Home / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 11. Mau atau Tidak

Share

11. Mau atau Tidak

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-08-09 17:35:56

Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.

Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.

Mobil akhirnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   98. Jaga Sikapmu

    "Apa rencana kalian sore malam nanti?" tanya Kakek Vargas sambil meraih cangkir di depannya.Don melirik Selena sebentar lalu meraih tangan wanita itu."Aku ingin mengajak istriku ke Fashion Week.""Kedengarannya menarik."Tentu saja! Ini pengalaman pertama Selena dan aku akan memperkenalkannya pada jajaran direksi dan mitra bisnis."Baiklah. Semoga semua berjalan sesuai dengan rencana kalian."Selena dan Don mengangguk hampir bersamaan."Kalian sudah melakukan perjalanan jauh. Karena itu, Kakek sudah mempersiapkan kamar tamu utama di lantai satu. Silakan beristirahat sejenak sebelum kalian pergi."Tanpa banyak basa-basi lagi, Selena dan Don pamit untuk istirahat sebentar."Don, kira-kira, siapa wanita yang dimaksud Kakek Vargas tadi?" tanya Selena begitu mereka tiba di kamar."Siapa lagi si ular betina kalau bukan wanita yang pernah menghinamu."***Gemerlap lampu ballroom Grand Hotel Milan memantulkan kemewahan malam puncak Fashion Week. Pengusaha papan atas, diplomat, dan elit maf

  • Penawar Sang Boss Mafia   97. Restu Diam-Diam

    "Kamu yakin Kakek tidak sedang rencanakan hal yang aneh-aneh untuk kita?" tanya Selena ragu."Tenang aja, kalau sampai Kakek Tua itu celakakan kita berdua, maka dia terima akibatnya."Don menggenggam tangan Selena. Mereka berdua berjalan menelusuri perkebunan anggur di milik keluarga Mackenzie yang membentang bagaikan lukisan alam yang tak bertepi."Kau sering ke sini, Don?" tanya Selena sambil memandang kebun itu dengan penuh kekaguman."Waktu remaja, aku sering menghabiskan waktu di sini bersama beberapa teman. Itu pun hanya pas liburan musim panas."Beberapa pekerja kebun anggur mengangguk dan menyapa ramah begitu melihat Don dan Selena."Ayo, sebentar lagi kita tiba," ajak Don.Di tengah hamparan bukit hijau itu berdiri sebuah castello batu megah berusia ratusan tahun. Langkah kaki Don dan Selena bergema di sepanjang koridor luas yang dihiasi lukisan-lukisan leluhur klan Mackenzie.Di ujung ruangan kaca yang menghadap langsung ke kebun anggur, seorang pria tua bertubuh tegap duduk

  • Penawar Sang Boss Mafia   96. Anggur Kesukaan Nenek

    "Kau sudah siap, Piccola?" tanya Don begitu mendengar suara kapten jet pribadi yang mereka tumpangi akan mendarat dalam waktu lima belas menit lagi."Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Selena penasaran. Rupanya Don belum memberitahu kalau itu adalah perjalanan bulan madu mereka. Selena mengira kalau itu perjalanan bisnis biasa."Tenang aja, kamu pasti suka," goda Don sambil mengusap kepala Selena dengan lembut.Tak lama kemudian, mereka sudah berada di mobil yang mengantarkan mereka villa pribadi milik keluarga Mackenzie.Angin laut Pesisir Amalfi menyambut kedatangan Selena dan Don. Menyapu lembut gorden sutra di teras villa pribadi keluarga Mackenzie."Wanitaku, kamu ingin menikmati sore yang indah ini bersama suamimu?" bisik Don lembut."Sure! Aku tidak akan pernah menolak tawaran menggoda seperti itu," balas Selena."Ikut aku, akan kutunjukkan tempat paling indah di sekitar villa ini."Mereka berdua menuruti tangga kecil dan tiba di suatu tempat yang indah.Di bawah naungan

  • Penawar Sang Boss Mafia   95. Langkah Selanjutnya

    Beberapa wartawan mengangguk cepat, jemari mereka sibuk mencatat semua dusta yang diucapkan Julian. Selena hanya bisa geleng kepala melihat bagaimana mereka melahap berita palsu hanya untuk menaikan trafik di media mereka."Piccola, kau mau aku libas para wartawan bodoh itu begitu kita tiba di sana?" geram Don sambil tangannya menyentuh pistol otomatis yang terselip di pinggangnya. Di depan mereka, layar kecil terus menampilkan apa yang sedang terjadi.Belum sempat Selena menjawab, mobil Roll-Royce hitam mengkilap yang mereka tumpangi berhenti tepat di balik garis polisi. Pengawal bersetelan jas hitam dengan cepat membuka pintu.Don Mackenzie melangkah keluar lebih dulu, memancarkan aura dominasi yang mendinginkan suasana seketika. Namun, perhatian seluruh wartawan seketika teralih saat Don mengulurkan tangannya, membimbing Selena keluar dari mobil.Selena tampil sempurna tanpa cela. Dia mengenakan gaun terusan formal berwarna abu-abu gelap yang membalut tubuhnya dengan anggun, dipadu

  • Penawar Sang Boss Mafia   94. Kemampuan Akting

    "Wooww, tahan amarahmu, Bos Mafia," potong Selena tenang seraya berbalik menatap suaminya."Aku sudah tidak tahan melihat tindakan mereka," balas Don geram."Kalau kau pakai kekerasan sekarang, rumor yang disebar Eleanora malah kelihatan benar. Mereka mau memancingmu jadi monster di mata media.""Lalu kau mau biarkan pria brengsek itu membakar aset hadiah dari aku untukmu dengan begitu saja, Wanitaku?" desis Don, matanya menyipit tajam."Siapa bilang asetku yang terbakar?" Selena tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kecerdikan yang membuat Don menaikkan sebelah alisnya."Julian pikir dia membakar gudang berisi barang berharga klan. Pria bodoh itu tidak tahu kalau seluruh isi gudang Dermaga Tiga sudah kupindahkan tadi malam sebelum Pesta Gala dimulai."Don dan Marco tertegun sejenak."Kau memindahkannya?" ulang Don tak percaya."Dua tahun aku kerja di area dermaga itu, Don," sahut Selena santai seraya merapikan kerah jas Don yang dikenakannya."Bukannya kamu kerja di mini market?""T

  • Penawar Sang Boss Mafia   93. Kebakaran

    Don tidak menggerakkan lengan yang menutupi matanya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis. "Masih punya energi buat menggangguku, Piccola?""Tubuhku," Selena menghentikan kalimatnya untuk menelan ludah, mencoba mengumpulkan udara. "Rasanya seperti habis dilempar dari lantai tiga ballroom."Don terkekeh rendah. Suara baritonnya saat bangun tidur terdengar sangat berat dan pecah. Dia memindahkan tangannya dari mata, lalu memalingkan wajah menatap Selena yang matanya cuma terbuka sebelah."Salahmu sendiri," gumam Don datar. "Siapa yang tadi malam menyebut namaku jam tiga pagi?""Aku tidak memanggilmu, kau saja yang mengigau," protes Selena lambat, kelopak matanya menolak bekerja sama.Don mendesis pelan, lalu dengan sisa kekuatannya, dia mengulurkan tangan melingkari pinggang polos Selena. Pria itu menarik tubuh Selena yang pasrah mendekat, menyeretnya hingga kepala Selena terkulai tepat di atas dada bidangnya."Awas kalau mengeras lagi ..." gerutu Selena dengan wajah tertanam di ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status