Accueil / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 11. Mau atau Tidak

Partager

11. Mau atau Tidak

Auteur: MyMelody
last update Date de publication: 2026-08-09 17:35:56

Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.

Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.

Mobil akhirnya
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Penawar Sang Boss Mafia   114. Kebun Anggur

    Kebun AnggurSesuai dengan janji Don malam sebelum sidang klan, seluruh ponsel dan gawai miliknya telah dinonaktifkan total.Tidak ada kabar darurat dari klan, atau pun bayangan musuh, dan yang paling penting, tidak ada selusin pengawal berjas hitam yang membuntut di belakang mereka."Aku akan membuatmu menjadi wanita paling Bahagia hari ini, Selena," bisik Don mesra.Selena tersenyum lebar, dia sudah tidak sabar menunggu dari semalam.Siang itu, hamparan kebun anggur di bukit Tuscany membentang luas bagaikan karpet hijau bergaris keemasan di bawah tersiram cahaya matahari sore yang hangat.Angin sejuk berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan manisnya buah anggur yang siap dipetik."Aku suka tempat ini, Don, ucap Selena sambil melayangkan pandangannya sekeliling."Senang mendengarnya, Piccola."Di tengah-tengah bukit, di bawah naungan pohon zaitun tua yang rindang, Don membentangkan kain piknik tebal berwarna krem di atas rumput.Pria yang biasanya dibalut setelan jas mahal atau

  • Penawar Sang Boss Mafia   113. Bayi Kita

    Malam makin larut di castello Tuscany. Angin sejuk pegunungan berhembus lembut menerobos celah gorden teras kamar utama yang megah.Selena berdiri di teras berlantai batu, mengenakan jubah mandi sutra longgar yang melindunginya dari dingin udara malam.Di belakangnya, Don melangkah mendekat tanpa suara, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Selena dan menarik tubuh wanitanya rapat ke dalam dekapannya."Lagi mikir apa, Wanitaku?" bisik Don parau, menempelkan bibirnya di leher hangat Selena, menghirup aroma vanila lavender yang selalu berhasil menenangkan jiwanya.Selena menyandarkan kepalanya di dada tegap Don, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan kuat."Hmm, lagi mikir betapa cepatnya semuanya berubah, Don. Dari mini market yang pengap dan sempit, lalu lantai pelabuhan kotor saat mengangkut barang, sampai memegang berkas warisan klan terbesar di Eropa."Don terkekeh pelan, jemari besarnya menyusup ke bawah jubah sutra Selena, mengusap lembut perut rata istrinya yang me

  • Penawar Sang Boss Mafia   112. Tunjukkan pada Dunia

    Kakek Vargas tersenyum puas, matanya memancarkan rasa kagum yang tak bisa dia tutupi saat menatap istri Don. "Jawaban yang sangat tepat, Selena. Dulu aku ragu saat Don membawamu dari dermaga. Tapi hari ini, aku sadar bahwa Don tidak cuma memilih seorang istri, tapi juga pilar terkuat untuk masa depan klan ini."Don merangkulkan tangannya di belakang sandaran kursi Selena, jemarinya mengusap bahu istrinya dengan penuh sayang dan kebanggaan yang teramat sangat."Aku tidak pernah salah memilih, Kakek.""Ya, ya, pamerlah sesukamu," gurau Kakek Vargas seraya melambaikan tangan, meski raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah tuanya.Usai makan malam yang dipenuhi tawa dan obrolan hangat, Kakek Vargas memberi isyarat pada Marco yang berdiri setia di dekat pintu.Marco melangkah maju membawa sebuah map kulit berwarna hitam pekat dengan lambang segel lilin merah khas Patriarch.Kakek Vargas menerima map tersebut, lalu menggesernya ke tengah meja tepat di hadapan Don dan Selena."Apa ini, Kak

  • Penawar Sang Boss Mafia   111. Penerus Mackenzie

    Kakek Vargas menatap Don tajam selama beberapa detik. Hening merayapi ruang makan utama, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas kaku dan tegang.Suasana tegang mengendap, seolah satu kata salah dari Don bisa memicu ledakan amarah sang Patriarch.Tiba-tiba, tawa renyah dan bersahabat meledak dari dada Kakek Vargas. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lantai marmer dengan ujung tongkat kayunya keras-keras."Hahaha! Luar biasa! Bagus sekali, Don!" seru Kakek Vargas dengan mata berbinar bangga, sama sekali tidak tersinggung."Aku kira Kakek bakal marah," gumam Don nyaris tak terdengar karena suara Kakek Vargas yang menggelegar."Pria Mackenzie yang sejati tidak boleh percaya bahkan pada bayangannya sendiri jika itu menyangkut nyawa anak dan istrinya!"Don tidak mengendurkan garis rahangnya yang tegas, tetapi ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Aku cuma tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun, Kakek. Terutama setelah apa yang terjadi di Milan

  • Penawar Sang Boss Mafia   110. Bayi yang Tangguh

    "Kau terlambat dua puluh menit, Don," sambut Kakek Vargas dengan suara baritonnya yang bergema di aula batu."Penerbangan sedikit terlambat karena Paman Dante, Kakek," sahut Don datar seraya menuntun Selena mendekati sang Patriarch.Kakek Vargas mengabaikan Don, matanya langsung tertuju pada Selena. Pandangan tuanya melunak seketika saat menatap wanita muda itu."Bagaimana keadaannya, Selena? Anak di dalam perutmu tidak terganggu oleh suara helikopter bising ini, kan?"Selena menyunggingkan senyum anggun, membungkuk hormat."Cicit Kakek sangat tangguh seperti Papanya dan Kakeknya. Dia bahkan tertidur lelap sepanjang penerbangan."Tawa renyah Kakek Vargas meledak, memukul lantai batu dengan tongkatnya. "Luar biasa! Darah sejati Mackenzie memang tidak pernah takut pada letusan senjata!"Pria tua itu kemudian menoleh ke arah Marco yang baru saja menyeret Dante yang terikat rantai besi tebal ke tengah aula. Wajah Dante sudah bonyok dan berdarah-darah, tidak ada lagi sisa keangkuhan dari p

  • Penawar Sang Boss Mafia   109. Singgasana

    Deru mesin helikopter milik Don membelah kegelapan malam di atas langit Italia. Di dalam kabin yang luas dan terisolasi dari bising luar, lampu temaram berwarna keemasan menyinari interior kemewahan berbalut kulit.Don duduk di sofa kulit kabin, menarik Selena ke dalam pangkuannya. Pria itu menyelimuti tubuh Selena dengan mantel bulu tebal, melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya yang terbalut gaun santai."Kau baik-baik saja, Piccola?""Hmm," jawab Selana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Don, jemarinya sibuk mengetik instruksi di atas tablet pintar yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi klan."Minum air hangatmu," gumam Don dengan suara beratnya di telinga Selena, menyodorkan gelas termos kecil ke bibir istrinya.Selena tidak memalingkan mata dari layar tablet, tapi menurut dan menyesap air hangat itu pelan."Jalur penerbangan kita aman, Don. Helikopter pengawal membendung rute udara dari arah pelabuhan.""Matikan tablet itu, Selena," pangkas Don da

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status