‘Apa Naya kabur?’ batin Davina. Ia melangkah melewati Sari, membuka lemari dan memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa ucapan wanita paruh baya itu benar. Kosong, tak ada satu barang pun yang tertinggal di sana. Baik itu pakaian atau pun koper kusam yang beberapa waktu lalu dilihatnya. Lacinya pun juga. Semuanya raib tak berjejak. Davina mengembuskan napasnya dengan berat, menoleh pada Sari seraya bertanya, “Sejak kapan Naya nggak kelihatan, Bi?” “Saya juga kurang tahu, Non Davina,” jawab Sari. “Tapi sejak kemarin Bi Nani udah nggak antar makanan ke kamar ini.” “Kenapa nggak bilang ke aku, Bi?!” sentak Davina, suaranya meninggi sementara Sari menunduk, memilih untuk tidak memperburuk suasana hati Davina yang mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pikir, dengan tidak adanya semua barang Naya yang tertinggal, sudah jelas ia melarikan diri darinya. “Kurang ajar!” umpatnya. Ia meninggalkan kamar itu dengan langkah cepat, kembali ke kamar utama di sayap kanan dan mengambil ponseln
Zuletzt aktualisiert : 2026-09-21 Mehr lesen