Wandi meraih tangan Arini. "Aku akan mendukung semua rencanamu, Rin. Jangka pendek, menengah, panjang. Apa pun."Arini tersenyum. "Terima kasih, Wan. Aku tahu."Mereka berdua terdiam. Angin berhembus, membawa daun-daun kering yang berputar-putar di udara. Di sungai, air terus mengalir, tidak pernah berhenti, seperti waktu yang tidak pernah bisa diulang."Rin, lihat!" tiba-tiba Wandi membelalakkan matanya.Arini mengikuti arah pandangan Wandi. Di sungai, sekitar sepuluh meter dari tempat mereka duduk, air mengalir cukup jernih sehingga dasar sungai terlihat. Di antara batu-batu kerikil dan pasir, ada sesuatu yang bersinar.Bukan kilauan biasa. Bukan pantulan sinar matahari dari kaca atau logam biasa. Tapi kilauan yang hangat, yang terasa... hidup. Kilauan yang seolah-olah memanggil Wandi, menarik perhatiannya, membuatnya tidak bisa berpaling."Wan, ada apa?" tanya Arini bingung. "Kamu lihat apa?""Cahaya, Rin. Di sungai. Di bawah air. Ada yang bersinar."Arini memicingkan mata. Dia mel
Last Updated : 2026-08-06 Read more