"Bram? Halo? Bram, jawab Kakak!"Kiana berteriak histeris ke layar ponselnya yang masih terhubung. Namun, di seberang sana hanya terdengar sayup-sayup jeritan warga dan sirene ambulans yang menggelar duka di jalanan kota Bandung. Detik berikutnya, sambungan terputus begitu saja, menyisakan nada sibuk yang monoton dan dingin.Tiga hari setelah pemakaman Raisha, suasana di kontrakan Bandung terasa begitu mencekam dalam keheningan. Kiana duduk di tepi ranjang, matanya sembab menatap Bram yang sedang merapikan buku-buku pelajaran di meja belajar. Tidak ada air mata yang tumpah, tidak ada amarah yang meledak dari remaja itu. Ketenangan Bram justru terasa begitu sunyi dan asing, membuat Kiana merasakan ada sesuatu yang telah bergeser dari cara cowok itu menatapnya sekarang."Bram... kalau kamu mau cerita, Kakak ada di sini," bisik Kiana lembut, berusaha memecah dinding tak kasatmata di antara mereka.Bram menghentikan aktivitasnya. Ia berbalik, berjalan mendekat, lalu berlutut tepat di hada
Terakhir Diperbarui : 2026-07-13 Baca selengkapnya