مشاركة

14. Bodoh

مؤلف: MyMelody
last update تاريخ النشر: 2026-08-11 05:58:18

Usai memaki Don, Selena memalingkan wajahnya dengan cepat ke kanan, memejamkan mata erat-erat saat bibir Don dengan sengaja menyesah ceruk lehernya yang paling sensitif, membuat sengatan listrik yang dahsyat merambat sampai ke ujung kakinya. Sebuah erangan lirih hampir saja lolos dari bibir Selena.

Jangan berdesir! Selena, jangan sampai dia tahu jantungmu mau melompat keluar! batin Selena panik setengah mati.

"Mulutmu menolak," bisik Don rendah, hembusan napas panasnya membuat bulu kuduk Selena
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Penawar Sang Boss Mafia   19. Dalam Mimpimu!

    Begitu mendengar perkataan Selena, Don terkekeh rendah. Tawa seksi yang membius."Jawaban yang bagus. Marco, mari kita bantai mereka sampai tak bersisa."BAM!Satu benturan keras mendadak menghantam sisi kiri SUV mereka. Mobil berguncang hebat, membuat tubuh Selena terlempar ke samping. Lengan tegap Don dengan sigap mendekap pinggangnya, menguncinya rapat di dada bidang miliknya."Tuan Muda! Dua pick-up klan Delaros memotong jalur persimpangan jalan di depan kita!" teriak Marco dari balik kemudi, tangannya memutar kemudi dengan lihai menyeimbangkan mobil lapis baja itu."Sial! Mau cari mati ya mereka semua?" umpat Don sambil menyiapkan senjatanya.Dari balik kaca gelap yang mulai retak di bagian kiri, Selena melihat dua mobil pick-up terbuka melaju sejajar. Beberapa pria berseragam biru tua mengacungkan senjata otomatis langsung ke arah kendaraan mereka. Selena menelan salivanya dengan gugup.DOR! DOR! DOR! DOR!Hujan peluru menghantam kaca antipeluru mobil mereka, menciptakan deretan

  • Penawar Sang Boss Mafia   18. Serba Hitam

    "Di mana Don?" tanya Selena sambil melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Di depan pintu, berdiri beberapa pengawal pribadi Don."Tuan Don sedang memimpin eksekusi tawanan di pelataran bawah, Nona Selena," jawab Marco datar, dengan wajah tanpa ekspresi. Dia meletakkan nampan di atas meja. "Tuan meminta Nona berganti pakaian. Mobil sudah disiapkan di belakang.""Pindah lagi?" tanya Selena, mengernyit. "Bukankah dia bilang tempat ini aman?""Bukan pindah, Nona," potong Marco cepat."Lalu apa?""Nanti Nona tanyakan langsung pada Tuan Muda."Selena mendengkus kesal sambil menatap Marco yang membuka koper perak di meja. Di dalamnya berisi celana kargo hitam, kaus pas badan berbahan katun lembut, serta jaket kulit tebal yang juga berwarna hitam."Ini pakaian Nona hari ini?""What?" teriak Selena kaget. "Memangnya aku mau disuruh jadi mata-mata?""Tuan Besar Vargas sudah mengerahkan tiga klan aliansi. Ini bukan lagi gertakan, ini perang terbuka. Jadi Nona tidak boleh terlihat terlalu m

  • Penawar Sang Boss Mafia   17. Tak Bisa Tidur

    Don menatap Selena, lalu terkekeh pelan. "Kau selalu galak saat ketakutan.""Aku tidak takut!""Genggaman tanganmu di bahuku bilang hal lain," sela Don tenang.Selena tertegun. Dia baru menyadari bahwa tangan kirinya sedang mencengkeram erat lengan tegap Don tanpa sadar, mencari pegangan di tengah kekacauan dunia mafia yang baru saja merenggut kehidupan normalnya. Selena buru-buru menarik tangannya seolah baru saja menyentuh besi panas."Sudah selesai," ucap Selena dingin, bergeser mundur sejauh mungkin di atas tempat tidur. "Sekarang keluar dari kamarku."Don berbalik perlahan. Tanpa mengenakan kemeja, dada bidangnya terekspos jelas di bawah cahaya lampu kamar yang remang. Dia menatap Selena yang meringkuk di sudut kasur dengan kemeja miliknya yang kebesaran."Ini kamarku, Selena," ujar Don rendah, melipat kedua tangannya di dada. "Seluruh bangunan ini milikku. Termasuk wanita yang sedang memakai kemejaku.""Aku memakai ini karena kau tidak menyediakan baju yang layak!" semprot Selen

