Share

Dimana Aku?

Author: Nona Lee
last update publish date: 2026-07-14 01:30:38

"Permaisuri Zi, tolong bangun! Zi Han... Permaisuri, hamba mohon buka mata anda!"

Suara isak tangis yang melengking itu terus terngiang, menusuk gendang telinga Xiao Rin yang baru saja diselimuti kegelapan total. Detik berikutnya, sebuah tarikan napas pendek dan kasar dipaksakan keluar dari tenggorokannya.

"Uhuk! Uhuk-uhuk!"

Xiao Rin tersedak hebat. Dadanya terasa luar biasa sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit paru-parunya. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya, berdenyut-denyut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setiap persendiannya terasa kaku dan terbakar.

"Permaisuri! Anda sudah sadar? Terima kasih, Dewa Langit! Anda akhirnya kembali!" suara melengking itu kembali terdengar, kini terdengar jauh lebih dekat, tepat di sisi telinganya.

Xiao Rin mengerang pelan, mencoba menggerakkan kelopak matanya yang terasa sangat berat. "Dingin... air..." gumamnya dengan suara yang luar biasa serak dan parau, bahkan hampir tidak terdengar seperti suaranya sendiri.

"Air? Baik, Permaisuri! Hamba akan ambilkan air hangat sekarang juga! Mohon tunggu sebentar!" terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru menjauh, disusul suara gesekan kain yang panik.

Di mana ini? Apakah ini ruang resusitasi IGD? Mengapa tidak ada bunyi bising dari monitor jantung? Mengapa tidak ada bau antiseptik yang familier?

Perlahan, Xiao Rin berhasil membuka matanya. Pandangannya kabur dan berputar untuk beberapa saat, sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit di atasnya. Alih-alih langit-langit rumah sakit yang putih bersih dengan lampu neon yang terang, yang ia lihat adalah langit-langit kayu berukir kuno yang tampak kusam. Di sekelilingnya, tirai-tirai kelambu sutra tipis berwarna hijau pudar yang sudah agak usang menjuntai dari tiang ranjang tempatnya berbaring.

Aroma pekat yang asing langsung menyergap indra penciumannya. Bukan bau obat-obatan modern, melainkan perpaduan antara wewangian kayu dupa gaharu yang menyengat dan bau pahit dari rebusan obat herbal yang sangat kental.

"Ini... di mana?" bisik Xiao Rin, menatap nanar ke arah kelambu sutra di sekelilingnya.

"Ini airnya, Permaisuri. Hamba mohon minumlah perlahan," sebuah tangan gemetar menyusup ke belakang tengkuknya, membantu mengangkat kepalanya dengan sangat hati-hati. sebuah cawan keramik kecil menyentuh bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Xiao Rin meneguk cairan itu dengan rakus karena rasa haus yang membakar tenggorokannya. Air hangat itu mengalir melewati kerongkongannya, sedikit meredakan rasa perih, namun menyisakan rasa pahit yang tertinggal di lidahnya. Setelah beberapa teguk, dia mendorong perlahan cawan tersebut, lalu menatap sosok yang berdiri di samping ranjangnya.

Sosok itu adalah seorang gadis muda yang tampak berusia belasan tahun, mengenakan pakaian hanfu pelayan kuno berwarna abu-abu polos. Rambutnya dicepol dua di atas kepala, dan wajahnya sembap dipenuhi sisa-asisa air mata yang masih basah.

"Siapa... kau?" tanya Xiao Rin, dahinya mengernyit dalam. "Di mana suster Lusi? Dan di rumah sakit mana aku sekarang?"

Gadis pelayan itu seketika membelalakkan matanya, cawan keramik di tangannya hampir saja terjatuh. "Permaisuri... apa yang anda katakan? Siapa Lusi? Apa itu rumah sakit? Ini hamba, Jing Er! Pelayan setia anda di Paviliun Anggrek!"

