Pagi itu, kaca patri setinggi empat meter di lantai lima puluh delapan Wijaya Empire Global membiaskan langit London yang mendung. Di balik meja kayu mahoni, Maya duduk tegap. Jari-jari tangan terfokus pada lembar-lembar audit Zurich di hadapannya. Tak berselang lama pintu ruang kerjanya pun bergeser halus. Tanpa mendongak, dia pun membuka suara. "Bukankah aku sudah bilang pada sekretarisku, aku tidak menerima kunjungan tanpa jadwal," kata Maya dingin, jemarinya membalik halaman berkas. "Ini bukan soal kunjungan bisnis, Maya," suara Devan terdengar tegap dari ambang pintu. Maya akhirnya mendongak. Tatapannya membeku seketika. Devan berdiri di sana, dan tepat di sampingnya, sosok Lavina berdiri canggung dalam balutan mantel wol cokelat muda yang tampak kebesaran. "Apa-apaan ini, Devan?" marah Maya. Penanya terhenti di atas kertas, mata pun menatap nyalang lelaki itu. "Lavina bosan di rumah Richmond," ujar Devan santai, seolah hal itu sangat masuk akal. Pria itu menuntun Lavina me
Last Updated : 2026-10-12 Read more