بيت / Romansa / Brondongku Psikopat / Pergeseran Takdir

مشاركة

Pergeseran Takdir

مؤلف: KaoruTheLovers
last update تاريخ النشر: 2026-07-13 09:55:44

BRAAAAAKKKK!

Benturan keras itu tetap terjadi di depan lobi drop-off malam itu. Beruntung, gerakan refleks Kiana yang memutar posisi berhasil menghindarkannya dari hantaman fatal moncong mobil merah tersebut. Tubuhnya terlempar ke area tanaman hias, berguling di atas pecahan pot dan aspal yang dingin.

"Kak Kiana!!!"

Pekikan histeris Bram menggema saat kesadaran Kiana perlahan menyusut. Namun kali ini, dunianya tidak menjadi gelap total untuk tujuh tahun ke depan seperti linimasa yang ia ketahui
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Brondongku Psikopat   K A O R U

    Hai readers... Selamat datang di Catatan Penulisku..Aku K A O R U.Ga kerasa sudah sebulan-pas aku menulis disini. Sekarang tgl 8 Agustus 2026.Dari penulis pemula, yang udah seneng karena ada yang baca, kemudian berkembang karena ada yang konsisten terus melanjutkan baca. Terima kasih untuk para readers yang membaca novelku ini.Jangan lupa bantu kasih saran dan masukan di kolom komentar, agar aku bisa berkembang lebih baik di penulisanku. Sekali lagi terima kasih semuanya. Tolong dukung novel ini hingga tamat ya.

  • Brondongku Psikopat   Skakmat

    Firasat buruk Bram terbukti beberapa menit setelah Rendra dan Pak Hadi diseret keluar oleh petugas keamanan. Layar pemantau utama di ruang krisis mendadak berkedip merah menyala. Bunyi sirine darurat sistem keuangan internal berdenging nyaring, memekakkan telinga."Bram! Lihat ini!" jerit Jeremy seraya menunjuk layar komputernya dengan tangan gemetar. "Bursa saham baru saja dibuka, dan... astaga!""Ada apa, Jer?!" Bram melangkah cepat, menumpukan kedua tangannya di meja kerja Jeremy. Matanya membelalak lebar melihat grafik harga saham Mahardika Group yang merosot tajam seperti terjun bebas tanpa parasut."Saham kita ditransaksikan massal di harga terendah!" suara Jeremy panik setengah mati. "Short selling besar-besaran! Investor asing melepas semua portofolio mereka dalam hitungan detik!""Gimana bisa?!" gertak Bram, rahangnya mengeras. "Rekaman Kapten Bambang belum kita rilis! Siapa yang bocorin informasi kapal terbakar ke bursa?!"Pintu ruang krisis didobrak dari luar. Hendra berlar

  • Brondongku Psikopat   Permainan Catur (3)

    Darah Bram serasa berhenti mengalir saat melihat layar proyektor di hadapannya. Kobaran api melahap geladak Mahardika 01 yang terapung tak berdaya di perairan lepas."Gila lo, Rendra!" bentak Jeremy, melangkah maju dan mencengkeram kerah kemeja Rendra dengan murka. "Di dalam kapal itu ada puluhan nyawa awak kapal! Lo mau membunuh orang?!"Rendra tidak melawan. Ia hanya terkekeh pelan, menatap Jeremy tanpa rasa takut sedikit pun."Bukan saya yang membunuh mereka, Om Jer," bisik Rendra dingin. "Tapi keputusasaan kalian. Saya cuma menagih utang masa lalu.""Jer, lepasin dia," pangkas Bram cepat, suaranya dalam dan bergetar menahan gejolak di dadanya.Jeremy menghempaskan Rendra kasar hingga pria muda itu tersungkur ke kursi.Bram merogoh ponselnya dengan gerakan secepat kilat, langsung menekan nomor panggilan darurat. "Hendra! Hubungi Basarnas, Pangkalan Wilayah Laut, dan Direktur Kepolisian Perairan sekarang! Kirim koordinat Mahardika 01 detik ini juga!""Sudah, Pak Bram!" suara Hendra

