Semua yang ada di sana terkejut, terutama Altair yang dengan segera menegur, “Apa yang kamu lakukan, Zia?!” “Nggak usah dibuka, Pa!” “Maksudmu?” Bibir Zia bergerak tanpa kata, terlihat tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Di tengah keterkejutan itu, Sari memberanikan diri untuk bicara. “Ma-maaf sebelumnya,” kata Sari dengan hati-hati. “Walaupun tanpa nama, tapi seingat saya, kotak kado ini dari Non Kaira, Pak Altair.” Kedua mata Zia membola semakin lebar kala ia menoleh pada Kaira. “Dari Mbak Kaira?!” sebutnya tak percaya. Kaira menghela dalam napasnya dari samping Mahesa. Ia mengangguk dan dengan senyum penuh kekecewaan berujar, “Iya, itu hadiah dariku buat Papa,” akunya. “Tapi kenapa kamu lempar, Zi?” “I-itu karena—” “Papa bilang aku juga bagian dari keluarga ini, jadi aku mau kasih hadiah ke beliau,” selanya. “Maaf, Pa ….” Kaira memandang Altair, menunduk dengan sopan. “Saya pikir Papa akan senang dengan hadiah itu, tapi kayaknya … itu nggak layak ada di antara hadia
Last Updated : 2026-09-15 Read more