/ Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 13. Monster Sinting

공유

13. Monster Sinting

작가: MyMelody
last update 게시일: 2026-08-10 07:42:38

Selena yang kebingungan, terpaksa mengikuti Don. Kemeja yang dia kenakan membuatnya terlihat seperti gadis kecil nakal yang dipaksa menurut agar tidak mendapat hukuman.

"Kamu mau ngapain?"

"Duduk di pinggir ranjang," ucap Don tegas, mengabaikan pertanyaan Selena. Matanya tertuju pada pergelangan tangan halus Selena yang memar kebiruan, bekas cengkeraman kasar pengawal Vargas saat kejadian di ruang makan tadi.

"Aku bisa obati sendiri! Lepaskan!" sentak Selena saat Don menarik pergelangan tangannya dan mendudukkannya paksa di tepi ranjang berseprai sutra.

"Diamlah jika kau tidak ingin kutiduri malam ini," bisik Don rendah. Ancaman dalam suaranya membuat Selena bungkam seketika, meski matanya tetap menyala menatap Don penuh amarah.

Don berlutut di satu kaki di hadapan Selena. Jemari besarnya yang kasar bergerak teramat lembut saat mengoleskan salep dingin ke kulit Selena yang memar. Kontras antara kekejaman Don saat mematahkan leher orang dan kelembutan jemarinya saat ini membuat dada Selena kembali bergejolak hebat.

Kenapa pria ini harus bersikap seperti ini?! Mengapa dia membuatku bingung?! batin Selena menjerit panik. Reaksi hormon tubuhnya yang  mendadak memicu aroma vanila-lavender merekah kembali di udara kamar.

Don menghentikan gerakan jemarinya sejenak, menghirup aroma itu dengan rahang menegang. Dia mendongak, menatap lurus ke dalam mata Selena dari jarak beberapa sentimeter.

"Kau membenciku, tapi aromamu bilang hal sebaliknya," bisik Don menggoda, menyunggingkan senyum tipis yang memabukkan. Membuat perut Selena bergejolak. Ada rasa menggelitik yang belum pernah dia rasakan selama ini.

"Itu karena aku cemas dan takut padamu, Bodoh!" sergah Selena cepat, berusaha menarik tangannya. "Jangan memutarbalikkan ..."

BOOM!

Sebuah ledakan dahsyat mendadak meretakkan keheningan malam. Getaran hebat menghantam safehouse milik Don, memecah keheningan yang ada di sekitarnya. Dentuman itu membuat lampu kristal di langit-langit bergoyang keras dan kaca jendela kamar hancur berkeping-keping.

"Aagghh!" Selena menjerit histeris, menyilangkan tangan menutupi kepalanya saat pecahan kaca berhamburan.

Serangan sebelum fajar. Kakek Vargas tidak menunggu sampai besok malam. Suara rentetan tembakan senjata otomatis bergema dari arah pelataran luar, disusul suara teriakan dan langkah kaki berderap naik ke lantai dua.

"Sialan! Kakek tua itu benar-benar marah besar kali ini," maki Don sambil melindungi Selena dari pecahan kaca.

"Tiarap!" teriak Don lantang. Tanpa keraguan sedikit pun, Don melompat ke atas tidur dan melingkupi tubuh Selena dengan tubuhnya yang kokoh, menutupi gadis itu sepenuhnya dari serpihan-serpihan kaca dan potensi peluru sasar.

"Don!" jerit Selena panik di bawah kungkungan dada bidang Don. Dia bisa merasakan detak jantung Don yang bergemuruh kencang di atas dadanya.

DOR! DOR! DOR!

Pintu kamar jebol dihantam tembakan dari luar. Tiga penyusup berpakaian serba hitam mendobrak masuk dengan senjata teracung. Don berbalik secepat kilat dalam posisi berlutut, mencabut senjata dari balik rompinya dan melepaskan tembakan yang tepat tanpa berkedip.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru, tiga nyawa melayang seketika. Namun, salah satu penyusup sempat melepaskan tembakan secara sembarang sebelum roboh.

SREK!

Sebuah peluru menggores bahu kiri Don, merobek kain kemeja putihnya dan memercikkan darah segar yang langsung menetes ke atas biru tua yang dipakai Selena.

Gadis itu membelalakkan mata, tangannya refleks mencengkeram bahu Don yang berlumuran darah.

“Don! Bahumu …”

“Aku tidak apa-apa,” desis Don. Rahang pria itu mengeras. Sedikit pun ia tidak meringis. Seolah luka di bahunya bukan sesuatu yang perlu dipedulikan.