  • Brondongku Psikopat   Permainan Catur (2)

    "Jer! Kenapa kunci enkripsi lo bisa dipakai buat ngebatalin penerbitan saham baru?!" bentak Bram, suaranya memenuhi kabin Alphard yang mendadak sunyi.Jeremy mencengkeram kemudi dengan erat, wajahnya sepucat kertas. "Demi Tuhan, Bram! Gue gak pernah menyentuh sistem transaksi hari ini! Laptop sama HP gue dari tadi tergeletak di jok belakang!"Bram langsung menoleh ke jok belakang, lalu menyambar laptop milik Jeremy yang masih dalam keadaan menyala. Jarinya menari lincah di atas papan ketik, memeriksa log aktivitas peretasan.Mata Bram membelalak."Transaksinya dilakukan lewat remote access lima belas detik lalu..." bisik Bram. "Perangkat lo udah ditanam program trojan!""Siapa yang bisa nanam program itu ke laptop gue?!" seru Jeremy panik. "Gue gak pernah lepasin laptop ini dari pengawasan!"Bram merogoh ponselnya, menghubungi Hendra kembali lewat tombol speaker. "Hendra! Blokir semua transaksi keluar dari rekening utama sekarang juga!""Gak bisa, Pak Bram!" suara Hendra dari balik te

  • Brondongku Psikopat   Permainan Catur

    Bram menatap layar ponsel di genggamannya tanpa mengedipkan mata. Nama dokumen rahasia itu terpampang jelas, lengkap dengan stempel verifikasi finansial lima belas tahun silam. Di hadapannya, Rendra berdiri dengan pose teramat santai. Tak ada senjata api, tak ada bentakan kasar. Namun, berkas digital itu jauh lebih berbahaya daripada sebutir peluru.Rendra menyesap kembali wine dari gelas kristalnya. Matanya yang tajam mengamati tiap perubahan mikro di raut wajah Bram."Itu draf rahasia transaksi lima belas tahun lalu, Om Bram," ujar Rendra halus, suara beratnya terdengar begitu tenang. "Dokumen yang membuktikan kalau Mahardika Group pernah melakukan rekayasa laporan keuangan hanya untuk menyingkirkan ayah saya dari kursi direksi."Bram merapikan jas hitamnya. Pengalaman berpuluh tahun di dunia bisnis membantunya menguasai emosi dalam hitungan detik."Lo pikir dokumen editan ini bisa meruntuhkan Mahardika?" tantang Bram dingin.Rendra terkekeh pelan. "Bukan dokumennya yang meruntuhkan

  • Brondongku Psikopat   Rendra Mahardika (2)

    Aroma steak wagyu yang terpanggang sempurna dan pasta truffle yang gurih memenuhi ruangan VIP Suite di Hotel Kempinsky. Di meja makan panjang yang berhias lilin aromaterapi, Natasya dan Elano duduk berdampingan. Di hadapan mereka, tersaji berbagai makanan kesukaan yang terasa aneh berada di sana."Makanlah, Natasya. Spaghetti carbonara-nya masih hangat. Elano, steak-mu juga akan dingin kalau cuma dilirik," ujar Rendra Mahardika ramah, memotong daging di piringnya dengan sangat elegan.Natasya menggenggam erat jemari Elano di bawah meja. "Om Rendra siapa? Kenapa tahu makanan kesukaan Tasya sama Kak El?"Rendra terkekeh pelan, meletakkan pisau dan garpunya. Matanya yang dingin menatap kedua anak di depannya. "Saya kenal baik dengan Papa kalian berdua. Sangat kenal, ya anggap aja keponakan jauh. Sayangnya, Om Bram dan Om Jeremy terlalu sibuk untuk sekadar menerima telepon atau ajakan minum kopi dari saya. Jadi... saya harus mengajak 'tamu special mereka' agar mereka mau datang.""Om menc

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status