"Wan, nanti beli 50 kotak, ya. Untuk kantor pusat.""50 kotak? Rin, bakpia lebih kecil dari talas. Tapi 50 kotak tetap berat.""Tidak apa. Nanti kita bawa bertahap."Antrean bergerak maju perlahan. Wandi mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi pesan singkat, mengetik sesuatu, lalu menyimpannya."Siapa, Wan?""Tidak ada. Cuma pesan ke Pak Dadang, minta tolong jaga mobil kantor. Takut ada yang usil.""Kamu baik, Wan."Setelah sekitar lima belas menit, giliran mereka tiba. Penjual bakpia, seorang pria muda dengan kumis tipis dan topi putih, menyapa."Mbak, Mas, mau bakpia berapa?""50 kotak, Mas. Campur: kacang hijau 20, coklat 15, keju 15.""Baik, Mbak. 50 kotak. Saya bungkus."Penjual itu dengan lincah memasukkan kotak-kotak bakpia ke dalam kardus. Arini membayar, sekitar 1,5 juta rupiah. Wandi membantu membawa kardus itu ke gerobak dorong yang sudah mulai penuh."Rin, talas sama bakpia sudah. Sekarang apa lagi?""Keripik dan brownies."Kios keripik berada di ujung pasar. Berbagai macam
Last Updated : 2026-08-09 Read more