Home / Romansa / Move On! Kita Sudah Bercerai / Part 117: Perlahan Tapi Pasti

Share

Part 117: Perlahan Tapi Pasti

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-09-21 18:10:45

‘Aku sama Calista udah selesai, Lula.’

Perkataan Nata terus bergema dan terngiang-ngiang di kepala. Jadi, yang kulihat mereka berpelukan tempo hari itu apa? Mungkinkah itu perpisahan? Atau cara Nata mengakhiri hubungan?

Kalau benar, pantas saja Calista seperti berusaha keras membuatku jatuh. Cara bicaranya angkuh seakan dia dan Nata masih baik-baik saja, padahal di belakang mereka sudah retak.

Sialan.

Aku meraup wajah, kemudian menarik na
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mei
Nata co cwit bingiiiiitttttsssss
goodnovel comment avatar
SamaraGandhi
Nata Resign kan? horeeee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 166: Tidak Tertolong

    “Emangnya Bibi nggak kasihan cucu Bibi sendirian, terluntang-lantung di sini?” “Dipenjara nggak boleh bawa anak kecil, kalau Bibi bawa juga percuma.” “Paling enggak, buka aja kuncinya, biarin Queen keluar masuk. Dia pasti pengen kencing, pengen berak, pengen tidur.” “Bahaya, kalau ada orang masuk emangnya kamu mau tanggung jawab?” “Oh, Bibi lebih khawatir sama harta benda Bibi yang nggak seberapa itu dibandingkan cucu Bibi sendiri? Bibi takut harta Bibi dimaling, tapi Bibi nggak takut kalau cucu Bibi diculik, gitu?” “Siapa yang ngomong begitu?” “Ya terus ini apa?” Aku meraung. Kesal setengah mati. Bodo amat tetangga mau dengar. Menurutku ini sudah keterlaluan. Oke kalau memang dia sibuk, atau dia tidak ingin Queen trauma melihat orang tuanya dipenjara. Tapi kan, Bibi bisa membawa Queen ke day care. Itu justru lebih baik daripada membiarkan anak kecil

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 165: Wanita Gila

    Sudah tiga hari aku tidak pergi mengunjungi Queen.Gelisah? Tentu saja ada.Aku terus memikirkan, apakah dia sudah makan? Apakah selimutnya cukup tebal untuk tidur? Apakah uang yang kuberikan cukup? Apakah dia bahkan bisa mengurus dirinya sendiri?Lima tahun, for God’s sake.Salsa bahkan masih rewel dan mencari aku saat bangun tidur, ketika aku tidak kunjung berada di jangkauan matanya dia akan menangis keras. Saat makan pun, aku masih harus membujuknya supaya dia mau makan sayur, supaya nasinya dihabiskan. Itu belum dengan bagaimana dia selalu mencari aku tiap melakukan sesuatu yang sepele.Misalnya melukis, meminta dicarikan potongan puzzle, meminta ditemani ke toilet. Meminta dipeluk dan ditepuk- tepuk bokongnya saat mau tidur.Sementara Queen, apakah Bibi bisa menggantikan peran Ibunya?Ini weekend, namun Salsa tetap bergantung padaku untuk dipakaikan kaos kaki. Sepanjang kami jalan-jalan ke Zoo, sepanjang itu pula a

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 164: Suami Idaman

    “Wah ini buat Salsa semua, Mama?” Memangnya untuk siapa lagi?Putriku tampak berbinar-binar ketika mengeluarkan sebuah piyama dari dalam paper bag yang kubawa.Tidak hanya itu, aku pun membelikan Salsa sepasang kaos kaki cantik.Salsa suka dengan semua yang berwarna pink, tidak heran kalau matanya sekarang tampak takjub. Ia menyampirkan piyama satin pink dengan tema love itu di tubuhnya kemudian berlari ke kamar. Ingin melihat bagaimana dirinya sendiri di cermin.Aku tertawa.“Mama, Salsa suka banget loh, Mama!” jeritnya dari kamar yang pintunya menjeblak terbuka. “Salsa mau mandi sekarang, terus mau pakai baju ini!”“Dicuci dulu dong sayang. Lagian Salsa udah mandi, ngapain mandi lagi?” “Tapi Salsa nggak sabar!”“Masih ada besok, Salsa.”Anak itu keluar kamar sambil mendekap piyamanya di dada. Aku bahagia melihatnya bahagia seperti ini. Kulirik Nata, yang sedang membolak- balik swe

