ANMELDEN1 bab lagi yaaw 🤭🤭 SIAP BUAT PEMBALASAN YANG MANIS? 🤪
Pagi ini, Zia sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya dan memandang Madhava yang sedang mengenakan kemeja, beberapa jarak di hadapannya.“Apa Mas Dhava beneran nggak ada waktu buat lebih lama di rumah?” tanya Zia.“Kamu ‘kan tahu kalau kerjaanku itu emang lebih banyak nggak di rumahnya, Zia,” balas pria itu. “Aku harus temani tamu dari Jepang hari ini. Kali ini nggak sebulan kayak yang sebelumnya kok. Paling cuma semingguan.”Zia mendesah tidak puas. Ia bangun dari duduknya dan menghampiri Madhava, membantunya mengenakan dasi.“Nanti pas pulang, Mas abaikan aku lagi nggak?” tanyanya, mengangkat pandangan pada Madhava. “Kenapa sih nggak mau nyentuh aku? Apa aku nggak cantik lagi? Mas nggak ada yang lain ‘kan di luar sana?”Madhava hanya tersenyum saat menepuk kepalanya.“Ngomong apa sih kamu?” balasnya. “Maaf, yang kemarin itu aku capek banget rasanya. Jadi maunya pas di rumah itu ya beneran istirahat.”Kedua bahu Zia jatuh mendengar itu. Ia selangkah mundur saat mengatakan, “U
Tubuh Kaira meremang dengan hanya mendengar panggilan Kaisar lewat baritonnya yang seksi itu. Suaranya menyapu tengkuk Kaira saat rengkuhannya seperti akan membuat Kaira hilang di dalam dekapannya.Kaira mendorong napas pelan sebelum menoleh pada Kaisar.Saat itu ia lakukan, pria itu mengecup bibirnya sebelum berbisik, “Dia jujur soal apa yang terjadi di dalam kamar hotel itu.”“Apa?” tanya Kaira. “Aku nggak mau dengar kalau itu Mas Kaisar sama dia yang lagi—”“Nggak terjadi apapun di antara kami, Kaira,” selanya. “Naya keluar setelah dia ketakutan. Dia bilang kalau aku akan bunuh dia seandainya dia menyentuhku.”Kaira mengerjapkan matanya, alisnya berkerut, menatap Kaisar mencari kesungguhan.“Aku lupa aku bilang begitu. Tapi ada bukti rekaman CCTV-nya kalau Naya emang ada di lobi dari malam sampai pagi.” Kaisar melanjutkan, tenangnya nada bicara pria itu membuat Kaira yakin bahwa ia telah menguasai keadaan sepenuhnya.“Terus?” kejarnya.“Kamu bilang kalau lihat kami pulang barengan,
Tak ada yang bicara setelah api yang membakar mereka itu padam. Kaira masih meringkuk di dada bidang Kaisar.Denyutan di area femininnya membekas, pergumulan panasnya dengan Kaisar yang baru saja terjadi telah menguras tenaganya hingga ke titik nol.Bayangan dirinya yang baru saja berpindah ke atas Kaisar dan menjadi yang lebih dominan hampir di sepanjang percintaan membuatnya mencapai klimaks berulang.Erangan tertahan Kaisar saat Kaira menaik-turunkan pinggulnya masih terngiang.Dirinya berpasrah saat pria itu tersulut gairah yang lebih panas, membuat Kaira melenguh di bawah kungkungannya setelah ia mencubit dan mempermainkan tonjolan merah muda di dada bidang Kaisar.Jika Kaira tak meminta agar Kaisar segera menyelesaikannya, mungkin sekarang masih berlanjut.Beberapa detik berlalu hingga Kaira akhirnya menengadahkan kepala, menyentuh dagu Kaisar kala mengatakan, “Lapar ….”Mendengarnya, Kaisar tertawa lirih.“Tenagamu habis?”“Iya.”“Aku udah pesan makanan tadi.” Kaisar melirik ja
‘Sayang?’ ulang Kaira dalam hati, merasakan jantungnya yang seperti akan melompat keluar kala mendengar Kaisar memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Kaira mengerjap, sekilas menyentuh pipinya yang panas saat mengatakan, “A-aku ganti dulu sebentar.” Dari kejauhan, Kaisar hanya mengangguk, membiarkan Kaira menghilang di balik pintu kaca. Beberapa menit berlalu, Kaira keluar dengan kimono satin yang membungkus tubuhnya. Di balik lilitan kain yang longgar itu, ia telah mengenakan sepasang halter bikini yang menurutnya teramat minim dan … berani. Ia melangkah menuju tepian kolam renang yang airnya tampak jernih dan beriak tenang, mendapati Kaisar yang tengah menyandarkan kedua lengan kekarnya di pembatas kolam, menatap kedatangannya dengan irisnya yang meredup. “Buka kimononya,” pinta Kaisar saat Kaira telah cukup dekat dengannya. Dadanya berdebar kencang saat tali di pinggangnya itu ia uraikan. Kimononya ia tanggalkan dan diletakkannya di atas kursi malas sebelum ia memasuki kolam.
Kaisar baru saja memasukkan ponselnya ke balik saku jas saat Kaira tidak membaca pesannya. Tapi sepertinya, ia tahu alasan kenapa gadis itu tidak membalas. Itu karena ia sedang mencoba membebaskan dirinya dari Mahesa yang tengah menyeretnya hingga pontang-panting menjauhi lobi. Lagi-lagi … Kaisar melihat Mahesa itu sangat kasar. Makin lama rasanya ia semakin muak dengan keponakannya itu. Bagaimana bisa ada anak turun Maharendra yang kelakuannya sangat kurang ajar sepertinya? Jika Kaisar tidak muncul dan melihat keduanya, entah apa yang akan Mahesa lakukan pada Kaira. Pemuda itu tampak membeku, perlahan melepas cengkeramannya dari Kaira saat Kaisar memindainya. “Ma-mau pulang, Mas?” sapa Mahesa dengan canggung. Kaisar tak menjawab, hanya alisnya yang berkerut penuh keengganan. “Aku permisi dulu,” kata Mahesa dengan cepat, menunduk dan bergegas pergi dari sana. “Kamu baik-baik aja?” Kaisar selangkah mendekat, mengikis jarak dan membuat Kaira tampak berdiri kikuk, barangkali karen
Kaira sedang ada di kubikelnya saat Rani yang duduk di meja kerja di seberangnya mengisyaratkan agar ia memeriksa pesannya. Kaira menggeser kursor di layar monitornya dan menjumpai pesan dari Rani yang menyeruak. [Lihat pengumuman di web, Bu Kaira. Selamat ya ….] Saat Kaira lakukan itu, dadanya berdebar penuh rasa senang. Karena akhirnya … usaha yang ia lakukan selama menjadi ‘budak’ Mahesa itu telah membuahkan hasil. Sebab di sana, perusahaan telah mengumumkan. [ANNOUNCEMENT] PROMOSI JABATAN STRATEGIS DEPARTEMEN PEMASARAN MAHA GROUP Yth. Seluruh Staf Maha Group, Merujuk pada hasil Evaluasi Kinerja Tahunan dan Audit Kompetensi Khusus yang telah dilaksanakan oleh jajaran Direksi serta Departemen Human Resources, bersama ini manajemen perusahaan dengan bangga mengumumkan promosi jabatan untuk: Nama: Kaira Arunaya Jabatan Sebelumnya: Asisten Manajer Pemasaran (Assistant Marketing Manager) Jabatan Baru: Senior Marketing Manager Tanggal Efektif: 1 Oktober. …. Berbagai ucapan s







