Share

Jerat Manis

last update publish date: 2026-07-15 08:39:49

Aroma kopi hitam dan panggangan roti mendadak menyapa indra penciuman Kiana begitu ia melangkah ke area dapur. Di sana, membelakanginya, Bram sedang sibuk di depan kompor. Pria itu hanya mengenakan celana jin hitam tanpa atasan, memamerkan punggung kokohnya yang dipenuhi guratan bekas kuku Kiana dari pergulatan panas semalam.

"Sudah bangun, Sayang?" Bram menoleh tanpa menghentikan tangannya yang sedang membalik telur. Senyumnya begitu cerah, kontras dengan tatapan predatornya semalam.

Kiana mer
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya (3)

    "Mulai hari ini Mahardika akan melakukan pembersihan pada jajaran komisaris," ucap Bram dengan suara berat yang mengintimidasi. "Sepertinya ada komisaris nakal selain Pak Hadi seperti waktu itu."Hendra dan Jeremy saling pandang dengan raut pucat. Suasana di ruang kerja luas berornamen kayu mahal itu terasa membeku."Jer, kumpulkan seluruh riwayat log akses server selama tiga bulan terakhir, semenjak aku tidak ada dikantor!" perintah Bram tajam. "Aku mau nama orang yang pakai stempel digital itu ada di mejaku dalam waktu sepuluh menit.""Siap, Bram! Aku laksanakan sekarang," jawab Jeremy sigap. Pria itu langsung berbalik dan setengah berlari keluar ruangan.Bram mengalihkan tatapan dinginnya ke arah Hendra. "Dan kamu, Hendra... panggil seluruh jajaran komisaris untuk rapat darurat jam sepuluh pagi ini. Jangan kasih alasan apa pun.""Tapi, Pak Bram... Pak Hendrawan, Komisaris Utama, sedang ada di luar kota..""Paksa dia pulang!" potong Bram menekan. "Kalau dia menolak, bilang saya send

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya (2)

    "Bram! Kamu kenapa?!" Kiana panik. Tangannya gemetar mencoba menahan tubuh Bram yang mendadak oleng di balkon.Bram tak menjawab. Kedua tangannya mencengkeram kepala erat-erat. Pelipisnya berdiet hebat, seolah ada beribu jarum yang menusuk otak secara bersamaan. Nafasnya memburu, berat dan patah-patah.Ckiieeeek! BRAK!Bukan cuma suara rem truk boks di persimpangan jalan basah empat bulan lalu yang berputar di kepalanya. Bukan cuma dentuman keras saat tubuhnya terlempar ke aspal dingin, bersimbah darah malam itu.Ada kilasan memori lain dari malam kelam itu yang mendadak terbuka terang benderang.Malam di mana ia melarikan diri ke kontrakan pinggiran kota. Malam di mana ia bermaksud menghilang dari hidup Kiana demi menyembunyikan sisi gelapnya. Malam di mana jemarinya merogoh saku dalam jaket kulitnya dan menemukan selembar memo merah muda beraroma parfum Kiana.“Kamu pikir dengan bersembunyi dan bisa lari dari aku, Bram? Kamu lupa siapa yang paling tahu isi kepalamu? Berhentilah berb

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya

    Suasana di koridor RSD Harapan Kasih membeku saat ucapan Kiana menggantung di udara. Arini menahan napasnya, menatap Arya dengan tatapan pasrah. Ia tahu, rumah sakit ayahnya selamat hanya jika Arya menyetujui syarat itu.Arya memejamkan mata sejenak. Denyutan hebat di kepalanya mereda, menggantikan kebingungan dengan ketegasan yang utuh. Saat matanya kembali terbuka, sorot mata 'Arya' yang lugu telah sepenuhnya sirna, berganti menjadi tatapan tajam dan dingin milik Bramantya Yudha."Baik, Kiana," ucap Arya, atau Bram, dengan suara berat yang dalam. "Aku ikut kamu pulang ke Jakarta sekarang."Kiana mendesah lega, meski hatinya sedikit tercubit melihat betapa dinginnya tatapan sang suami.Bram berbalik perlahan, menatap Arini yang berdiri menunduk di belakangnya. "Arini, Pak Dharma... terima kasih atas semuanya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian di sini.""Arya..." bisik Arini lirih, air matanya akhirnya menetas."Panggil saya Bramantya," potong Bram singkat, memutus hara

