Share

Bab 77

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-09-12 23:20:27

"Man, sumpah ya, jantung gua mau copot tadi pas lu jalan santai ke depan laras pistol mereka!" teriak Togel histeris sambil mondar-mandir di ruang tengah, kedua tangannya mengusap wajah berkeringat dingin. "Lu kira itu main tembak-tembakan di rental ps, hah? Kalau tadi pelurunya beneran nembus dada lu gimana?!"

Maman yang baru saja masuk kembali ke dalam rumah setelah melumpuhkan kedua agen bayaran itu hanya terkekeh kecil. Ia melemparkan kunci mobil sedan milik musuh ke atas meja kayu.

"Tenang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 78

    Permukaan air laut di dermaga tua itu beriak tenang setelah speedboat para penyelam bayaran kabur terbirit-birit.Togel berjalan mondar-mandir di tepi papan kayu yang lapuk, matanya menatap cemas ke arah air yang tampak gelap gulita di bawah sana."Man, lu beneran serius mau nyebur ke dasar laut malam-malam begini? Itu airnya item banget, kelihatan kayak tempat pembuangan limbah raksasa!" seru Togel cemas, kedua tangannya memegang kepala.Maman melepas jaket kulit hitamnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas balok kayu dermaga. Ia meregangkan otot-otot bahunya sebentar sambil tersenyum tipis."Tenang aja, Gel. Kalau cuma air gelap doang mah nggak ada apa-apanya dibanding ngadepin preman bawa senjata.""Bukan masalah gelapnya, Man! Tekanan air di bawah sana kan tinggi! Lu bukan duyung atau Kapten Jacques Cousteau!" protes Togel lagi, panik setengah mati."Udah, lu tunggu di sini baik-baik sambil jagain motor. Jangan ke mana-mana, apalagi ngobrol sama hantu penunggu pelabuhan,"

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 77

    "Man, sumpah ya, jantung gua mau copot tadi pas lu jalan santai ke depan laras pistol mereka!" teriak Togel histeris sambil mondar-mandir di ruang tengah, kedua tangannya mengusap wajah berkeringat dingin. "Lu kira itu main tembak-tembakan di rental ps, hah? Kalau tadi pelurunya beneran nembus dada lu gimana?!"Maman yang baru saja masuk kembali ke dalam rumah setelah melumpuhkan kedua agen bayaran itu hanya terkekeh kecil. Ia melemparkan kunci mobil sedan milik musuh ke atas meja kayu."Tenang aja, Gel. Gua udah baca pikiran mereka dari jarak sepuluh meter. Niat mereka cuma mau nyulik gua hidup-hidup, bukan langsung eksekusi mati. Jadi ritme tembakannya pasti bakal telat sepersekian detik."Ririn yang berjalan mendekat dari arah dapur langsung memukul pelan lengan kanan Maman dengan kesal, meski matanya tampak berkaca-kaca menahan cemas."Kamu tuh ya, emang paling jago bikin orang jantungan! Dibilangin jangan sok pahlawan, malah nantangin orang bawa pistol!""Iya, Man. Kalau tadi kam

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 76

    Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam menuruni lembah dan keluar dari area hutan terlarang, Maman akhirnya tiba kembali di jalan raya aspal mulus wilayah perbatasan kabupaten.Ia menepikan motornya sejenak di sebuah warung kopi pinggir jalan untuk mendinginkan mesin dan melepas penat."Huh... lumayan juga perjalanan kemarin," gumam Maman pelan sambil memesan segelas es teh manis kepada pemilik warung.Begitu ia duduk di bangku kayu panjang warung tersebut, ponsel di dalam saku jaketnya tiba-tiba bergetar panjang. Maman mengeluarkan ponsel itu, melihat layar yang menampilkan nama Togel terpampang di sana.Tanpa buang waktu, ia langsung menekan tombol jawab dan mendekatkan ponsel ke telinganya."Halo, Gel? Ada apa telepon pagi-pagi? Jangan bilang rumah aman kena gerebek lagi?" sapa Maman langsung to the point.Suara Togel di ujung telepon terdengar tergesa-gesa dan setengah berbisik, seolah sedang mengendap-endap di suatu tempat. "Man! Syukurlah lu akhirnya angkat telepon! Lu di

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 75

    "Tamu-tamu tidak diundang itu berjalan ke arah pendopo utama, Nyi! Jumlahnya ada delapan orang, semuanya membawa golok dan tampang mereka beringas!" seru Dinda dengan napas memburu, menunjuk ke arah jalan setapak utama desa yang dikelilingi rimbunnya pohon pinus.Nyi Kenanga melirik sekilas ke arah Maman, lalu tersenyum tipis penuh arti. "Tampaknya rumah kami kedatangan pengacau dari dunia luar. Apakah kau butuh bantuan warga desa untuk melenyapkan mereka, Maman?"Maman menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyuman miring khasnya. Ia merapikan kerah jaket kulit hitamnya yang tersampir di bahu. "Nggak usah, Mbakyu. Biar itu jadi urusan saya sendiri. Kalau warga desa ikut turun tangan, nanti preman-preman itu malah nggak kebagian jatah 'salam olahraga'.""Berhati-hatilah, Maman. Orang-orang bayaran seperti itu biasanya tidak punya aturan," pesan Nyi Kenanga dengan nada mengingatkan."Santai aja, Mbakyu. Justru sekarang saya lagi pengin test drive kekuatan baru dari koin keempat," bala

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 74

    Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah-celah ventilasi ukiran kayu jati di Bale Kinasih. Suasana di dalam kamar ritual itu terasa hangat dan dipenuhi sisa-sisa aroma dupa gaharu yang bercampur dengan keringat.Di atas ranjang besar yang berantakan oleh taburan kelopak bunga mawar, Maman perlahan membuka kedua matanya.Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku namun bugar luar biasa, sementara di sebelah kiri dan kanannya, ketiga wanita pilihan Desa Wanagiri—yang semalam habis-habisan menguji ketahanannya—tertidur pulas dalam balutan selimut tipis dengan ekspresi damai di wajah mereka."Wah... luar biasa juga ujian semalam," gumam Maman pelan pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyuman miring sambil meraba telapak tangan kanannya.Begitu ia memusatkan perhatian ke telapak tangan tersebut, sensasi hangat yang tidak biasa langsung menjalar ke seluruh aliran darahnya.Ketiga koin yang sebelumnya berada di sana mendadak bergetar hebat, dan sebuah koin keempat—dengan

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 73

    "Menaklukkan tiga wanita pilihan di kamar ritual?"Maman mengulang ucapan Nyi Kenanga dengan nada setengah bergurau, meski sorot matanya tetap menyiratkan kewaspadaan tingkat tinggi.Ia mengubah posisi duduknya, menatap pemimpin adat Desa Wanagiri itu lekat-lekat. "Wah, Mbakyu ini ngasih ujian atau sedang promosi program biro jodoh eksklusif? Tawaran yang menarik sih, tapi resikonya kalau saya gagal apa? Dijadiin pupuk tanaman hias di kebun desa?"Nyi Kenanga kembali tersenyum tipis. Senyuman itu memancarkan pesona matang yang berbahaya, membuat siapa pun pria normal akan sulit menjaga akal sehatnya. "Jika kau gagal, Maman, maka kau tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari gerbang Desa Wanagiri hidup-hidup. Energi koin yang ada di tubuhmu akan terserap habis oleh tanah leluhur kami, dan kau akan tertidur abadi di sini sebagai bagian dari sejarah desa."Maman mengangguk-angguk pelan, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut wanita paruh baya berwajah awet muda itu. "Baiklah kal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status