"Linggar, kenapa kamu nggak ikut rebahan di simi?"Mata Linggar melebar.“Aku?”Ilalang menatapnya.“Lintang minta kamu temani.”Anak kecil yang masih polos itu seketika protes. "Om Lalang... kok jadi Lintang? Lintang sudah cukup ditemani Om.""Lintang... " Linggar tak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat lelaki itu terlihat malu."Tapi... Seru juga sih kalau sama Bunda juga."Merasa menang, Ilalang segera berkata. "Tuh, dengar sendiri, kan, anak kamu bilang apa?”Linggar meliriknya.“Mas sih yang mulai kasi ide.”“Aku sudah diam juga. Masih disalahkan.”Lintang terkikik.“Ayo dong, Bunda, sini.”Linggar menatap putrinya lalu beralih menatap Ilalang. Ia merasa tidak nyaman rebahan di dekat Ilalang.Selama ini, kedekatan dengan lelaki selalu membuat pikirannya berlari menuju satu ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. Sentuhan Ilalang kapan hari, mampu membuat napasnya tercekat. Apalagi harus berbaring seranjang dengan suaminya itu.Namun Lintang terus menunggu.“Bunda....ayo
Última atualização : 2026-08-21 Ler mais