewat, Wandi menghentikannya."Mas, saya titip pesan," ucap Arini sebelum Wandi naik taksi."Apa?""Jangan lupa... Mas masih punya aku. Kalau Mas butuh teman, untuk berbagi suka dan duka, aku ada."Wandi menatap Arini

  • Kurir Pemilik Sistem   25 Miliar Semalam (part 2)

    Wandi menahan napas. Dua puluh lima miliar. Angka yang bahkan tidak pernah dia bayangkan dalam hidupnya."Transfer sekarang?" tanya Wandi dengan suara serak."Sekarang, kalau Mas setuju.""Setuju. Tanpa nego."Sarah mengerjap. "Mas Wandi tidak mau tawar lebih tinggi?"Wandi tersenyum. "Mbak Sarah, saya orang sederhana. Saya tidak tahu harga pasaran meteorit. Tapi saya percaya Mbak Sarah dan NASA tidak akan menipu saya. Lagipula, 25 miliar sudah lebih dari cukup untuk mengubah hidup saya."Sarah tertawa kecil. "Haha... Mas Wandi, Anda orang yang sangat langka. Di era modern ini, hampir tidak ada orang yang tidak menawar.""Percayalah, saya bisa lihat angka di atas barang ini. Saya tahu harga pasarnya sekitar 12 miliar. Mbak Sarah menawar 25 miliar, itu sudah lebih dari dua kali lipat. Saya malah berhutang budi."Sarah dan Arini saling berpandangan. Mata Sarah membeliak."Mas... Mas bisa lihat harga barang? Itu kemampuan Mas?" tanya Sarah."Iya. Itu sebabnya saya tahu batu ini bukan bat

  • Kurir Pemilik Sistem   25 Miliar Semalam (part 1)

    Wandi keluar dari kontrakan, mengunci pintu, dan berjalan ke ujung gang. Di sana, sebuah mobil sudah menunggu.Bukan sedan mewah milik Arini. Bukan motor Ninja. Tapi sebuah Alphard hitam, mobil mewah yang biasanya dipakai pejabat atau artis. Kaca filmnya sangat gelap, tidak bisa melihat ke dalam.Pintu samping terbuka otomatis. Arini duduk di kursi tengah, tersenyum ke arah Wandi."Naik, Mas. Ini mobil sewaan. Sarah yang bayar."Wandi naik. Jok kulitnya empuk, dingin karena AC yang menyala sejak tadi. Dia duduk di samping Arini, dan pintu menutup dengan sendirinya."Wah, mewah, Rin," ucap Wandi sambil melihat sekeliling. Ada TV kecil di langit-langit, ada kulkas mini berisi minuman dingin, ada lampu ambient berwarna biru lembut."Biasa aja, Mas. Yang penting kita sampai dengan selamat."Sopir, seorang pria berpakaian rapi, mulai menarik mobil. Alphard melaju mulus di jalanan Cipinang yang berlubang. Suspensinya sangat halus, Wandi hampir tidak merasakan getaran."Rin, Sarah datang dar

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status