Pantulan senyum di cermin rias perpustakaan tampak begitu rapi, namun terasa sepenuhnya palsu. Nala memoleskan sedikit pelembab bibir, berusaha menyamarkan rona pucat di wajahnya sebelum Devan kembali dari meja pustakawan. Setiap kali berada di dekat Devan, Nala harus memastikan penampilannya tertata, tutur katanya teratur, dan emosinya terkendali sempurna. Di mata dunia, dia adalah mahasiswi paling beruntung. Logikanya terus berbisik bahwa Devan adalah definisi pria idaman—terpelajar, memikat, di restui oleh kedua orang tuanya, dan menawarkan masa depan yang terarah tanpa cela. Tetapi mengapa dadanya selalu terasa sehampa ini? "Nala, ini berkas jurnal yang sudah kuterjemahkan," suara Devan mengalun tenang saat pria itu kembali ke meja mereka. Devan menarik kursi di samping Nala, meletakkan salinan dokumen dengan presisi yang kaku. "Kau tinggal membaca bagian kesimpulan untuk materi diskusi nanti sore." Nala memaksakan senyum tipisnya. "Terima kasih banyak, Devan. Kau selalu m
Last Updated : 2026-09-02 Read more