Ajeng menatap Roni dengan mata berkaca-kaca, "Apa kamu mau meniduri Mina? Seperti yang kamu lakukan pada banyak wanita? Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semua itu?" Roni mencoba bangkit, tapi Ajeng menahannya, "Ajeng, dengar dulu—" "Tidak!" potong Ajeng, suaranya tegas, "Aku sudah cukup mendengar dan sudah cukup terlalu lama diam. Malam ini, aku hampir kehilangan segalanya karena Bram. Dan kau... kau yang selama ini aku inginkan, kau justru tak memberiku kesempatan." Roni menatap Ajeng, melihat campuran antara amarah, ketakutan, dan hasrat yang membara di matanya. Ia merasakan berat tubuh Ajeng di atasnya, kehangatan tangannya di dadanya. "Ajeng... aku hanya tidak mau kamu terluka." "Aku sudah terluka, Ron," jawab Ajeng, suaranya melunak, "Aku terluka karena kamu pergi dari desa tanpa memberiku sesuatu. Kamu sama saja menelantarkanku tanpa kenang-kenangan." Roni terdiam, merasakan tusukan di dadanya. "Ajeng, aku..." "Jangan berkata apa-apa," bisik Ajeng, lalu ia
Last Updated : 2026-09-12 Read more