Share

Ramuan Rumput Fatimah

Author: Maidina Asifa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-05 20:06:14

"Hoek-hoek-hoek!" Larisa memegang perutnya, "Adrian, aku tiba-tiba mual sekali," keluhnya membuat ruang makan yang tadinya hening berubah riuh, sendok perak di tangannya terlepas, berdenting keras setelah menghantam piring porselen.

Adrian yang sedang membaca berkas di sampingnya sontak menoleh, bangkit berdiri, ia panik sembari memegang bahu Larisa. "Kenapa, Sa? Makanannya tidak enak ya? Kamu tidak suka menunya?"

"Bau sup iga ini." Larisa menutupi mulutnya dengan saputangan sutra, dadanya kemp
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Teka Teki Masa Lalu

    "Bicara, Papa! Jangan cuma diam melihat pecahan cangkir itu!"Suara Maya membelah keheningan taman belakang Klinik St. Mary. Tangannya yang memegang lembaran kertas wasiat berguncang hebat.Pak Wijaya tidak menjawab. Matanya terpaku pada pecahan keramik putih yang berserakan di atas lantai batu. Napasnya terdengar berat juga tersengal, membuat dadanya kembang kempis tidak teratur."Pak Wijaya, ada apa?" Devan berlutut di samping kursi roda, menyentuh pergelangan tangan pria tua itu. "Denyut nadi Pak Wijaya terlalu cepat. Saya akan segera panggilkan dokter.""Jangan, Devan! Jangan panggil siapa-siapa!" cegah Pak Wijaya dengan suara parau. Tangannya yang keriput meraih lengan kemeja Devan, mencengkeramnya erat. "Maya... tutuplah pintu taman sekarang," suruhnya.Maya menatap ayahnya tanpa berkedip. Ia menggeser kereta bayi Arka ke samping bangkunya, merapatkan selimut tebal sang putra, lalu melangkah ke ambang pintu kaca taman."Sudah terkunci," kata Maya seraya kembali berdiri tegap di

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Tangis Pertama

    "Gunakan darahku! Golongan darahku sama dengannya!"Jeritan Adrian memotong dengung panjang alat pemantau jantung yang melengking kaku. Pria itu mencengkeram lengan petugas medis, menatap botol sampel darah kosong di atas meja dengan sepasang mata yang menyala panik."Sir, kondisi Anda belum pulih! Anda baru saja mengalami keracunan gas!" bentak petugas medis kedua seraya menahan tubuh Adrian."Masa bodoh dengan kondisiku!" jerit Adrian histeris, menyingsingkan lengan kemejanya secara kasar dan menyodorkan lipatan sikunya ke hadapan petugas medis. "Ambil darahku sekarang! Maya mengalami pendarahan hebat dan anakku butuh transfusi langsung! Lakukan!"Petugas medis pertama menatap Devan yang mengangguk cepat, memberikan sinyal persetujuan. Tanpa membuang waktu, mereka yang telah sampai di rumah sakit tepat waktu pun melakukan serangkaian penanganan.Jarum transfusi berukuran besar ditancapkan kasar ke pembuluh darah Adrian.Cairan merah pekat mengalir deras menembus selang transparan, m

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Bayang-Bayang Dendam

    "Bunuh aku, Hendra, maka kau juga akan mati malam ini!" Jeritan Maya berbaur dengan bunyi deru angin badai yang menggetarkan kaca jendela apartemen. Wanita itu mencondongkan lehernya ke depan, sengaja menekan kulit mulusnya ke mata pisau bedah yang dingin. Darah segar menetes tipis, membasahi ujung kerah gaun hamilnya. Dokter Hendra terperanjat. Tangannya yang memiting leher Maya bergoyang pelan. "Kau gila, Maya! Kau pikir aku takut membunuhmu?!" "Kau takut, Hendra," pangkas Maya seraya meringis menahan mulas hebat di bagian bawah perutnya. Tangannya meremas pinggiran meja dapur kayu. "Lihat tanganmu. Jemarimu gemetar, Hendra. Kau bukan lagi dokter, kau cuma buronan panik yang tidak punya arah." Brak! Suara hantaman keras di pintu depan membuat engsel kayu berderit nyaring. "Hendra! Lepaskan istriku!" jerit Adrian dari balik pintu kayu, suaranya parau dan pecah oleh rasa sakit yang memburu. Dok Hendra menyeringai miring, matanya yang liar bertukar kilat menatap ke arah pi