  • Penawar Sang Boss Mafia   16. Alasan yang Bagus

    "Satu. Dua. Tiga," bisik Selena pelan.PRANG! BRAK! Lampu besi yang berat itu menghantam tepat di kepala salah satu penyusup hingga pria itu tersungkur jatuh dari tangga. Tindakan itu memicu kepanikan pada penyusup kedua."Apa-apaan ini?!" teriak penyusup kedua sambil mendongak kaget.Gangguan sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Don Mackenzie. Tanpa perlu melihat ke atas, reaksi refleks Don bekerja secepat kilat. Dari balik meja bar dan melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah tangga.DOR! DOR! DOR!Kedua penyusup itu ambruk seketika di anak tangga, tewas sebelum sempat menarik pemicu granat.Don memutar tubuhnya cepat, matanya yang kelabu mendongak tajam ke arah balkon atas. Di sana, Selena berdiri tersengal-sengal dengan rambut berantakan dan pisau daging teracung gemetar di tangannya.Tatapan mata Don membeku seketika. Amarah dan rasa takjub bercampur menjadi satu di dalam iris matanya yang gelap. Pria itu mengumpat rendah, lalu berteriak keras menembus deru

  • Penawar Sang Boss Mafia   15. Lampu Besi

    Don menghela napas lega, merengkuh leher Selena dan menarik kepala gadis itu hingga dahi mereka bersentuhan. Napas Don yang memburu dan hangat menyapu wajah Selena, bercampur dengan aroma amis darah dan vanila-lavender yang membubung di antara mereka.“Aku benar-benar minta maaf. Semua ini gara-gara aku." Selena menunduk sambil meremas ujung kemejanya."Piccola, aku sudah berjanji akan melindungimu, apa pun yang terjadi."Selena mendongak.“Thanks, hanya jangan mati.”Tatapan Don melembut.“Tidak akan.”“Janji?”Don mengusap pelan rambut di sisi wajah Selena.“Janji.”Selena menatapnya beberapa saat, lalu berbisik,“Kalau begitu, biarkan aku mengobati lukamu.”Don tersenyum kecil hampir tak terlihat.“Kalau kau yang merawatku, mungkin aku akan sengaja terluka lagi.”Selena langsung menghantam lengan Don yang tidak terluka.“Jangan macam-macam.”Don tertawa pelan.“Baik.”Ia menatap Selena sekali lagi, kali ini dengan senyum yang begitu lembut hingga membuat jantung gadis itu berdegup

  • Penawar Sang Boss Mafia   14. Bodoh

    Usai memaki Don, Selena memalingkan wajahnya dengan cepat ke kanan, memejamkan mata erat-erat saat bibir Don dengan sengaja menyesah ceruk lehernya yang paling sensitif, membuat sengatan listrik yang dahsyat merambat sampai ke ujung kakinya. Sebuah erangan lirih hampir saja lolos dari bibir Selena.Jangan berdesir! Selena, jangan sampai dia tahu jantungmu mau melompat keluar! batin Selena panik setengah mati."Mulutmu menolak," bisik Don rendah, hembusan napas panasnya membuat bulu kuduk Selena berdiri tegak. "Tapi dadamu berdetak sekencang ini. Kau sangat menyukai fakta bahwa aku mempertaruhkan nyawaku untuk menutupi tubuhmu dari peluru, kan?"Aroma vanila-levender menguar dari tubuh Selena, mengisi indra penciuman Don dengan cara yang menggoda."Jangan percaya diri!" sergah Selena galak, matanya terbuka lebar menatap mata gelap Don yang dinaungi gairah berbahaya. "Kau yang menyeretku ke dalam perang konyol klanmu dan membuat tempat ini diserang!"Don tersenyum singkat, sebuah senyu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status