LOGINArumi menaruh curiga pada pria yang selalu memakai topi hitam dan menutupi wajahnya itu.Sejak kejadian di pasar beberapa waktu lalu, ia sudah melihat pria itu beberapa kali. Selalu dari kejauhan. Selalu menghilang saat didekati.Mereka tiba di rumah. Elang memarkir motor, lalu membantu Arumi turun. Arumi menatap sekeliling halaman, mencari tanda-tanda keberadaan orang asing, tetapi tidak ada.“Mas, saya nggak nyaman,” kata Arumi pelan.Elang menatapnya, lalu meraih tangannya. “Kamu mau aku periksa sekeliling rumah?”Arumi mengangguk.Elang melangkah memeriksa seluruh halaman, belakang, dan samping rumah. Ia memastikan tidak ada jejak kaki, tidak ada barang aneh, tidak ada tanda-tanda penyusup. Setelah beberapa menit, ia kembali.“Aman. Nggak ada siapa-siapa, kok,” kata Elang.Arumi menghela napas lega, meskipun masih ada sisa kegelisahan di hatinya. “Mungkin saya cuma sal
Esoknya, Elang datang ke kantor kamtibmas bersama Arumi. Pagi itu udara masih segar, dan jalanan desa masih sepi. Arumi menggenggam tangan Elang sepanjang perjalanan, memberi dukungan tanpa banyak kata.Di kantor kamtibmas yang sederhana, ketua kamtibmas, Pak Sugeng, pria paruh baya dengan kumis tebal dan tatapan ramah menyambut mereka dengan hangat. Ia mempersilakan mereka duduk, lalu menyiapkan buku catatan.Arumi dan Elang duduk bersisian di hadapan Pak Sugeng.“Boleh Mbak Arumi, coba ceritakan kronologinya dari awal. Saya ingin dengar,” kata Pak Sugeng sambil membuka buku catatannya.Arumi mengangguk, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan tentang kejadian malam sebelumnya. Sebuah ketukan di pintu, kotak misterius, dan bagaimana Elang terkejut saat menemukan bangkai tikus di dalamnya. Ia juga menceritakan tentang ketakutan Elang yang tiba-tiba muncul, dan bagaimana ia menemukan suaminya meringkuk di teras.Pak
Arumi terbelalak saat mendengar nama yang diucapkan oleh Elang. Ia menatap suaminya dengan mata membulat, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.“Apa Mas Elang yakin?” tanyanya, suaranya pelan dan penuh kehati-hatian.Elang mengangguk lemah. “Iya. Dia tahu tentang ketakutanku. Dan hanya beberapa orang yang tahu.”Arumi menggigit bibir, pikirannya berputar. “Sebenarnya beliau itu siapa?”Elang mendesah panjang. Ia menatap langit malam sebentar, lalu kembali menatap Arumi. “Nanti kamu akan tahu, Arumi. Aku nggak mau kamu menuduhku menyerang personal seseorang tanpa bukti.”Arumi mengerti. Elang tidak ingin sembarangan menuduh. Ia ingin bukti yang kuat sebelum bertindak. Arumi mengangguk pelan, lalu menggenggam tangan Elang.“Kita masuk dulu yuk, Mas,” ajaknya akhirnya. “Malam sudah larut. Mas butuh istirahat.”“Iya,” jawab Elang.Mereka masuk ke dalam rumah. Arumi mengunc
“Aku buka pintu dulu,” kata Elang setelah melepaskan pelukan.Arumi mengangguk. “Iya, Mas.”Elang melangkah keluar kamar. Saat Elang membuka pintu rumah, tidak ada siapa pun di sana.Halaman depan kosong. Elang mengerutkan dahi, menyapu pandangan ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang atau kendaraan apa pun di luar sana. Hanya malam yang gelap.Namun, saat ia hendak menutup pintu, matanya melihat sesuatu di lantai teras. Sebuah kotak kardus kecil, terikat tali rafia. Kotak itu diletakkan tepat di depan pintu, seolah sengaja ditinggalkan untuk ditemukan oleh Elang.Elang melangkah keluar, mencari seseorang yang mungkin masih berada di sekitar rumahnya. “Ada orang? Siapa di sana?” panggilnya.Tidak ada yang menjawab. Elang hanya mendesah.Ia kembali ke teras, lalu membungkuk dan mengambil kotak itu. Ia mengguncang isinya, mencoba menduga isi di dalamnya.Beratnya ringan, tapi
“Daripada denger aku cerita tentang masa laluku, gimana kalau kamu …” “Apa, Mas?” tanya Arumi, menatap Elang dengan dahi berkerut. Elang tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Arumi. Ia berbisik pelan, hanya cukup untuk didengar oleh Arumi. Arumi mendengarkan, lalu wajahnya memerah sampai ke telinga. “Bo-boleh kalau Mas mau …” jawabnya terbata-bata, lalu menunduk menahan malu. “Kalau begitu aku siap-siap dulu,” kata Elang. Mereka menuju kamar. Arumi membuka lemari, mengeluarkan selembar kain bersih dan sebotol minyak kayu putih. Elang melepaskan jaket dan kausnya, lalu berbaring telungkup di tempat tidur. Punggungnya yang lebar terlihat tegang. Luka-lukanya masih terlihat membekas, dan otot-ototnya kaku karena terlalu banyak bergerak. Arumi duduk di sisi tempat tidur, menuangkan minyak zaitun untuk pijat ke telapak tangannya. “Mas, kalau sakit bilang ya.” “Iya. Tapi kamu nggak usah ragu-ragu. Pakai tenaga,” jawab Elang, suaranya pelan. Arumi mulai memijit punggu
Arumi cepat-cepat menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu. Ia kembali bekerja, melayani pelanggan yang mulai berdatangan. Namun sepanjang hari, pikirannya tidak bisa tenang. Ada sesuatu tentang Galih yang selalu mengganggunya. Dari cara pria itu yang selalu muncul tiba-tiba, caranya berbicara, caranya menatap Arumi. Seperti ada rahasia yang ia simpan. Menjelang jam makan siang, Bu Lina keluar dari ruangannya. “Mbak Arumi, saya tadi lihat Pak Galih. Kok kelihatannya dia buru-buru pergi. Ada apa ya?” Arumi menggeleng. “Tidak ada, Bu. Beliau cuma ambil obat tadi dan harus kembali ke puskesdes.” Bu Lina mengangguk, tapi matanya menyipit. “Hati-hati ya, Mbak. Saya dengar-dengar Dokter Galih itu orangnya tertutup. Banyak yang tidak tahu tentang masa lalunya.” Arumi merasa tak nyaman dan pikiran buruk seketika menghantuinya. “Masa lalu maksudnya bagaimana ya, Bu?” “Iya. Katanya dia pernah tinggal di luar kota, tapi tidak ada yang tahu persis di mana. Dan katanya dia pernah dekat denga







