Arini tersenyum malu. "Belum, Pak. Masih pacar.""Wah, cantik. Cocok sama Mas Wandi. Silakan duduk di depan, dekat panggung. Pemandangan sungainya bagus dari sana.""Terima kasih, Pak Haji."Wandi dan Arini berjalan ke area depan tenda, dekat panggung kayu kecil. Mereka duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah agak usang, dengan bantal-bantal kecil di belakang untuk bersandar. Dari tempat ini, mereka bisa melihat sungai yang mengalir pelan, cahaya lampu dari perumahan di seberang yang terpantul di permukaan air, dan langit malam yang mulai dipenuhi bintang-bintang redup.Seorang pelayan muda, mungkin cucu Pak Haji, datang menghampiri."Mas Wandi, pesan apa?"Wandi menoleh ke Arini. "Rin, kamu mau apa?""Ini jualannya apa saja?""Biasa angkringan. Nasi kucing, sate telur, gorengan, wedang jahe, kopi, teh, dan gooday."Arini tersenyum mendengar 'gooday'. "Gooday? Serius? Jual gooday di angkringan?""Iya. Gooday coklat, gooday mocca, gooday cappucino, dan gooday vanilla.""Gooday ca
Last Updated : 2026-08-04 Read more