LOGINAjeng menatap Roni dengan mata berkaca-kaca, "Apa kamu mau meniduri Mina? Seperti yang kamu lakukan pada banyak wanita? Kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan semua itu?" Roni mencoba bangkit, tapi Ajeng menahannya, "Ajeng, dengar dulu—" "Tidak!" potong Ajeng, suaranya tegas, "Aku sudah cukup mendengar dan sudah cukup terlalu lama diam. Malam ini, aku hampir kehilangan segalanya karena Bram. Dan kau... kau yang selama ini aku inginkan, kau justru tak memberiku kesempatan." Roni menatap Ajeng, melihat campuran antara amarah, ketakutan, dan hasrat yang membara di matanya. Ia merasakan berat tubuh Ajeng di atasnya, kehangatan tangannya di dadanya. "Ajeng... aku hanya tidak mau kamu terluka." "Aku sudah terluka, Ron," jawab Ajeng, suaranya melunak, "Aku terluka karena kamu pergi dari desa tanpa memberiku sesuatu. Kamu sama saja menelantarkanku tanpa kenang-kenangan." Roni terdiam, merasakan tusukan di dadanya. "Ajeng, aku..." "Jangan berkata apa-apa," bisik Ajeng, lalu ia
Ajeng mengangkat kepalanya, tapi ekspresinya berubah gelisah. "Aku tidak setuju dengan usul itu, Mina." Mina terkejut, "Kenapa? Kita punya bukti. Kita bisa melaporkan Bram dan jaringannya." Ajeng menggeleng cepat, "Kamu nggak mengerti. Meski aku sudah merekam dan menyimpan bukti percakapan telepon Bram dengan Rangga. Tapi aku juga mendengar hal lain dalam percakapan itu." Ia menatap Roni, "Bram menyebut nama-nama orang penting. Ada pejabat di kota, ada pengusaha, dan..." ia berhenti sejenak, "ada juga orang di kepolisian. Jaringan Bos Mulyo sudah menyusup ke mana-mana. Kalau kita melapor, bukannya perlindungan yang kita dapat, malah kita yang akan dihabisi." Mina membeku, "Apakah seseram itu?" Ajeng mengangguk, "Itu sebabnya aku tidak pernah melaporkan apa pun. Aku takut. Kalau aku melapor, bukan hanya aku yang dalam bahaya, tapi juga bapakku di desa." Roni mengangguk, merasakan keputusasaan yang mendalam. Ia menatap Ajeng, lalu menatap Mina yang duduk di kursi dengan ekspre
"Roni?! Siapa dia?!" tanya Mina dengan nada campuran antara terkejut dan cemburu. Roni dan Ajeng sama-sama menoleh. Roni segera menghampiri, berusaha menjelaskan, "Mina, ini Ajeng. Dia temanku dari desa. Dia... dalam masalah." Mina menatap Ajeng dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu kembali ke Roni. "Temanmu? Dari desa? Dan masalah apa yang membuatnya sampai di sini?" Roni menghela napas, "Ini cerita panjang, Mina. Tapi aku janji akan menjelaskan semuanya." Ajeng yang masih duduk di tepi ranjang, menunduk malu, "Maaf, Mbak. Aku tidak bermaksud mengganggu. Aku hanya..." Mina menghela napas, lalu berjalan mendekat, "Sudahlah. Kita bicarakan ini dengan tenang. Tapi pertama, aku mau ganti baju dulu." Mina menghilang ke kamar mandi untuk berganti pakaian, meninggalkan Roni dan Ajeng dalam keheningan yang canggung. Roni menatap Ajeng, lalu menunduk, merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. "Ajeng," katanya pelan, "aku minta maaf. Semua ini terjadi karena aku. K
Ajeng masih memegang asbak itu dengan tangan gemetar, napasnya tersengal-sengal. Matanya menatap Bram dengan tatapan yang keras, berbeda dari sebelumnya. "Aku tidak mau melakukan ini, Mas! Aku tidak mau!" Bram mengusap pelipisnya, masih terkejut, "Tapi tadi kau setuju! Kau bilang tidak masalah!" Ajeng menatap Bram dengan mata yang berubah—tidak lagi penuh ketakutan, tapi penuh keberanian yang Roni tidak pernah lihat sebelumnya. "Aku sengaja mendekatimu untuk membunuhmu!" suaranya tegas, "Aku tahu semua kebusukanmu! Aku tahu kau dalang di balik kasus Roni!" Roni yang masih tak terlihat di sudut ruangan, terkejut mendengar itu. Dadanya berdegup kencang. Bram? Dalang di balik semua yang menimpanya? Ajeng melanjutkan, "Aku mendengar percakapan teleponmu dengan Rangga sebelum kejadian! Kau yang mengatur agar Roni dituduh seolah memperkosa Mbak Heni! Kau yang menyuruhnya memprovokasi warga!" Bram terdiam, wajahnya berubah pucat, lalu merah karena amarah. "Kau jangan asal bicar
Roni masih berdiri di sudut ruangan tanpa terlihat. Pemandangan di depannya seolah mengiris hatinya, meski ia sadar tidak memiliki hak atas Ajeng. Bram mendekatkan wajahnya ke pipi Ajeng. Namun Ajeng justru menarik diri dari pangkuan Bram. "Kau kenapa, Ajeng?" Tanya Bram bingung. Ajeng memalingkan muka. "Aku ingin makan dulu sebelum kita berhubungan." "Apa? berhubungan?" Roni berteriak namun suaranya tetap tak terdengar oleh mereka berdua. Roni mendekat berharap mereka bisa menyadari kehadirannya. "Mas Bram," Panggil Roni di dekat wajah pria itu. "Jangan, Mas Bram! Kenapa kamu tega melakukan ini pada Ajeng?!" Roni semakin panik, ia beralih ke Ajeng yang kini sedang berganti baju di balik lemari yang terbuka untuk menutupi tubuh Ajeng dari Bram maupun Roni. "Ajeng, jangan Ajeng!" Panggil Roni semakin panik. Namun usahanya sia-sia karena dirinya tak dapat dilihat maupun didengar berkat kekuatan Dewi Murni. Tiba-tiba suara ketukan dari luar pintu terdengar. Bram langs
Roni dan Mina melangkah masuk ke lobi hotel yang mewah. Lampu kristal berkilau di langit-langit, dan aroma parfum lembut menyebar di udara. Roni berjalan ke meja resepsionis dengan langkah mantap, sementara Mina mengikuti di belakangnya, sesekali menatap sekeliling dengan kagum."Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan senyum profesional."Saya mau menyewa kamar," kata Roni, "kalau bisa yang di sebelah kamar pria yang baru saja check-in beberapa menit lalu. Pria dengan kemeja batik hitam."Resepsionis mengerjapkan mata, lalu mengecek komputernya, "Oh, kebetulan ada satu kamar kosong tepat di sebelahnya, Pak. Nomor 308." Roni tersenyum tipis, "Saya ambil itu." Setelah proses check-in selesai, Roni dan Mina naik ke lantai tiga. Sesampainya di depan kamar 308, Roni membuka pintu dan membiarkan Mina masuk terlebih dahulu. Kamar itu cukup nyaman, dengan tempat tidur besar dan jendela yang menghadap ke pemandangan kota."Wah, kamarnya bagus," kata Mina, duduk di







