“Papa bisa sendiri, Salsa.” Nata menyerah saat putri kami bukannya mengobati dengan benar malah hampir menusukkan katembat itu ke mulut. “Sebentar Papa, diem dulu, nanti nggak sembuh-sembuh, loh.” Salsa mengikuti gaya bicaraku ketika sedang mengomel. Bibirnya mengerucut menggemaskan. Nata kembali meringis, mendongakkan dagunya. Pasrah. “Pelan ya?” “Cerewet banget sih, Papa.” Aku berpura-pura menyesap teh hangatku untuk menyamarkan senyum. Sus Dara terkekeh polos, sedangkan Gio berpura-pura menatap layar ponsel. Bahu Nata tampak naik turun saat membuang napas kasar, ia menarik katembat itu dari tangan mungil putri kami. “Sudah, nggak pa-pa, Papa bisa sendiri. Salsa main dulu sama Sus ya?” “Nggak mau diobatin lagi?” tanyanya, memandang suamiku seakan dia baru saja dicubit, bibirnya melengkung ke bawah. “Papa nggak suka ya?” “Suka dong, maka
最終更新日 : 2026-09-28 続きを読む