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Bayangan Di KotabHujan

    "Nona Maya, taksi Anda sudah menunggu di luar."Suara hangat landlady apartemennya memecah denting hujan yang mengguyur kawasan Kensington, London. Maya berdiri di tepi jendela kaca lantai dua, menatap jalanan batu yang membiaskan cahaya lampu jalanan sore.Enam bulan telah berlalu sejak malam kelam di Jakarta.Maya mengusap perutnya yang kini kian membuncit penuh. Di dalam rahimnya, kehidupan baru berdenyut semakin kuat. Kehidupan yang tenang di London berhasil menyembuhkan sisa-sisa trauma peracunan dan pengkhianatan masa lalu.Maya meraih mantel tebalnya, menyambar tas tangan di atas meja seraya melangkah turun menuju taksi hitam yang akan membawanya ke Klinik Kesehatan St. Mary untuk pemeriksaan rutin usia kehamilan tiga puluh dua minggu.Suasana ruang tunggu Klinik St. Mary tampak hangat dan tenang. Aroma minyak esensial lavender memenuhi udara, menyamarkan aroma antiseptik rumah sakit."Kondisi janin sangat sehat, Maya. Detak jantungnya kuat dan posisinya sudah sempurna," ujar D

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Lembar Baru Di Ujung Senja

    "Bagas! Bawa pemotong pemadam ke sini sekarang!"Jeritan Devan menggema liar di koridor lantai dua puluh yang pengap oleh asap. Tangannya yang berdarah akibat pecahan kaca panel terus menekan tombol pintas manual pada papan sirkuit luar. Layar monitor darurat di genggamannya berkedip merah mematikan."Devan! Mundur dari sana! Pintu itu dialiri listrik tegangan tinggi!" warning Dokter Bagas yang baru saja menerobos dari pintu tangga darurat bersama dua petugas pemadam kebakaran.Dua petugas pemadam menyisipkan rahang baja pemotong hidrolik ke dalam celah sempit pintu brankas. Mesin meraung keras. Tekanan minyak ratusan bar memaksa pintu baja seberat lima ton itu terangkat lambat-lambat.Kreeek...Udara luar yang penuh asap namun kaya oksigen menyembur masuk secara mendadak."Maya!"Devan berlutut di atas lantai besi yang panas, merengkuh kepala Maya dan mengusap wajah wanita itu yang pucat pasi dengan tangannya yang gemetar hebat. Ia menempelkan masker oksigen portable ke hidung dan mu

  • Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai   Pertahanan Di Dalam Brangkas

    "Devan, berkas Ibu!" jerit Maya.Tanpa memedulikan hawa panas yang membakar kulitnya, Maya menerobos lidah api, melompat masuk ke dalam ruang brankas untuk menyambar kotak besi hitam berisi dokumen asli almarhumah ibunya."Maya, jangan! Asapnya terlalu pekat!" jerit Adrian dengan suara parau yang pecah oleh penyesalan.Kesadaran dan insting melindungi dalam diri Adrian meledak seketika. Pria itu menyambar jaket mewahnya yang tergeletak di lantai, membasahinya dengan sisa air dari botol mineral, lalu melompat menembus kobaran api menyusul Maya ke dalam brankas."Maya, keluar! Biarkan berkas itu! Anak kita lebih penting!" teriak Adrian panik, matanya merah berair oleh asap dan air mata penyesalan. Pria itu mendekap bahu Maya dari belakang, mencoba menarik wanita itu keluar dari kepungan api."Lepaskan aku, Adrian! Berkas ini peninggalan Ibuku!" hardik Maya seraya mengerahkan tenaganya untuk meremas gagang kotak besi tersebut."Aku yang salah, Maya! Aku yang berdosa!" ratap Adrian hister

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status