"Paviliun... Anggrek?" Xiao Rin menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir rasa pening yang kian mendera. "Jangan bercanda. Aku baru saja mengalami kecelakaan mobil. Mobilku jatuh ke jurang dan tenggelam di sungai. Aku seharusnya berada di ruang operasi atau IGD sekarang."

"Mobil? Jatuh ke jurang?" Jing Er kembali menangis histeris, langsung berlutut di lantai batu yang dingin di samping ranjang. Dia bersujud berkali-kali hingga dahinya membentur lantai. "Dewa Langit, apa yang terjadi pada Permaisuri Zi Han? Apakah demam tinggi selama tiga hari ini telah merusak pikiran beliau? Hamba mohon, sembuhkanlah ingatan Permaisuri hamba!"

Xiao Rin tertegun. Permaisuri Zi Han? Nama itu terasa sangat asing di telinganya. Siapa Zi Han? Dan mengapa gadis ini terus-menerus memanggilnya dengan sebutan agung itu?

Rasa panik mulai merayap di dada Xiao Rin. Sebagai seorang dokter forensik yang rasional, dia menolak semua pemikiran tidak masuk akal yang mulai melintas di benaknya. Namun, semua yang ada di ruangan ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi di ambang kematian. Rasa sakit di tubuhnya nyata, aroma gaharu ini nyata, dan tangisan gadis di bawahnya juga sangat nyata.

"Hentikan tangisanmu," perintah Xiao Rin, mencoba memberikan nada tegas yang biasa ia gunakan di ruang autopsi, meskipun suaranya terdengar ringkih. "Katakan padaku dengan jelas, siapa dirimu, dan siapa yang kau sebut Permaisuri Zi Han?"

Jing Er mengangkat kepalanya, menatap Xiao Rin dengan mata yang bengkak dan penuh rasa takut. "Permaisuri, anda adalah Zi Han, putri dari kediaman bangsawan Zi, dan Permaisuri sah dari Dinasti Da Sheng. Hamba adalah Jing Er, pelayan yang telah mengikuti anda sejak kecil. Apa Anda benar-benar tidak mengingat hamba?"

Mendengar penjelasan itu, jantung Xiao Rin berdegup kencang secara abnormal. Dinasti Da Sheng? Permaisuri? Ini gila. Ini sama sekali tidak masuk akal!

"Tidak, ini pasti mimpi buruk akibat koma," Xiao Rin bergumam panik pada diri sendiri. Dia mencoba mengangkat tangan kanannya untuk memijat pelipisnya yang berdenyut kesakitan.

Namun, begitu tangannya terangkat ke atas dan kain lengan bajunya merosot turun, kalimat Xiao Rin seketika tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, memandang ngeri ke arah tangannya sendiri.

Kulit lengan itu sama sekali bukan kulit miliknya.

Lengan bawah hingga ke punggung tangannya dipenuhi oleh bercak-bercak luka mengering yang bersisik tebal, berwarna kemerahan keabu-abuan yang sangat kontras dengan warna kulit aslinya. Luka-luka bersisik itu tampak kasar, pecah-pecah, dan di beberapa bagian terlihat mengeluarkan cairan bening yang mengering, memberikan penampakan yang luar biasa menjijikkan serta mengerikan.

"Apa... apa-apaan ini?!" teriak Xiao Rin histeris. Dia memandangi kedua tangannya bergantian, lalu dengan panik menyentuh kulit leher dan wajahnya. Di sana, dia juga bisa merasakan tekstur kasar dan bergelombang yang sama di sepanjang garis rahang hingga turun ke lehernya.

"Permaisuri, hamba mohon jangan disentuh! Tabib bilang luka itu bisa semakin parah jika anda menggaruknya!" Jing Er dengan cepat menangkap tangan Xiao Rin, menahannya dengan tangisan yang semakin pecah.

