Tiano menyampaikan kabar pada Arka Malik dengan nada santai, namun raut wajah mantan prajurit itu langsung pucat pasi. Sepasang matanya menghujam amplop cokelat di tangan Tiano—berkas pernyataan yang siap meremukkan hidupnya. Arka hanya membisu, memegangi map yang disodorkan Tiano dengan genggaman begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, tanpa sedikit pun menanggapi ucapan sang asisten."Maaf sedikit lama. Ini tehnya, silakan diminum," ucap Gisel ramah seraya meletakkan cangkir di atas meja tamu. Ia lalu menoleh pada suaminya yang mendadak mematung tegang. "Kamu kenapa, Sayang? Kenapa mendadak diam begini?""Gak apa-apa, Sayang. Kayaknya aku gak sempat sarapan di rumah," ujar Arka cepat, mencoba setengah mati menyembunyikan gelombang panik yang meremas dadanya. Setiap inci tubuh tegapnya terasa kaku, tertembak ketakutan bahwa Gisel akan menyadari gemetar samar di tangannya. "Bawakan bekal aja, nanti aku makan di mobil.""Oh, ok. Aku siapin dulu," jawab Gisel. Ia menduga sikap ca
Last Updated : 2026-07-30 Read more