Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.Mobil akhirnya berhenti di pelataran safehouse beton yang terisolasi di tengah hutan. Don melepas sabuk pengamannya, melangkah keluar, lalu membukakan pintu untuk Selena."Turunlah," perintah Don singkat, mengulurkan tangannya.Selena menepis tangan itu dengan kasar hingga menimbulkan suara tepukan nyaring. "Jangan sentuh aku! Aku punya kaki sendiri!"Don tersenyum miring, menarik tangannya santai. "Galak sekali. Padahal tadi di meja makan kau memeluk leherku erat sekali, Selena.""Itu karena aku hampir jatuh
Última actualización : 2026-08-09 Leer más