Sebuah bayangan tegap melangkah keluar dari pintu darurat di belakang Maya. Devan berjalan tanpa suara, menggenggam sebuah tablet kecil yang layarnya menyala terang."Kau baik-baik saja, Maya?" ucap Devan seraya meremas bahu Maya protektif."Aku tidak apa-apa, Devan," sahut Maya, suaranya langsung berubah jernih dan tajam. "Bagaimana dengan rekaman itu?"Devan menggeser layar tabletnya, menyodorkan tampilan video definisi tinggi ke hadapan Maya. "Kamera tersembunyi berukuran mikron yang kupasang di kancing baju medis Pak Wijaya merekam semuanya secara sempurna," beber Devan, mata tajamnya berkilat puas. "Wajah Hendra, ucapan ancamannya soal pembunuhan bersama Ratna, hingga adegan saat dia menyuntikkan zat itu ke selang infus."Maya menatap layar tablet itu dengan binar mata yang dingin. "Itu sudah cukup untuk menghancurkan karirnya.""Bukan cuma karirnya," timpal Devan, jemarinya mengusap layar untuk memutar klip video kedua yang tersimpan otomatis di peladen cloud miliknya. "Lihat re
Last Updated : 2026-09-11 Read more