Kekosongan yang ditinggalkan Axel di dalam jiwa Nala berubah menjadi celah berbahaya yang dimanfaatkan Devan secara sempurna. Bayangan penolakan dari keluarga Axel dan pemandangan Siska yang mengusap kening pria itu di ruang perawatan terus menghantui hari-hari Nala. Dalam kondisi mental yang rapuh, terasing, dan kehilangan arah, Nala tak lagi memiliki energi untuk melawan.Di sebuah kafe dekat Fakultas Hukum, Devan duduk berseberangan dengan Nala. Jemari pria itu dengan tenang menggeser sebuah agenda tebal dan cangkir teh chamomile hangat ke hadapan Nala."Minumlah dulu, Nala. Kau tampak sangat pucat," tutur Devan dengan nada suara bariton yang lembut dan penuh perhatian.Nala menatap cangkir teh itu tanpa minat, suaranya parau dan lirih. "Devan... aku tidak fokus belajar belakangan ini. Tugas esai kita—""Sudah kubereskan sebagian besar drafnya," potong Devan cepat, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. "Kau tidak perlu memikirkan hal-hal berat sekarang. Mulai minggu ini, a
آخر تحديث : 2026-08-30 اقرأ المزيد