"Bunuh aku, Hendra, maka kau juga akan mati malam ini!" Jeritan Maya berbaur dengan bunyi deru angin badai yang menggetarkan kaca jendela apartemen. Wanita itu mencondongkan lehernya ke depan, sengaja menekan kulit mulusnya ke mata pisau bedah yang dingin. Darah segar menetes tipis, membasahi ujung kerah gaun hamilnya. Dokter Hendra terperanjat. Tangannya yang memiting leher Maya bergoyang pelan. "Kau gila, Maya! Kau pikir aku takut membunuhmu?!" "Kau takut, Hendra," pangkas Maya seraya meringis menahan mulas hebat di bagian bawah perutnya. Tangannya meremas pinggiran meja dapur kayu. "Lihat tanganmu. Jemarimu gemetar, Hendra. Kau bukan lagi dokter, kau cuma buronan panik yang tidak punya arah." Brak! Suara hantaman keras di pintu depan membuat engsel kayu berderit nyaring. "Hendra! Lepaskan istriku!" jerit Adrian dari balik pintu kayu, suaranya parau dan pecah oleh rasa sakit yang memburu. Dok Hendra menyeringai miring, matanya yang liar bertukar kilat menatap ke arah pi
Last Updated : 2026-09-19 Read more