“Bagaimana keadaan Nyonya saat ini, apa dia sudah makan?” Jam 02.30 pagi, Ken berdiri di depan pintu kamar tamu yang sekarang di tempati Alsava. Dia berdiri membawa nampan berisi bubur ayam dan obat penurun panas. Sejak pulang kantor tadi, Alsava sama sekali tak keluar kamar. Ken selalu mengupdate kondisinya lewat bi Imah. Namun, entah mengapa tengah malam ini dia makin khawatir dengan keadaan Alsava. “Terakhir panasnya belum turun Tuan, Nyonya juga menolak makan,” jawab bi Imah membuat Ken semakin khawatir. “Ya sudah biar aku yang mengurusnya. Kembalilah ke kamarmu beristirahat.” “Baik Tuan, permisi.” Kenneth menghela nafas berat, menatap dinding pintu yang bisu. “Aku harus siap dengan kemungkinan terburuk. Diusir atau ditolak!” Tok tok! Diketuknya pintu kamar Alsava pelan. Hening tak ada sahutan. Ken memutar gagang pintu pelan, kamar temaram, hanya ada lampu tidur sebagai penerang. Alsava terlihat tertidur, tubuhnya dibalut selimut sampai dagu, wajahnya pucat, terdengar ses
Last Updated : 2026-08-10 Read more