"Lepaskan aku!" Xiao Rin menyentak tangan pelayan itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Sebagai dokter, insting medisnya langsung bergejala, namun jiwanya menolak kenyataan bahwa dia berada di dalam tubuh yang asing ini.

"Penyakit apa ini? Mengapa seluruh kulit tubuh ini rusak seperti ini? Argghhh tidak!!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Tidak Bisa Memberi Keturunan

    "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu..." bisik Zhao Jun dengan suara parau nan rendah, menatap lurus ke dalam iris mata Zi Han dari pangkuan wanita itu. Zi Han menghentikan gerakan jemarinya yang sedang membelai rambut hitam sang kaisar, menunduk sedikit untuk menatap raut wajah Zhao Jun yang mendadak sangat serius. "Ada apa, Zhao Jun? Kenapa wajahmu mendadak tegang begitu?" Zhao Jun menghela napas panjang, meremas jemari Zi Han yang berada di dalam genggamannya. "Kau pasti tahu tentang rumor lama yang selalu berembus di lorong-lorong Istana ini sejak beberapa tahun lalu, bukan?" Zi Han mengernyitkan dahi sejenak, mencoba mengingat-ingat ingatan milik Permaisuri Zi Han asli yang mengendap di memorinya. "Rumor tentang... Permaisuri yang tidak bisa memberikan kaisar keturunan?" "Ya," sahut Zhao Jun lirih, mengalihkan pandangannya ke arah tirai sutra yang berkibar pelan tertiup angin malam. "Rumor yang menyebutkan bahwa Permaisuri Zi Han adalah wanita mandul yang tak layak mem

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Zhao Jun Menyebalkan

    "Aww! Zi Han, sakit!" ringis Zhao Jun spontan seraya memegangi bibir bawahnya yang baru saja dicubit gemas oleh jemari lentik Permaisuri Zi Han. "Bagus kalau sakit!" omel Zi Han dengan mata membelalak lebar, kedua tangannya bersedekap di dada. "Kau ini baru saja lolos dari cengkeraman maut, racun di tubuhmu baru dinetralkan beberapa jam lalu, dan luka panah di bahumu masih membiru! Bisa-bisanya otakmu itu berpikir sampai ke sana, Kaisar mesum?!" Zhao Jun terkekeh pelan, meski ringisan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Ia menarik napas dalam, merengkuh pergelangan tangan Zi Han lalu mengusapnya lembut dengan ibu jari. "Maafkan aku, Zi Han. Aku hanya bergurau. Wajahmu yang panik dan ketakutan semalaman tadi sungguh menggemaskan, aku hanya ingin membuatmu sedikit tersenyum." "Bergurau katamu? Bikin orang senut-senut jantungnya, tahu!" desus Zi Han seraya membuang muka, walau pendar merah di kedua pipinya tak bisa disembunyikan. "Iya, iya, aku salah," bisik Zhao Jun lembut, menatap

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Gurau Sang Kaisar

    "Zi Han..." Sebuah erangan halus keluar dari celah bibir Zhao Jun yang pecah. Kelopak matanya yang berat perlahan-lahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pendar temaram lampu minyak yang menghangatkan sudut Paviliun Utama. Aroma racikan obat herbal dan dupa kayu cendana merayap lembut menembus indra penciumannya. Zhao Jun mencoba menggerakkan jemari tangan kanannya, dan saat itulah ia merasakan kehangatan yang amat dikenal, genggaman erat dari jemari mungil yang tak kunjung melepaskannya sepanjang malam. Di tepi ranjang, Permaisuri Zi Han tertidur dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas lengannya sendiri, tepat di samping tubuh Zhao Jun. Wajah cantiknya tampak lelah, dengan sisa jejak air mata kering yang masih membayang di pipi mulusnya. Zhao Jun mengamati paras anggun wanitanya itu dalam keheningan. Sudut bibirnya yang pucat perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis nan hangat. Rasa sakit yang membakar di dadanya seketika menguap, terobati oleh keberadaan sosok di hadapa