Sebaliknya, hal pertama yang dilakukannya adalah menangkup wajah Selena dengan kedua tangannya yang ternoda darah. Tatapannya menyapu wajah gadis itu, turun ke leher, bahu, lalu kedua lengannya, memeriksa setiap jengkal tubuhnya dengan pandangan liar.

“Kau terluka?”

Selena menggeleng cepat dengan napas tertahan.

“Tidak.”

“Ada bagian tubuhmu yang tergores?”

“Don, aku bilang aku tidak ...”

“Selena.”

Suara Don merendah. Hanya satu kata, tetapi cukup untuk membuat Selena terdiam.

Tatapan pria itu masih bergerak, seolah ia tidak akan percaya sebelum memastikan sendiri. Jemarinya kemudian berhenti di sisi leher Selena, mengusap noda merah yang menempel di kulitnya.

“Ini darah siapa?”

Selena menelan ludah dengan susah payah. Tubuh Don melingkupinya dengan kokoh.

“Itu darahmu.”

Barulah Don mengembuskan napas lega. Anehnya, justru Selena yang mulai merasa dadanya sesak.

Don tidak berpindah satu milimeter pun. Meski bahunya berdarah dan kepulan asap mesiu memenuhi kamar, pria itu tetap berada di atas Selena, menatap bibir Selena yang gemetar dengan jarak yang sangat dekat.

“Kau ...” Selena menatapnya tak percaya. “Kau yang tertembak, tapi malah memeriksa aku?”

Don hanya terdiam. Matanya menatap Selena cemas.

"Lepaskan aku, Don! Kau berdarah!" bentak Selena, suaranya serak melengking, mencoba mengabaikan aroma darah dan woody yang mendominasi indra penciumannya. "Peluru itu hampir membolongi kepalamu, dan kau malah berbaring di atasku?!"

Don terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar tepat di atas dada Selena.

"Kenapa? Kau khawatir padaku, Piccola?"

"Khawatir kepalamu!" sentak Selena, tangannya menahan dada Don agar tidak menyentuh dadanya dengan sekuat tenaga. "Dengar ya. Aku cuma tidak mau tertimpa mayatmu kalau kau mati mendadak!"

"Mati?" Don menundukkan kepalanya sedikit lagi, mengesekkan ujung hidungnya yang hangat di sepanjang garis rahang Selena yang tegang. "Aku tidak akan mati semudah itu sebelum merasakan bibir galakmu ini memohon padaku."

"Dalam mimpimu, Monster Sinting!" sentak Selena sambil menatap Don dengan mata melotot.

"Really?" tantang Don dengan senyum miring yang menggoda.

Bersambung ...

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Penawar Sang Boss Mafia   13. Monster Sinting

    Selena yang kebingungan, terpaksa mengikuti Don. Kemeja yang dia kenakan membuatnya terlihat seperti gadis kecil nakal yang dipaksa menurut agar tidak mendapat hukuman."Kamu mau ngapain?""Duduk di pinggir ranjang," ucap Don tegas, mengabaikan pertanyaan Selena. Matanya tertuju pada pergelangan tangan halus Selena yang memar kebiruan, bekas cengkeraman kasar pengawal Vargas saat kejadian di ruang makan tadi."Aku bisa obati sendiri! Lepaskan!" sentak Selena saat Don menarik pergelangan tangannya dan mendudukkannya paksa di tepi ranjang berseprai sutra."Diamlah jika kau tidak ingin kutiduri malam ini," bisik Don rendah. Ancaman dalam suaranya membuat Selena bungkam seketika, meski matanya tetap menyala menatap Don penuh amarah.Don berlutut di satu kaki di hadapan Selena. Jemari besarnya yang kasar bergerak teramat lembut saat mengoleskan salep dingin ke kulit Selena yang memar. Kontras antara kekejaman Don saat mematahkan leher orang dan kelembutan jemarinya saat ini membuat dada Se

  • Penawar Sang Boss Mafia   12. Kemeja Biru Tua

    Don tertawa pelan, membiarkan dorongan Selena menggeser tubuhnya satu langkah ke belakang. Tatapan matanya yang gelap mengunci wanita mungil milikmya"Sampai sejauh mana kamu akan mendorongku, Piccola?" ejek Don. Dia dengan sengaja menangkap tangan Selena dan mengecupnya dengan bibir yang basah.Selana menahan napas, ciuman itu mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagi Selena, ciuman itu begitu menggoda dan membangunkan saraf-saraf dalam tubuhnya."Pelayan di kamar atas sudah menyiapkan semua kebutuhanmu," ujar Don santai. sambil merapikan lengan kemejanya. Dia tak sadar kalau sudah membuat Selena hampir gila."Apa aku harus melakukan semua perintahmu?" protes Selena menutupi gejolak aneh dari bagian bawah perutnya. "Tentu saja! Dan aku tidak suka dibantah. Pergilah! Aku ada urusan di bawah."Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Selena berbalik dan setengah berlari menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Dia harus segera kabur dari hadapan pria itu sebelum ikutan sinting sepertiny

