Kami saling bertatapan. Tidak ada senyum, tidak ada geraman, tidak ada nada suara yang meninggi, bahkan tidak ada kilat amarah liar di matanya. Wajahnya sangat datar, tenang dan dingin. Ini lebih mengerikan dari amukan kemarahan apapun.“Saatnya kamu belajar, Nona Vance. Belajar menanggung konsekuensi atas apa yang kamu perbuat,” ucap Arka pelan.“Huh, belajar? Konsekuensi? Kamu sendiri yang pantas mendapat perlakuan seperti ini.”Senyum tipis mulai terlihat di sudut bibir Arka. “Sepertinya, kamu memang perlu di beri pelajaran, Nona Vance.”Arka mendekatkan wajahnya. “Bagaimana jika kita mulai dari tubuhmu? Kita akan membuat bayi,” bisiknya penuh dominasi.Mataku membulat sempurna. Dia benar-benar berpikir untuk melakukan hal itu?“Aku tidak sudi melakukannya dengan orang sepertimu,” sahutku tajam.Arka kembali terkekeh pelan. “Yakin tidak sudi? Mulut dan tubuhmu tidak sejalan.”Maksudnya? Mulut dan tubuhku tidak sejalan?“Mulutmu berkata tidak sudi. Tapi tubuhmu sama sekali tidak men
Last Updated : 2026-09-05 Read more