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Hukuman Mati

    "K-Kau... bagaimana bisa kau..." gagap Jenderal Han dengan napas tersendak-sendak, darah segar mengalir deras dari mulutnya dan merembes memenuhi pakaian kebesarannya. Zhao Jun tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi pengkhianat itu untuk membalas. Dengan tatapan mata yang teramat dingin dan tanpa ampun, kaisar muda itu memutar belati hitam di dalam rusuk Jenderal Han, lalu menariknya keluar dalam satu sentakan tajam. SREET! "Aagghh!" raung Jenderal Han kesakitan, tubuhnya limbung berlutut di atas lantai marmer yang kini bersimbah darah. Zhao Jun menyambar hulu pedang emasnya yang tergeletak di lantai, lalu mengayunkan bilah tajam itu ke udara dalam satu gerakan melingkar yang sempurna. CRASH! Kepala Jenderal Han terpenggal dari lehernya, berguling beberapa kali di atas karpet merah Aula Agung sebelum akhirnya berhenti tepat di depan kaki para menteri yang berdiri membeku ketakutan. Suasana di dalam ruangan raksasa itu seketika menjadi teramat sunyi, hanya dihiasi oleh

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Keputusan Sang Naga

    "Banting pedangmu dan berlututlah di hadapanku, Kaisar... atau aku akan memotong leher Permaisurimu sekarang juga!" raung Jenderal Han dengan suara menggelegar, sementara ujung mata pedangnya menekan makin dalam hingga setitik darah segar mengalir di leher mulus Zi Han. Suasana di dalam Aula Agung mendadak membeku. Ratusan menteri menahan napas, tidak ada yang berani bergerak barang sedikit pun. Zi Han meringis pelan akibat rasa perih di lehernya. Meski rasa takut sempat mencengkeram dadanya, wanita itu menolak untuk menunjukkan kelemahan di hadapan pengkhianat tersebut. Ia melirik tajam ke arah Zhao Jun, menggelengkan kepalanya pelan untuk memberi isyarat agar kaisar itu tidak menuruti perintah Jenderal Han. "Jangan lakukan itu, Zhao Jun..." bisik Zi Han tertahan. "Biarkan aku... akh!" "Diam, Permaisuri!" bentak Jenderal Han, makin memperketat cengkeramannya di bahu Zi Han. Ia menatap Zhao Jun dengan senyuman kemenangan yang angkuh. "Bagaimana, Yang Mulia Kaisar? Waktumu tidak ba

  • Mengubah Takdir: Permaisuri Zi, Kaisar Mencintaimu!   Amukan Sang Naga

    "Kau... kau sungguh memilih mati bersama kaisar gila ini?!" raung Jenderal Han dengan napas memburu, matanya memerah penuh rasa cemburu dan kekecewaan yang membakar. "Aku memilih pria yang memiliki kehormatan, Han!" pangkas Permaisuri Zi Han tanpa ragu sedikit pun, berdiri makin tegap di depan Zhao Jun. Zhao Jun menatap punggung ramping istrinya dengan binar mata yang teramat hangat, lalu dengan lembut menarik Zi Han ke belakang tubuhnya. Kaisar muda itu menegakkan dadanya yang memar, menyapu darah kehitaman dari sudut bibirnya. "Mundurlah di belakang pilar utama, Zi Han," bisik Zhao Jun dengan suara rendah yang amat dalam dan tenang. "Biarkan suamimu ini membereskan anjing pengkhianat ini." "Tapi Zhao Jun, tubuhmu..." "Aku adalah Panglima Tertinggi Kekaisaran Da Sheng," potong Zhao Jun dengan picingan mata yang amat tajam. "Luka dan racun ini tidak akan sanggup menjatuhkanku sebelum aku menebas kepala pengkhianat ini!" Jenderal Han meludah ke lantai, mengayunkan pedangnya ke ud

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status