LOGIN"Pesawat Devan belum lepas landas," kata Adrian. Suaranya memecah keheningan kamar klinik yang mendadak terasa begitu sempit.Maya menyambar selembar kertas berdarah di atas meja kaca. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali—ritme konstan yang kembali dengan dorongan adrenalin yang jauh lebih liar."Sarang yang dimaksud di pesan itu bukan Amerika," bisik Maya, matanya membaca baris demi baris ancaman tertulis dari pengirim misterius itu. "Itu bandara penerbangan privat di Farnborough.""Siapa nama yang tertera di stempel bawah?" desak Adrian. Ia mencoba merosot turun dari ranjang medis, namun ringisan kencang tertahan di tenggorokannya saat luka tembak di bahunya tertarik keras."Julian Blackwood," jawab Maya dingin. "Dia tidak pernah benar-benar bangkrut. Dia cuma memancing Devan keluar dari lingkaran perlindungan kita agar Devan bergerak sendiri tanpa tim taktis.""Devan mengira dia pergi karena rasa cemburu," Adrian menatap Maya dengan mata membelalak. "Dia tidak
"Kapan kau akan memberitahu Devan bahwa kau tidak pernah mencintaiku?" tanya Adrian.Maya berhenti tepat di ambang pintu kamar perawatan privat lantai tiga klinik Kensington. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha kini tertahan kaku di balik saku mantel hitamnya. Aroma antiseptik pekat bercampur dinginnya pendingin udara ruangan menusuk hidung."Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada Devan," sahut Maya.Adrian bersandar kaku di atas tempat tidur medis. Selang infus menempel di punggung tangan kirinya, sementara bahu kanannya terbebat kain kassa tebal yang merembes merah tipis. Matanya yang redup menatap lurus ke arah Maya."Devan mengemas barang-barangnya di Richmond satu jam lalu," kata Adrian. Suaranya serak, rendah, dan kaku. "Dia pikir panikmu semalam adalah bukti bahwa aku masih memegang hatimu."Maya tidak menjawab. Ia melangkah mendekati meja kecil di samping ranjang, meletakkan cangkir kopi panas yang uapnya membumbung tipis."Kau membiarkannya berpikir begitu
"Bawa dia ke klinik privat di Kensington," kata Maya. Suaranya gemetar, nada yang belum pernah Devan dengar selama empat tahun mereka menguasai London.Maya tidak menunggu respons Devan. Tangannya cemas menekan luka di bahu Adrian, membiarkan gaun sutra tebalnya bernoda darah pekat yang masih hangat. Jari telunjuk tangan kirinya tidak lagi mengetuk paha dalam irama konstan, melainkan gemetar hebat sewaktu menyapu keringat dingin di dahi Adrian.Devan berdiri kaku di ambang pintu kamar yang remang. Matanya tertancap pada jemari Maya yang sibuk mengusap luka Adrian, jemari yang sama yang tak pernah goyah saat menandatangani pengalihan saham bernilai jutaan poundsterling."Tim medis sipil sudah di jalan, Maya," ujar Devan. Suaranya datar, tetapi ada jeda tipis di antara kalimatnya. "Lebih aman jika dia dibawa dengan ambulans rahasia ke pelabuhan Felixstowe seperti rencana awal.""Tidak!" potong Maya cepat, kepalanya mendongak menatap Devan dengan tatapan panik. "Luka tembak ini menembus
"Bawa Arka keluar dari rumah sekarang," kata Maya.Maya tidak menunggu jawaban Devan. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan yang tajam. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menembus keheningan koridor Blackwood Tower sewaktu ia membalikkan badan.Devan merampas ponsel enkripsinya dari saku mantel, jarinya menggeser panel panggilan cepat tanpa melepaskan pandangan dari Adrian. "Sinyal kamera pengawas di Richmond mati sepuluh menit lalu."Adrian melangkah dua tindak mendekati pintu keluar. Langkah kaki kirinya yang tumpat menyisakan gesekan halus di atas marmer. "Hendarto menyewa tim eksekutor dari Marseille. Pria yang memimpin mereka memakai nama samaran Gaspard.""Gaspard?" Devan menegang. Matanya membelalak kaku. "Pria itu pembunuh bayaran yang membakar gudang cadangan di Singapura lima tahun lalu.""Dia sudah di dalam hunian Richmond sejak pukul delapan malam," desis Adrian. "Dia tidak mencari uang atau saham. Hendarto memerintahkannya mengh
"Jangan terlambat, Nyonya Maya," kata Julian Blackwood. Suaranya bergema halus dari pengerat suara di ruang rapat lantai empat puluh Blackwood Tower.Maya tidak menjawab. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk paha luar tiga kali dengan ritme konstan. Karpet tebal bernuansa biru dongker menyerap bunyi langkah kakinya saat ia melangkah mendekati meja kaca berbentuk oval di tengah ruangan."Dua menit lagi pukul sembilan," sahut Devan dari sampingnya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, mantel hitamnya yang masih basah oleh gerimis London mengalirkan tetesan air kecil ke atas marmer.Julian berdiri dari kursi kulitnya. Jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap membungkus tubuh jangkungnya yang tegap. Sepasang mata birunya yang tajam menatap lurus ke arah Maya, tanpa sedikit pun keramahan."Aku mengagumi ketepatan waktumu," ujar Julian sambil menggeser sebuah dokumen bersampul kulit merah ke tengah meja. "Terutama di hari pertama setelah kematian ayah biologismu."Maya tidak menyentuh dokume
"Haryo Wibowo meninggal dunia satu jam lalu di klinik Zurich," kata Devan.Maya tertegun. Jari telunjuk tangan kirinya yang biasa mengetuk paha dengan irama cepat mendadak terhenti kaku."Meninggal?" suara Maya tercekat, tenggorokannya mendadak terasa amat kering."Gagal organ," Devan merapikan mantel hitamnya yang lembap oleh gerimis London. "Tim medis di sana mengonfirmasi fisiknya menyerah. Tanpa konspirasi, tanpa sabotase. Haryo sudah tidak ada, Maya."Maya berbalik membelakangi Devan, menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang membias rintik hujan malam. Sepersekian detik, bayangan pria tua berpipi cekung yang terbaring lemah di ruang perawatan Swiss melintas di benaknya. Pria yang selama ini menjadi sumber dari segala benang kusut dalam hidupnya, pria yang menyumbang separuh darah di dalam nadinya."Dia ayah biologisku, Devan," bisik Maya. Suaranya serak, bergetar tipis meski ia mencoba menahannya mati-matian. "Selurus apa pun garis hukum memisahkan kami, pria itu tetap ayahk