  • Penawar Sang Boss Mafia   11. Mau atau Tidak

    Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.Mobil akhirnya berhenti di pelataran safehouse beton yang terisolasi di tengah hutan. Don melepas sabuk pengamannya, melangkah keluar, lalu membukakan pintu untuk Selena."Turunlah," perintah Don singkat, mengulurkan tangannya.Selena menepis tangan itu dengan kasar hingga menimbulkan suara tepukan nyaring. "Jangan sentuh aku! Aku punya kaki sendiri!"Don tersenyum miring, menarik tangannya santai. "Galak sekali. Padahal tadi di meja makan kau memeluk leherku erat sekali, Selena.""Itu karena aku hampir jatuh

  • Penawar Sang Boss Mafia   10. Kehadiranku

    Hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Don menerobos sebelum pengawal Vargas sempat menembak, Don sudah mencengkeram rahang pria itu, memutarnya dengan sudut mematikan hingga bunyi remukan tulang bergema mengerikan, lalu menyarangkan dua timah panas tepat di dadanya dari jarak dekat.DOR! DOR!Darah segar terpercik ke atas gaun sutra merah marun Selena. Sedangkan tubuh pengawal itu roboh tak bernyawa ke atas marmer.Selena terperanjat dengan napas tertahan saat melihat kematian di depan matanya secara langsung."Apa yang sudah kamu lakukan?" ucapnya bingung.Lututnya lemas seketika. Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai, sepasang lengan kokoh berotot merengkuh pinggangnya dengan cepat.Don menarik Selena rapat ke dada bidangnya. Detak jantung pria itu bergemuruh kencang, bukan karena panik, melainkan karena kemurkaan yang memuncak."Tuan, apa kau perlu memanggil dokter?" tanya Marco panik.Bukannya menjawan, Don malah menikmati aroma vanila-lavender yang menguar dari leher Sele

  • Penawar Sang Boss Mafia   9. Kubakar Jadi Abu

    "Ingat! Apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkannya sendirian.""Baik, Tuan Muda," jawab Marco patuh.Don berbalik, melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju aula utama. Setiap pijakan langkah sepatu kulitnya bergema, menyongsong bahaya yang menunggunya di luar.Di atas meja makan, Selena merosotkan bahunya, napasnya memburu cepat. Reaksi kimia dalam tubuhnya, perpaduan antara lonjakan adrenalin akibat bentakan Vargas dan kedekatan fisiknya dengan Don, membuat aroma minyak parfum racikannya kian tercium di sekitar ruang makan.Selena menatap Marco yang berdiri tegap menjaga ambang pintu, bersiap menghajar siapa saja yang berani menyentuh wanita milik Tuannya."Siapa yang berteriak di luar itu? Apa dia benar-benar kakek dari Don?"Marco menatap Selena dari sudut matanya, suaranya tetap formal dan tanpa emosi."Itu Tuan Vargas Mackenzie. Pria yang mendirikan kekaisaran ini dari darah dan tulang. Beliau yang mengatur perjodohan Tuan Muda Don dengan putri tunggal keluarga De

  • Penawar Sang Boss Mafia   8. Batas Kesabaran

    Seringai tipis yang sarat akan ketertarikan terukir di bibir Don. Dia menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung, lalu menyusul Selena dan menarikkan kursi berukir klasik untuk gadis itu. "Makanlah," ucap Don dengan suara bariton yang teratur, duduk di ujung meja yang tak jauh dari Selena. "Kau belum menyentuh makanan sejak kemarin." Selena hanya menatap piring porselen berisi potongan daging premium dan saus kismis di hadapannya dengan ekspresi mual. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Lepaskan aku, maka aku bisa makan dengan tenang di tempatku." Don menghentikan gerakan jemarinya yang hendak meraih gelas anggur. Tatapan matanya mendadak meredup. Kemudahan yang coba dia berikan baru saja dihantam keras oleh benteng pertahanan Selena. "Aku memberimu makanan terbaik di kota ini, Selena," suara Don merendah, menekan setiap kata. "Jangan menguji kesabaranku." "Aku tidak pernah memintamu untuk memberiku makanan." Selena bersedekap, menatap lurus ke dalam manik mata Don yang taja

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status