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 163: Mickey Mouse

    “Mau ice cream Queen?”Dia mengangguk semangat.“Ini Tante bawain roti juga, nanti dimakan berdua sama Nenek ya?”“Terima kasih Aunty.”Aku mengangguk, membiarkan Queen menarik bungkusan yang kubawa ke dalam rumah. Dari arah kamar, aku mendengar Bibi terbatuk-batuk heboh.Sepertinya beliau masih sakit, saat aku datang Bibi hanya membuka pintu lalu membiarkan aku masuk. Rumahnya kecil, sebuah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar. Dari ruang tamu, langsung ke kamar, dapur dan kamar mandi. Tidak ada space untuk menaruh barang-barang. Dan sepertinya perabotan juga sudah dijual. Yang tersisa hanya barang seadanya.Queen kembali dari dapur, lalu ia tersenyum, hanya menatapku.Aku segera menggandeng tangannya keluar dan mengajaknya makan siang.Kami pergi ke tempat yang berbeda kali ini karena aku sadar bahwa anak-anak biasanya gampang bosan. Salsa sendiri bukan anak yang picky eater, tapi dia tidak suka sayur dan

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 162: Dia Tidak Tahu

    “Hai.”Nata mencondongkan tubuh, mengecup pipiku ketika aku duduk di kursi penumpang mobilnya. Aku membiarkan bibirnya itu turun dan memangut bibirku lembut. Kedua alisnya mengerut saat perlahan menarik diri.“Kamu nangis?” tanyanya.Mataku seketika melebar. “E-enggak! Kenapa aku harus nangis?”Suamiku menatap sekilas sembari melajukan mobilnya. “Wawancaranya nggak berjalan lancar?”“Ya-yaa gitu...” Aku memberikan jawaban yang ambigu, mendadak ngeblank dan tidak mampu berbohong. “Kamu udah jemput Salsa?”Nata hanya menangguk singkat. “Aku antar dia dan Sus ke apartemen. Salsa harus tidur siang, sudah seminggu ini dia ikut kita di restoran. Tubuhnya juga harus istirahat supaya kalau dibangunin pagi-pagi dia nggak tantrum.”“Aku juga mau pulang.”“Kamu nggak mau makan dulu?” “Kamu belum makan?”“Aku nungguin kamu.”“Oke makan dulu.”Nata melirik, ia menarik tanganku dan menggen

  • Move On! Kita Sudah Bercerai   Part 161: Hati Yang Keras

    Oh Tuhan.Aku mengusap rambut Queen, tersenyum, lalu membelai pipinya.“Nenek ada?”Dia mengangguk tanpa menjawab.Kugenggam tangan mungilnya, dan menariknya ke arah rumah. Queen nurut saja saat kugandeng, aku mengucapkan salam di depan pintu. Di detik itu, Bibi Elsi keluar dari kamar. Beliau hanya mengenakan daster, rambut digulung kusut dengan dahi penuh koyo. Penampilannya berbeda sekali seperti beliau sehari-hari yang selalu glamor dan penuh perhiasan.Kini, tidak kulihat lagi perhiasan-perhiasan itu di tangannya. Wajah beliau bahkan kelihatan lelah dan mengantuk. Namun, saat sadar yang datang adalah aku, beliau langsung memasang tampang defensif.“Bibi udah nggak punya uang,” cetusnya seketika sebelum mampu kutanya.Jujur, aku jadi prihatin dengan beliau. Ketika berhadapan langsung seperti ini ternyata hatiku belum sejahat itu untuk tidak merasa kasihan.“Di Polsek mana Bi?”“Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status