ANMELDENSuasana di dalam jet pribadi keluarga Wijaya terasa mencekam. Suara deru mesin pesawat yang membelah awan di atas Samudra Atlantik tak sanggup mengalahkan gemuruh amarah di dada Devan. Di sampingnya, Dion fokus menatap layar laptop yang menampilkan peta jaringan bisnis keluarga Handoko di Inggris dan berkas-berkas hukum mendiang ibu Maya."Devan, peretas kita baru saja melacak jalur dokumen klaim itu," ujar Dion seraya memutar posisi laptopnya ke arah Devan. "Ternyata Clara tidak bergerak sendirian. Dia memanfaatkan seorang pengacara tua bekas rekan bisnis klan Handoko di London untuk memalsukan sertifikat kepemilikan lukisan dan galeri ibu Maya."Devan melirik layar itu dengan iris mata yang menajam dingin. Tangannya yang menopang dagu mengetat kaku. "Ketik surat instruksi untuk tim hukum kita di London. Aku tidak mau sekadar memenangkan gugatan ini, Dion. Aku mau memiskinkan seluruh pihak yang terlibat dalam pemalsuan ini hingga mereka tidak punya sisa uang bahkan hanya untuk membay
Gelapnya malam di London tak menyurutkan dendam yang membara di dada Clara. Namun, di Jakarta, Devan tidak membiarkan bayang-bayang ancaman dari seberang lautan merusak kebahagiaan yang baru saja ia bangun kembali bersama Maya.Keesokan paginya, suasana mansion Wijaya kembali dihiasi aroma masakan hangat dan gelak tawa Arka. Devan yang sengaja mengambil libur kerja penuh duduk mendampingi Maya di sofa studio kaca belakang. Tangan tegapnya tak pernah lepas dari perut membuncit sang istri, dengan penuh kelembutan membimbing kuas di tangan Maya untuk menggoreskan warna-warna cerah di atas kanvas baru."Mas Devan," bisik Maya seraya menyandarkan kepalanya di bahu tegap suaminya. "Perasaanku tenang sekali hari ini. Terima kasih ya, sudah selalu ada dan menjagaku."Devan menyunggingkan senyum hangat, mendaratkan kecupan lembut di pelipis Maya. "Sudah kewajibanku, Sayang. Selama aku bernapas, tidak akan ada satu orang pun yang bisa melukai atau membuatmu merasa cemas lagi."Namun, kedamaian
Di balik dinding kaca studio yang berembun pagi, sepucuk foto manipulasi yang tergeletak di atas meja lukis seharusnya sanggup menghancurkan pondasi rumah tangga mana pun—namun pagi itu, taktik kotor Clara justru menjadi bahan bakarnya sendiri untuk hangus terbakar.Rian bergerak kilat atas perintah tegas Devan dan Dion. Sebelum matahari terbit sepenuhnya di langit Jakarta, bukti rekaman CCTV asli dari area parkir restoran privat—yang memperlihatkan betapa dinginnya Devan menepis Clara—beserta jejak digital pengiriman pesan provokasi anonim tersebut sudah mendarat di meja penyidik Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Tak hanya itu, Devan dan Dion merapatkan barisan, memutus dan membekukan seluruh akses investasi klan Handoko di jaringan bisnis utama.Sementara badai hukum dan finansial menghantam keluarga Clara di luar sana, suasana di dalam mansion justru diselimuti kehangatan yang utuh. Maya duduk tenang di sofa ruang tengah seraya menikmati teh chamomile hangat, mengelus le
"Nona Clara, Tuan Devan sedang tidak bisa menerima tamu tanpa janji temu," suara Rian terdengar dingin dan bariton di depan pintu ruang kerja pribadi Devan."Saya ini putri tunggal Tuan Handoko, investor utama konsorsium Eropa!" sahut wanita bergaun merah ketat itu memotong tegas, melangkah dengan high heels-nya yang berdenting keras di atas lantai marmer. "Saya hanya ingin memberikan berkas revisi investasi ini langsung kepada Devan!"Di dalam ruangan, Devan berdiri di balik jendela kaca raksasa dengan rahang mengeras kaku. Ia tak perlu membalikkan badan untuk tahu siapa yang sedang berulah di luar. Insiden kemarin hampir saja menghancurkan rasa percaya Maya dan membuat kandungan istrinya berisiko. Menghadapi wanita penuh intrik seperti Clara membuat tingkat kesabaran Devan berada di titik nadir.Pintu jati berukir itu terbuka paksa. Clara melangkah masuk dengan senyum manis yang dipaksa-paksakan, mengabaikan Rian yang siap menghalanginya."Devan... soal insiden kemarin, saya sungguh
Aroma parfum bunga yang lembut memenuhi bagian dalam mobil saat Maya duduk manis di kursi belakang. Di sampingnya, dua kotak tempat makan berbahan stainless steel tersusun rapi di dalam tas kain elegan. Sejak pagi, Maya sibuk di dapur bersama koki rumah untuk menyiapkan menu favorit Devan—rendang daging tanpa lemak dan sup iga hangat."Nona Maya yakin tidak mau memberi tahu Tuan Devan dulu?" tanya Rian memantau dari kaca spion tengah. "Biasanya Tuan punya jadwal rapat yang padat di jam makan siang."Maya menyunggingkan senyum tipis, merapikan gaun hamil berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan anggun. "Nggak usah, Rian. Aku mau kasih kejutan. Lagipula, kemarin dia bilang kangen makan masakan rumah."Begitu tiba di gedung pencakar langit Wijaya Empire, kehadiran Maya langsung disambut bungkukan hormat dari para staf security dan resepsionis. Maya melangkah anggun menyusuri lorong khusus eksekutif di lantai teratas. Sekretaris Devan yang bertugas di depan ruangan rapat mendadak panik
"Devan, lihat ini!" pekik Maya dengan suara bergetar.Devan yang sedang membenarkan kancing manset kemejanya di depan cermin tinggi kamar utama seketika berbalik. Pandangannya langsung tertuju pada Maya yang berdiri kaku di samping tempat tidur. Istrinya itu mengenakan gaun malam sutra favoritnya, namun bagian ritsleting di punggungnya tersangkut di pertengahan—sama sekali tak mau naik.Devan tersenyum lembut, melangkah mendekat untuk membantu. "Kenapa, Sayang? Biar aku yang tarik—""Jangan disentuh!" tepuk Maya pada tangan Devan, matanya mendadak berkaca-kaca. "Gaun ini kekecilan! Pipiku makin gembil, lenganku makin besar, dan berat badanku naik hampir tiga kilo dalam dua minggu!"Devan tertegun. Pria itu mengapit kedua pipi Maya yang merona merah, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya dengan tatapan yang luar biasa hangat. "Maya, kamu sedang mengandung anak kita. wajar kalau berat badanmu naik. Bagi aku, kamu tetap wanita paling cantik di dunia.""Bohong!" potong Maya parau, emo







