“Gimana caranya dijual? Itu kan, milik aku, surat-suratnya juga atas nama aku, kalian nggak bisa asal ngejual barang- barang milik orang lain, Bi!”Bibi mengibaskan tangan, memintaku merendahkan suara kemudian menarikku untuk masuk ke rumah.Tapi aku menyentak tangannya, belum apa-apa aku langsung emosi.“Kita bukan orang lain, kita tuh saudara, bantu saudara apa salahnya?” Bibi dengan santainya membalas.Aku mengeram marah. “Dijual ke mana? Siapa yang beli? Berapa?”“Ada, temennya Mas Ibnu.” Meira dengan sok asik ikut menimpali.Darah seperti surut dari wajahku.“Lagian, itu mobil udah diparkir di sini lama banget. Dicek sama Mas Ibnu, dan akhirnya bisa jalan. Tapi Mba nggak balik-balik, ya udah, daripada nggak ada manfaat mending dijual aja buat bayar modal bengkel,” lanjutnya enteng.Lemas sekali.Ini mereka tidak punya akal sehat? Atau aku yang gila karena menganggap mereka bukan keluarga toxic?
最終更新日 : 2026-09-20 続きを読む