Setelah Kaira meninggalkan ruang keluarga, situasi belum bisa dikatakan kondusif sebab Altair malah semakin marah. Meja kaca yang ada di sana hancur berantakan setelah dilempar Altair dengan menggunakan vas. Semua orang membeku, tak ada yang berani bergerak bahkan saat kepingan kaca itu berhamburan ke segala arah. Altair berkacak pinggang, menata napasnya yang naik turun tak beraturan sebelum menyasar Mahesa yang kedua telinganya memerah. “Mau berapa banyak lagi kamu bikin aku kecewa, Hesa?!” hardiknya. “Aku berharap banyak padamu tapi kayaknya kamu cuma meremehkanku!” Karena Mahesa tak menunjukkan tanda akan menjawab, Altair menghadapkan tubuhnya pada anak lelakinya itu. “Aku bertanya padamu, Hesa! Kamu nggak punya mulut? Jawab!” Mahesa menghela napas dalam, “S-semua ini gara-gara Kaira, Pa! A-aku nggak salah—” “Kalau kamu nggak salah, nggak mungkin Kaira pergi darimu,” sela Altair. “Dia benar, manusia juga ada batasnya. Aku muak sama yang kamu lakuin. Beresin semua ini,” geram
Last Updated : 2026-09-22 Read more