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan (3)

    Malam yang melelahkan itu akhirnya berganti pagi. Namun, ketenangan di RSD Harapan Kasih hancur total saat fajar baru saja menyingsing.Arini baru keluar dari ruang jaga dengan mata yang masih sembap ketika Suster Rina berlari terengah-engah menghampirinya. Wajah perawat muda itu pucat pasi, memegang ponsel dengan tangan gemetar."Dokter Arini! Dokter... bahaya, Dok!" seru Suster Rina panik.Arini mengerutkan dahi, menghentikan langkahnya. "Ada apa, Suster Rina? Kenapa panik begitu?""Video Dokter kemarin malam... video Dokter sama Mas Arya di koridor viral di sosial media!"Arini membeku. "Viral? Video apa?"Suster Rina menyodorkan ponselnya. Di layar kaca, terpampang potongan video yang direkam secara diam-diam dari ujung koridor gelap semalam. Video yang memperlihatkan Arya menyapu air mata Arini dengan begitu intim, disertai narasi huruf kapital tebal:'SKANDAL DOKTER DESA PEREBUT SUAMI ORANG: DUA MINGGU SEMBUNYIKAN SUAMI PENGUSAHA KAYA BRAMANTYA YUDHA!'"Bukan cuma itu, Dok..." s

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan (2)

    Taman RSD Harapan Kasih seketika hening mencekam. Udara siang yang hangat mendadak membeku. Kiana berdiri terpaku, menatap jemari suaminya yang menggenggam erat tangan Arini."Bram... kamu bercanda, kan?" Kiana tertawa sumbang, air mata meluncur makin deras di pipinya yang tirus. "Kamu bercanda, kan?! Aku ini Kiana! Istri kamu!"Arya tak bergeming. Ia justru menyembunyikan Arini sedikit di belakang tubuhnya. "Maaf, Mbak. Saya mengerti Mbak sedang sedih dan kehilangan, tapi saya benar-benar tidak kenal Mbak. Saya Arya, bukan Bram.""Bramantya Yudha!" pekik Kiana histeris, melangkah maju hendak merampas tangan Arya, namun Jeremy bergerak cepat menahannya."Kiana, tenang dulu, Ki!" bisik Jeremy panik."Gimana aku bisa tenang, Jer?! Suamiku di depan mata, tapi dia pegang tangan perempuan lain dan bilang gak kenal aku!" Kiana menepis tangan Jeremy kasar, lalu menunjuk wajah Arini dengan telunjuk bergetar. "Kamu! Dokter macam apa kamu, hah?! Kenapa kamu tahan suami orang di sini padahal kam

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan

    Malam di alun-alun kota terasa membeku bagi Arini. Berita tentang hilangnya pengusaha kaya bernama Bramantya Yudha terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Wajah gagah berbalut jas mewah di layar televisi besar itu adalah pria yang sama dengan yang kini sedang tersenyum menunggunya di seberang jalan dengan kaus polos bersahaja. Arya... atau Bramantya.Berhari-hari setelah malam itu, batin Arini berkecamuk hebat. Setiap kali ia memegang ponselnya, jemarinya gemetar hebat di atas layar. Haruskah ia menghubungi nomor darurat yang tertera di berita itu? Haruskah ia mengembalikan Bramantya kepada keluarganya di ibu kota?"Kalau aku kasih tahu mereka, Arya bakal pergi... Aku bakal kehilangan dia selamanya," bisik Arini pada cermin di kamar mandi rumah sakit. Matanya sembap, menahan beban rahasia yang teramat berat.Namun di sisi lain, nuraninya terus menjerit. Ada wanita lain di luar sana yang mungkin setiap malam menangis dan meratapi hilangnya sang suami. Arini berada di persimpanga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status