"Hoek-hoek-hoek!" Larisa memegang perutnya, "Adrian, aku tiba-tiba mual sekali," keluhnya membuat ruang makan yang tadinya hening berubah riuh, sendok perak di tangannya terlepas, berdenting keras setelah menghantam piring porselen.Adrian yang sedang membaca berkas di sampingnya sontak menoleh, bangkit berdiri, ia panik sembari memegang bahu Larisa. "Kenapa, Sa? Makanannya tidak enak ya? Kamu tidak suka menunya?""Bau sup iga ini." Larisa menutupi mulutnya dengan saputangan sutra, dadanya kempas-kempis berlebihan, lalu dia kembali merasakan mual. "Aku tidak tahan baunya, Adrian, Kepalaku juga mendadak berputar."Maya yang duduk di ujung meja, menggeser cangkir tehnya pelan. Penglihatannya yang jernih merekam dengan jelas sudut mata Larisa yang melirik Adrian, tampak kepura-puraan yang sengja di buat oleh Larisa, menarik perhatian Adrian agar iba kepadanya.Maya muak melihat drama murah tersebut. Rasa mual asli yang sejak tadi memilin perutnya sendiri terpaksa ditahan erat-erat. Maya
Last Updated : 2026-09-05 Read more